Cerita Oleh USER4375145315
author-avatar

USER4375145315

bc
Sosok Manusia Yang Hina
Diperbarui pada Jan 5, 2022, 00:22
Terpapar pada jiwa yang ada, bahkan ada yang berkata kita bisa menentukan pintu yang mana bisa kita buka., tapi kita tidak bisa menentukan jendela mana yang bisa kita lihat. Remuk dan tidak sakit namun perih, mereka tidak tahu jalan mana yang aku pilih jadi seseorang. Hari ini dan sekarang, berjuang dan berusaha bahkan terus diperolok untuk menjadi orang goblok. Mengadu ? tak ada tempat untuk itu. Jalan ini masih kusisir untuk menjadi seseorang yang lebih berarti dan aku masih hanya ingin menjadi dia dan mereka. Aku banyak melihat dari sebuah olokan yang rampu dan sekarang sudah diumur 21 tahun untuk mengatakan aku sudah dewasa. Hingga dalam pemikiranku selalu ada hal yang ingin terucap. Kata-kata ini sudah hilang makna saat engkau bersalaman saling menyapa dan mengenal lalu melupakan. Tak diduga bahwa banyak rasa untuk dikenang lalu dilupakan. Sekarang kata-kata itu sudah mudah dilupakan, hilang makna dan tak berkasih. Namun, siapa peduli karena memang tidak ada juga yang ingin mengasihi. Menjadi sosok pengemis meminta sebuah belas kasihan. Lalu setelah berlangsung lama kau tak perlu digunakan, melainkan dihempaskan. Banyak rasa yang ingin kubagi meskipun aku tak tau bakal siapa yang mau mendengar semua ini. Hanya saja banyak sekali yang ingin kuceritakan untuk sesekali melepaskan bebanku sendiri untuk mendengar dan mencerna perkataan orang lain. Aku hanya orang yang mengagungkan diri sendiri dan jadi candaan bagi mereka memerangi. Sehingga acap kali bagi mereka menjadikan bahan untuk memperolok dan mempertajam, sehingga tak tau timbul dari permusuhan. Hanya kasih dan kasih yang ingin kurasa, sehingga aku diaanggap dan dihargai seperti manusia. Seperti kata meraka aku bukan siapa-siapa dan aku memang bukan siapa-siapa. Karena selalu terfikir sedari kecil tentang kesadaran diri sendiri pada kenyataa hidup yang pahit dan menanam retorika yang panjang. Lalu menyisahkan nostalgia yang luka dan dalam. Siapa yang akan menjadi dan jadi siapa aku nantinya, belas kasih, rasa dan hangat yang terlalu lama, aku berharap. Masih ada angan ? masih ada harapan ? tiap rasa dan jiwa muncul aku hanya berkata demikian. Bahkan dari ibu rasa dan hangatpun sulit kudapatkan, aku hanya ingin tertawa bersama, cerita dan menangis dipelukannya. Namun beliau bukan tipikal yang menyedihkan atau suka bersedih dalam hadapan, tegas dan teguh pada pendirian. Sehingga pada saat jumpa semua dibenak nan melihat berkata kasar lagi kejam, namun bagiku tidak beliau tetap lembut untuk memikirkan masa dari kami untuk tua nanti. Jujur waktu itu aku masih dibangku sekolah dasar, waktu dimana aku memang butuh dan aku sangat rapuh. Menggigil dan berhalu akan datangnya ia dipelukan, aku hanya dapat menangis bahkan sampai aku terbanngun masih memanggilnya. Mereka bilang aku tak sadar diri karena itu aku tak pernah diingini. Meskipun aku berkata disini sangat rindu sebuah hal yang tak kutahu. Aku masih berjuang, berlari dengan cemoohan, waktu itu aku tak menerima keadaan ini namun bukan berarti juga aku menyerah untuk ini. Karena untuk pekerjaan ini bukan berarti hina, hanya saja dalam hati kecil aku berkata “aku hina”. Pagi hari di bangku kelas dibalik jendela, mereka menatap penuh kepolosan dan ku tahu mereka masih bocah dan belum tahu apa-apa. Aku masih hidup dan tetap tabah hanya saja lontaran kata mereka penuh makna. Hingga kali aku masih berkata aku hina. Sebenarnya hanya kata sederhana, hingga dari kesederhanaan itu menjadi lebih dekat dan melekat. Seperti itulah kiranya hinaan ini, yang membuat aku semakin terlelap hingga melekat pada kata yang mendoktrin diriku sendiri. Untuk menjadi pejuang itu tidak mudah dan aku masih bersujud pada Allah mengadu dan bersabda dalam doa menghaturkan kata-kata yang bermakna, aku sulit menerima. Pada kesadaran, aku masih tampak mereka yang sama sekali memang tak berpengaruh dalam kehidupan ini, ini kisah hidup dan jalanku bahkan aku sudah sering untuk meninggalkan ini. Namu Tuhan seperti berkehendak ya inilah takdir. Kebohonganpun bukan menjadi cara dan menjadi soslusi untuk ini. Seorang penari belum tentu juga hina dan kamu seorang guru bagi mereka. Saat engkau mampu untuk menjelajah dan hidup dalam kesulitan maka itu merupakan cerita dari scenario sangat menarik yang pernah kau buat. Hari ini masih dalam fajar yang sama, saat semua orang berkata tentang hari ini esok dan senja ? “mengapa mereka tidak memulai sebelum fajar “ ?. Aku bertanya pada tubuhku yang tak begitu hangat. Mereka bilang aku manusia yang sedikit kasar dan aneh, sedangkan keluargaku bicara tentang keanehan ini dalam setiap pekerjaan yang kubuat, jawabannya hanya pada diriku sendiri. Karena menurutku fajar hari ini esok dan nanti adalah penantian dan perjalanan yang kujalani dalam scenario yang kubuat. Mamaku berkata untuk menjadi seorang lelaki harus mempunyai tanggung jawab dan keberanian.Sedangkan saat itu fajarku tak lagi ditempat. Terkadang aku berkata tujuan ini belum pasti namun yang pasti dalam scenario ini adalah merubah mindset setiap orang
like