Cerita Oleh Author Tampan
author-avatar

Author Tampan

TENTANGquote
An author, a lover, traveler, pencinta semua genre sastra, dan pimpinan sekaligus member satu-satunya: the one and only, \'sekte garis keras Indomie goreng dan kuah pake telor beserta irisan cabe rawit radikal plus bahan apa pun dalam kulkas\', dan ... tentunya, \'predator bubur ayam diaduk campur kerupuk no debate\'^^ Yuk! Ikuti terus! :) Support semua karya saya; follow, love❤, like, comment, dan jangan lupa subscribe👍 Thank you^^
bc
SUAMI BODOH (Kukira Cupu, Ternyata Suhu)
Diperbarui pada Jan 14, 2022, 07:10
Yang gue suka dari suami gue itu, dia orangnya jujur. Baik. Ga sombong. Lugu. Polos. Saking polosnya, malem pertama pasca resepsi, sukses ga jadi. Bukannya saling memaksimalkan fungsi alat reproduksi, lah, dia malah tidor! Pules! Molor duluan! Bangke! Nah, tuh dia, baru aja, pulang kerja. Dari kamar tidur ini aja, udah kedengeran dia lagi markir kendaraan kesayangannya. Vespa butut keluaran tahun 70-an, yang bikin kepala pening 'en kuping gue auto pengeng gegara knalpot cemprengnya. Gue beloman lahir dan mungkin mama-papa alias bokap nyokap gue masih LDR-an, belom ada smartphone, boro-boro ada gugel, fesbuk, we'a, twitter, ucub, instegream, android, ipin segala. Masih surat-suratan, ngabis-ngabisin kertas, 'ntu motor jadul yang mesinnya bandel, udah ada. Udah lahir duluan. Tercipta ke dunia begitu indah. Cailaah .... Katanya sih, 'tu vespa peninggalan almarhum engkongnya. Kudu dijaga dan dirawat sampai akhir hayat. Wadidaw! Heran. Padahal, gue tau banget isi rekening suami gue itu, lumayan gendut, kek timbunan lemak 'ni perut. Sebenarnya sih, kalo mao, dia bisa aja beli alfamaret, eh, Alphard. Yaa ... walaupun laki gue gak setajir Kiano anaknya Baim Wong, ataupun sekaya Rafathar yang sejak brojol udah auto 'sultan' bergelimang harta emak bapaknya, bisnis empang ama tanah warisan berupa kebun karet, tebu, en kelapa sawit seluas 500 hektar, masih cukuplah buat ngempanin anak lele, eh, gue, maksudnya. Hehe .... Prank 'ni malem udah gue niatin dari kapan tau. Udah gue siapin dari jauh hari. Mumpung rumah lagi sepi. Anak-anak lagi pada malem mingguan, nginep di pondok mertua indah, dan laki gue baru aja, pulang kerja. Mantauin kambing-kambing bandot ama ternak sapi limosin kesayangannya, yang lokasinya di ujung berung, alias jauh beud, tempat orang-orang ngebuang anak jin. Hiiiyy .... . . . Penasaran, yekan ...? ^^ Jangan lewatkan dan ikutin terus keseruannya! Buruan follow, love❤, like, comment, dan subscribe! Salam Author Tampan^^ Thank you^^
like
bc
MUKBANG DAGING MANTAN
Diperbarui pada Jan 13, 2022, 05:05
Dua bulan sebelum hari pernikahan kami, seperti disambar petir di siang bolong, aku mendengar kabar bahwa Daniel--lelaki yang memiliki hatiku selama ini--terlibat dalam jaringan international human trafficking atau perdagangan manusia internasional. Dari rekan yang kerap mengabariku, Chloe, kerap memberi nasehat agar mengurungkan niatku untuk melangkah ke jenjang pernikahan bersama Daniel. Awalnya, aku tak percaya begitu saja dengan kabar tersebut. Akan tetapi, kian hari bukti-bukti dengan indikasi yang mengarah ke hal tersebut kian menjadi-jadi. Tak heran, Daniel sering gonta-ganti mobil sport mewah keluaran terbaru. Lambo hingga Mercedez seri paling anyar kerap mewarnai hari-hariku berkencan dengannya. Belakangan baru kutahu jikalau ayah Daniel adalah seorang bos mafia. Oh, shit! What should I do? Sempat kutenggelam dalam pilu yang ambigu. Terlebih, pernah di akhir pekan kala Daniel mengajakku ke sebuah pantai nan indah, di mana lusinan camar lalu lalang, menceburkan diri menyelami laut kemudian memagut ikan, tak sengaja kumembaca pesan WA-nya: [Bos, 49 orang gadis cantik telah siap di dok. Isi container masih bisa diisi dengan satu wanita lagi. Kita genapkan saja jadi 50 orang perempuan, bagaimana? Peti kemas di jetty ini sudah siap untuk diangkut sebelum malam tiba. Apakah ada rekomendasi dari Bos? Kami menunggu intruksi selanjutnya. Terima kasih.] Kutersentak, selaras dengan jantung yang berdebar kencang. Sontak membuatku bergidik ngeri. Merinding ketakutan. Usai membaca pesan singkat tersebut di smartphone-nya yang tergeletak di atas meja bundar cafe, persis di samping cerutu yang masih menyala di asbak, tak lama berselang, Daniel kembali hadir dengan manis senyuman dan secangkir Espresso serta Latte Americano pesananku. Setelah Daniel membaca ponselnya, sorot matanya nampak memicing. Ia hisap dalam-dalam cerutu Kuba di ujung jemarinya, lalu mengepulkan asap tebal yang menari-nari melukis udara. . . . Malapetaka mulai menghantuiku. Misteri apa yang mencekam kehidupanku ke depan? Jangan lewatkan kisah yang tak biasa ini. Nikmati petualangan & temukan jawabannya!
like