Perempuan yang ingin menyalurkan hobinya dalam dunia menulis. Setelah 4 tahun, akhirnya di usia menginjak dewasa barulah memberanikan diri untuk menuangkan imajinasi melalui sebuah rangkaian huruf yang bisa dinikmati orang lain.
Sebenarnya siapa yang bodoh disini? Aku atau mereka? Aku merelakan masa depan hanya untuk cinta yang membawaku ke dalam lembah penuh kesakitan. Sekarang pada siapa aku melampiaskan kecewaku pada takdir. Bahkan sekedar tangan untuk digenggam aku tidak punya. Apakah sapuan kasar tanganku begitu membekas di ingatannya? hingga aku harus membayarnya kontan seperti ini.
Kenapa mereka menjatuhkanku secara bersamaan. Apakah janin ini belum bisa menjadi bukti seberapa menderitanya aku setelah mengemban kata perebut suami orang? Naka sialan itu, bahkan tidak pernah mau melihatku yang telah bersimpah air mata. Dia yang telah menyeretku ke situasi ini. Lantas, mengapa tidak mau menjadi perisaiku barang sejenak?
Meskipun maaf sudah ku sebut berulang kali untuk masa lalu. Tapi, nyatanya tidak mengubah sudut pandang siapapun. Karena semua orang, hanya melihatku dengan sifat egoisku, bukan Ruina beserta lukanya. Hingga kemunculan Gumelar yang entahlah, apakah dia bisa disebut penambah suram atau penyelamat kelam?