Setiap malam,
Setiap gelap menjadi jalan
Mengusir penat yang seari pagi mengikuti,
Duduk ditempat terbuka menikmati secangkir kopi dingin
Sambil diterpah angin semilir.
Bekesah di bawah langit tak berawan,
Hanya gelap, tapi aku suka,
Menikmati semua kebisingan sunyi,
Mengawasi aksi dari kursi paling pinggir.
Telah habis kopi dua gelas,
Imajinasipun telah habis kuperas,
Malam semakin larut
Mungkin saatnya untuk pulang
Assalamualaikum Wr. Wb dengan rahmat allah yang maha esa penulis mempersembahkan sebuah novel sederhana berjudul Bekesah Secangkir Kopi Susu, cerita ini adalah fiktif belaka atau hanya sekedar buah dari imajinasi penulis saja. Karena penulis ingin mencoba untuk mengangkat sebuah kisah romansa yang sederhana namun juga mengangkat latar belakang di mana tempat dalam kisah ini adalah tempat yang paling sering penulis kunjungi.
Sebagai ucapan terima kasih penulis kepada tempat dan kota yang berada di Kalimantan Utara khususnya Kota Tarakan, dimana tempat-tempat ini menjadi spot bagi penulis untuk mencari inspirasi dari setiap tulisan yang penulis buat. Bahkan ada beberapa tempat yang penulis gunakan mananya sebagai judul puisi.
Novel ini bukanlah sesuatu yang luar biasa hanya saja penulis bermaksud untuk mendedikasikan novel ini pada tempat serta orang-orang yang turut menyumbang inspirasi selama ini dalam setiap tulisan yang telah penulis terbitkan dalam bentuk antopologi puisi maupun cerpen.
Tidak lupa pula terimakasih penulis ucapkan kepada segenap relawan KJN (komunitas jendela nusantara) Kalimantan utara yang telah memberikan saya jalan untuk memberanikan diri dalam menulis serta mempertemukan saya pada penulis hebat yang ada di kalimantan utara.
Bekesah
Setiap malam,
Setiap gelap menjadi jalan
Mengusir penat yang seari pagi mengikuti,
Duduk ditempat terbuka menikmati secangkir kopi dingin
Sambil diterpah angin semilir.
Bekesah di bawah langit tak berawan,
Hanya gelap, tapi aku suka,
Menikmati semua kebisingan sunyi,
Mengawasi aksi dari kursi paling pinggir.
Telah habis kopi dua gelas,
Imajinasipun telah habis kuperas,
Malam semakin larut
Mungkin saatnya untuk pulang