Cerita Oleh Pertikor
author-avatar

Pertikor

bc
Bulan
Diperbarui pada Jan 26, 2025, 07:37
Hampir 13 tahun sudah Kenzo pergi. Pergi untuk selamanya, tak akan pernah kembali, tak akan pernah ada yang membela dirinya, tak ada pelindung bagi dirinya lagi seperti dulu. Gadis itu sendiri, setiap saat dia selalu kesepian. Seakan hanya rasa sakitlah yang setiap hari menemaninya. Sekarang Bulan hanya bisa berangan saja tentang semuanya dan akibat kejadian tersagis 13 tahun yang lalu ... selama ini Bulan yang harus menanggung kebencian dari Winda.Tidak! Sungguh, Bulan tidak membenci Kenzo akan hal itu. Bulan tidak menyalahkan orang lain. Bahkan Bulan membenci dirinya sendiri, menyalahkan dirinya sendiri. Karena ia tahu ini semua karena kesalahannya. Andai waktu itu Kenzo tidak menyelamatkannya, andai Kenzo membiarkan dirinya saja yang terkapar dengan darah membanjiri di sekitar tubuhnya, andai dirinya saja yang mati. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Kenzo masih hidup dan Winda pun tidak bersikap demikian padanya. Tapi, semuanya sudah terlambat, Bulan hanya bisa berandai saja selama ini.Bulan selalu bertanya kepada Tuhan ... mengapa tidak dirinya saja yang pergi, kenapa harus Kenzo? Jika dia yang akhirnya akan dibenci, dibenci Mama. Percayalah itu lebih menyakitkan dari apapun. Tapi, apakah seorang Ibu bisa benar-benar membenci darah dagingnya sendiri?Bulan pun selalu meminta di dalam setiap doanya kepada Tuhan ... Tuhan, ia ingin merasakan kasih sayang seorang Winda kembali. Ia ingin merasakan dekapan hangat dari Winda, kecupan manis yang Winda berikan, elusan lembut, candaan yang wanita itu lontarkan, sikap hangat yang dulu wanita itu tunjukan pada Bulan kecil. Bulan menginginkan semua itu. Akan tetapi, balik lagi, itu semua hanya sebuah angan-angan belaka yang entah kapan Tuhan akan mengabulkannya atau bahkan Tuhan tidak akan pernah mengabulkan permintaan itu?_____________Hidupnya semakin hancur setelah mengenal kata cinta. Lelaki yang Bulan cintai lebih memprioritaskan perempuan lain, yaitu sahabat cowok itu sendiri, seakan bukan dirinya yang notabenenya kekasihnya akan tetapi, sahabat lelaki itu. Bulan hanya bisa tersenyum miris mendapatkan semua rasa sakit yang menghujam relung hatinya. Ya, rasa sakit di hatinya sudah menjadi makanan sehari-hari baginya."Gue gak ada perasaan sedikit pun sama Lisa. Lo jangan marah kaya gini, gue anggap Lisa cuma sekedar teman, gak lebih.""Tapi, Van—""Dan satu lagi. Lisa itu di Jakarta gak punya keluarga Bul, orangtuanya di luar Negri, gak kayak lo atau gue yang masih ada orang tua disini. Lo tau, Lisa cuma punya gue disini."Percakapan dirinya bersama Devan beberapa waktu lalu, terus terngiang di telinganya. Lalu mengapa Bulan tidak memutuskan hubungan itu saja? Kenapa malah tatap bertahan? Entahlah, mungkin karena Bulan selalu berpikir ... biarkan semua orang menyakitinya, biarkan orang lain menambah penderitaannya, sebab selama ini ia sudah terlanjur menerima rasa sakit itu. Namun, jujur dari situlah Bulan perlahan membenci kata CINTA. Gadis itu membenci fase di mana remaja telah tiba. Karena di fase itulah gadis itu merasakan semua yang tidak pernah ia harapkan sama sekali.Hanya penghianat, kebencian, penderitaan yang terus menerus Bulan dapatkan setelah kepergian Kenzo.Apakah Bulan memang tidak bisa merasakan kebahagiaan sedikit pun? Setidaknya Bulan ingin merasakan kebahagiaan walaupun itu dari orang lain. Tapi, nyatanya Tuhan dan semesta memang tidak membiarkan akan hal itu. Akan tetapi, Bulan masih menunggu kapan saatnya kebahagiaan itu menghampiri dirinya. Bulan setia menunggu, Tuhan. Ya, walaupun hanya sesaat.
like