"Di dunia yang bising oleh kepura-puraan, kesunyian adalah satu-satunya kejujuran yang tersisa."
Elias adalah seorang pria yang telah mematikan rasanya. Baginya, manusia hanyalah kumpulan ego yang dibungkus pakaian rapi, dan interaksi sosial tidak lebih dari transaksi kemunafikan. Setelah dikhianati secara brutal oleh orang-orang terdekat di masa lalunya, Elias memilih untuk mengasingkan diri di sebuah apartemen sempit di jantung Jakarta—sebuah kota yang ia anggap sebagai laboratorium kegagalan moral.
Ia hidup di balik layar monitor, berkomunikasi hanya melalui barisan kode, dan menjadikan dinding beton sebagai benteng pertahanan dari "invasi" kemanusiaan. Namun, hidup yang ia rancang dengan presisi matematis itu mulai retak ketika dua gangguan muncul tanpa diundang:
Pertama, Lana, seorang anak kecil tetangga yang membawa kepolosan yang mengusik sinismenya. Kedua, Maya, seorang klien misterius di dunia digital yang tampak mampu melihat kegelapan di balik kode-kode yang Elias tulis.
Saat sebuah tragedi terjadi di balik dinding apartemennya, Elias dipaksa memilih: tetap aman dalam kebenciannya yang steril, atau membuka pintu dan membiarkan polusi emosi manusia menginfeksi dunianya sekali lagi.
"Gema di Ruang Hampa" adalah sebuah perjalanan psikologis yang puitis sekaligus kelam tentang isolasi, trauma, dan pencarian makna di tengah dunia yang terasa kian asing. Sebuah narasi tentang seseorang yang membenci kehidupan, namun dipaksa oleh keadaan untuk kembali bernapas di dalamnya.
Seorang pria yang menyerahkan matanya demi cinta, hanya untuk menemukan kebenaran yang pahit dalam kegelapan. Ia bangkit dari sisa-sisa kehancurannya untuk menjadi penguasa nasibnya sendiri, membuktikan bahwa melihat dunia tak selalu membutuhkan mata, namun membutuhkan jiwa yang merdeka.