second lifeDiperbarui pada Feb 6, 2022, 06:41
"David, tolong percaya padaku. Aku tidak pernah mengkhianatimu." wanita itu mengiba dengan suara lirih.
David memandang wanita di depanya yang tak lain istrinya sendiri dengan pandangan rumit. Carolina Fernandez, atau kerap ia panggil dengan Carol.
"Ya tuhan kak Carol, aku tidak pernah menyangka kau berani mengkhianati kakak sepupuku, hanya demi laki laki Brengsek itu." Jeni menutup mulutnya seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Mendengar ucapan Jeni, Carol menatapnya dengan shock, sedangkan David bertambah murka. Tanpa senyuma David segera menyeret Carol yang hanya memakai dalaman berwarna merah meninggalkan laki laki yang telanjang di sampingnya dengan nyawa yang sudah melayang.
"David, ku mohon percayalah padaku." Carol menatap David dengan wajah sendunya.
David membuang muka enggan menatap wanita di depanya.
"Kak, mungkin kakak bisa istirahat sebentar. Biarkan pengkihanat ini merenungi kesalahanya." bujuk Jeni.
David enggan menjawab namun, ia segera meninggalkan gudang tempat Carol tergeletak dengan kedua tangan terikat.
"Pakaikan ia baju, aku jijik melihat tubuhnya yang murahan." David berucap dengan nada datar setelah itu pergi tanpa menengok kembali.
Carol membeku mendengar pernyataan dari David. Ia sadar selama menikah David sama sekali tidak mencintainya. Namun, kata kata kasar tidak pernah keluar dari mulutnya. Harapan mendapatkan kepercayaan David mulai meredup di matanya setelah pernyataan itu. Netra kelabunya memandang kosong.
Prok Prok Prok
Tepukan itu mengalihkan perhatianya, ia pandangi Jeni yang menyeringai dengan datar.
"Bagaimana kakak ipar, hebatkan permainanku." Jeni berkacak pinggang memandang Carol remeh.
Carol terdiam mencerna perkataan Jeni sehingga, satu kesimpulan yang ia dapatkan. Ia dijebak, dan dalang dari semuanya tak lain Jeni sepupu dari suaminya sendiri.
"Kenapa?" Carol bertanya dengan nada lirih.
"Ha ha ha kau terlalu bodoh dan naif Carol, kau tahu jika David mempunyai pewaris maka seluruh harta kekayaan Fernandez akan jatuh ketangan anaknya. Dan hal itu sangatlah aku benci, karena seluruh harta Fernandez hanya akan dimiliki anak yang ku kandung. Jika kamu mati bersama dengan anakmu itu maka semua akan menjadi milikku. Mengingat tradisi keluarga kita yang hanya menikah satu kali seumur hidup," Jeni beucap dengan mengelus perutnya yang masih datar.
Carol terdiam, ia ingat sebelum kejadian ini ia pergi bersama Jeni untuk memeriksakan kehamilanya. Bahkan ia belum sempat memberitahu David. Secercah harapan muncul di hatinya. Mungkin jika ia mengatakan tentang kehamilanya David akan mempercayainya setidaknya memaafkannya demi anak mereka.
Brak
David mendongak pintu mengakibatkan mereka terlonjak. Jeni dengan segera mengubah tatapannya menjadi sendu, seakan bersimpati atas musibah yang dialami sepupunya.
"Beraninya kau hamil dengan Bajingan itu." David melempar surat dengan stampel rumah sakit.
Carol membolakan matanya mendengar ucapan David. Bagaimana bisa ia mengatakan ia mengandung anak laki laki yang sama sekali tidak ia kenal itu.
"David__"
"Cukup, ini sangat menjijikan," David berucap dengan melempar beberapa fotonya dengan laki laki itu.
Carol gemetar, ia tidak menyangka Jeni sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang. Ia bingung bagaimana ada foto menjijikan seprti itu, sedangkan foto itu persis dengan wajahnya.
"David, ini semua bohong. Percayalah padaku. Dan ini, ini anak kita hiks."
"Kau bilang ini anak kita, sedangkan kau tidak hanya berhubungan denganku saja. Sungguh menjijikan. Manusia sampah sepertimu tidak pantas hidup." David menodongkan pistol tepat di depan Carol.
Carol terdiam ia menatap sendu David. Hatinya remuk melihat pistol itu teracung di depan matanya tanpa adanya keraguan sama sekali. Tanpa sadar netra kelabu itu mengeluarkan liquid bening.
"Tuhan, jika ada kesempatan kedua lebih baik jika aku tidak mengenal atau menjauh dari David. Laki laki yang memaksa menikahiku dan berakhir membunuhku serta anaknya sendiri tanpa belas kasihan."
DOR
Bersamaan dengan suara itu Carol merasa gelap dan terjatuh dengan kepala yang sudah tidak utuh. Tanganya memeluk erat perut ratanya seakan ingin melindungi harta satu satunya yang ia miliki namun, semua hanya sia sia.
*******
"Nona, apakah anda mendengar saya. Jika anda mendengar suara saya tolong buka mata anda Nona."
"Engggh apakah aku di surga?" pertanyaan itu lolos dari bibir merah itu.
Laki laki yang bertanya tentang keadaan wanita itu mengernyit bingung. Apa yang terjadi dengan wanita itu.
"Maaf Nona, anda berada di rumah sakit." jelasnya.
Perlahan netra kelabu itu terbuka, memandang sosok menjulang dengan pakaian putihnya dengan wajah mengkerut.
"Max, kenapa kau di sini? apakah kau juga meninggal sepertiku?" pertanyaan polos itu muncul dengan sendirinya.
Laki laki itu mengernyit mendengar penuturan wanita bernetra kelabu itu. Di hatinya sibuk bertanya bagaimana wanita itu mengetahui namanya.
"Ekhm maaf Nona, saya belum men