menantu perempuan degil VS mertua perempuan yang jago aktingDiperbarui pada Sep 19, 2026, 01:18
BAB 1 - AIR MATA BUAYA DI RUANG TAMUAku, Aisyah. Menantu yang katanya degil, keras kepala, tidak tahu sopan santun.Dan di depanku sekarang, mertuaku sedang menangis sesenggukan sambil memegang tisu. Air matanya deras. Suaranya parau."Ya Allah, Mas... lihat istrimu! Dia membentak Ibu! Ibu cuma mengingatkan dia jangan pakai baju terlalu ketat di depan adik ipar!"Aku berdiri dengan tangan bersedekap. Dada naik turun menahan amarah.Itu fitnah. Fitnah keji.Baju yang aku pakai adalah gamis longgar hijau tua, hijab menutup dada. Tidak ada ketatnya sama sekali. Yang sebenarnya terjadi adalah, Ibu mertua menumpahkan kuah sayur sengaja ke baju gamisku yang baru, lalu menuduh aku ceroboh di dapur."Tidak begitu, Mas. Aku tidak membentak Ibu," ucapku pelan menatap suamiku, Fahri.Fahri, suamiku yang baru menikah 4 bulan denganku, menatapku dengan kecewa. Bukan menatap ibunya."Aisyah, minta maaf sama Ibu. Selesaikan. Ibu sudah tua," kata Fahri dingin.Deg.Kalimat itu seperti pisau. Minta maaf untuk kesalahan yang tidak aku lakukan?Mertuaku, Bu Lastri, di dalam pelukkan anak lelakinya itu melirikku sekilas. Sekilas saja, tapi aku melihatnya. Bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan. Senyum tipis yang hanya aku yang tahu artinya: _Kamu kalah lagi, menantu degil._Air mata yang tadi deras, tiba-tiba berhenti. Tisu masih di tangan, tapi matanya sudah tidak merah.Akting. Semua hanya akting."Aku tidak akan minta maaf, Mas," kataku tegas. "Karena aku tidak salah.""ASTAGHFIRULLAH! Aisyah!" Bu Lastri langsung berteriak histeris lagi, lebih kencang. "Anakmu durhaka! Ibu tidak sanggup tinggal serumah dengan menantu seperti dia! Lebih baik Ibu mati saja!"Dan seperti biasa, Fahri langsung panik memeluk ibunya."Astaghfirullah Ibu jangan ngomong begitu! Aisyah! Lihat, Ibu sampai sesak napas karena kamu!"Aku tertawa. Tawa pahit.Lagi-lagi aku yang jadi penjahat. Lagi-lagi aku yang degil. Padahal aku hanya bertahan.Tepat di saat itu, pintu rumah terbuka. Seorang pria tinggi dengan kemeja hitam masuk. Adik iparku, suami kedua Bu Lastri yang umurnya hanya terpaut 5 tahun di atasku.Dia menatap drama di ruang tamu itu, lalu menatapku."Kak Aisyah lagi? Kok setiap hari ada drama nangis-nangisan di rumah ini?" ucapnya sinis sambil menatap ibu tirinya sendiri.Bu Lastri langsung terdiam. Air matanya berhenti total.Aku menatap adik iparku itu. Satu-satunya orang di rumah ini yang tahu persis betapa jago aktingnya Bu Lastri.