cuma konsepDiperbarui pada Aug 19, 2026, 09:56
Siap, maaf banget! Kamu benar, tadi aku terlalu buru-buru merangkum jalannya cerita. Kali ini aku jabarkan Bab 1 dengan jauh lebih detail, narasi yang mengalir natural, porsi percakapan yang hidup, humor yang pas, dan suasana drama yang terasa lebih menggigit!BAB 1: Gigolo atau Tetangga?"Enghh.. kok kenyal yaa kalau digigit?""Heh! Jangan asal gigit chocochip saya! Kalau copot gimana?! Sial!"Gia dengan mata sayunya yang berat mulai mendorong tubuhnya, bergerak tak karuan di atas pangkuan pria itu. "Dorongnya begini bukan?""Hais! Jangan dimaju-mundurkan asal begitu! Coba maju mundur, sambil digoyang sesekali.. emh.. iya.. begitu... Good girl."Kegilaan ini... bermula tepat seminggu yang lalu.Suara denting sendok dan aroma manis adonan pastry yang membumbung di dapur utama restoran siang itu mendadak menguap, digantikan oleh ketegangan yang membekukan udara. Gia Cantika Pramoedya sedang mengoleskan glaze pada permukaan tartlet buah saat pintu dapur terbanting keras.BRAK!"Mana yang namanya Gia?!"Sebelum Gia sempat menoleh penuh, sejumput rambut panjangnya sudah disenggut kasar dari belakang. Kepala Gia terdongak seketika, disusul suara hantaman kulit yang berbunyi nyaring di udara dapur.PLAK!Pipi kiri Gia terasa panas membakar. Tubuhnya limbung menabrak pinggiran meja stainless steel."Dasar cewek murahan! Berani-beraninya kamu merayu dan tidur sama tunangan saya!" teriak seorang wanita berpenampilan glamor dengan tas jenama mahal terpampang di lengannya. Wajahnya merah padam penuh murka, menatap Gia seolah Gia adalah kotoran di telapak sepatunya.Gia meringis, mengusap sudut bibirnya yang terasa agak asin akibat pecah. Matanya yang membulat penuh terkejut beralih menatap sosok pria di belakang wanita itu. Farell—pemilik restoran sekaligus bosnya—berdiri mematung dengan wajah pucat pasi bagai mayat.Hati Gia rasanya seperti dilempar dari lantai sepuluh. Selama enam bulan terakhir, Farell selalu bersikap manis, mengejar-ngejarnya, membawakannya kopi setiap pagi, dan bersumpah dengan wajah paling polos di dunia bahwa dia seorang pria lajang yang sedang mencari pasangan serius. Bahkan, minggu lalu saat tahu Gia sedang kalang kabut mencari tempat tinggal baru, Farell dengan dermawannya menawarkan sebuah unit apartemen kosong milik keluarganya.Gia menatap Farell dengan tatapan tidak percaya. "Tunangan?" suara Gia bergetar, tetapi bukan karena takut—melainkan karena amarah yang mendidih sampai ke ubun-ubun. "Mas Farell... Mbak ini tunangan Mas?"Farell gagap, tidak sanggup menatap mata Gia. "Gia... aku... aku bisa jelaskan—""Jelaskan apa, hah?!" bentak wanita itu, Raisa, seraya kembali mengacungkan jarinya ke wajah Gia. "Kamu itu cuma koki rendahan yang kegatalan godain bos sendiri!"Kebingungan Gia seketika berganti menjadi rasa muak yang luar biasa. Dia bukan wanita lemah yang bisa diinjak-injak begitu saja. Gia menegakkan tubuhnya, melangkah maju satu langkah besar.PLAK!Tamparan balasan dari Gia mendarat telak, jauh lebih keras dan presisi di pipi mulus Raisa hingga wanita itu terhuyung dan memekik histeris. Seluruh staf dapur menahan napas serentak."Jaga mulut Mbak!" pangkas Gia dengan nada dingin yang menusuk. "Minta tunangan penipumu ini jelaskan siapa yang ngejar-ngejar saya selama setengah tahun! Siapa yang ngemis-ngemis minta kesempatan dan pura-pura jadi pria lajang paling merana se-Jakarta!"Gia tidak sudi bertahan sedetik pun di tempat beracun ini. Dengan gerakan tegas, dia melepaskan tali apron putihnya, mencopot name tag akriliknya, lalu meremas keduanya sebelum melemparnya tepat ke dada Farell."Dan buat Mas Farell... selamat menikmati status penipu! AKU KELUAR!"Dua jam kemudian, Gia terdampar di atas sofa ruang tamu apartemen Sasa—sahabat karibnya sejak masa kuliah. Di sudut ruangan, dua koper besar berdiri kaku, berisi seluruh harta benda yang berhasil Gia angkut paksa dari apartemen Farell."Hiks... dasar buaya buntung hidung belang! Gua kira dia malaikat penolong, ternyata musang berbulu domba!" tangis Gia pecah, membuat maskara murahnya luntur menyerupai lingkaran hitam di bawah mata.Sasa yang duduk di sampingnya mengelus-elus punggung Gia dengan prihatin. Namun, sejurus kemudian, Sasa menepuk tangannya heboh dan mengeluarkan dua lembar kertas mengilap dari dalam tasnya."Udah, udah! Mulut lu udah kayak saringan santan, maki-maki mulu dari tadi! Lihat nih!" Sasa mengibas-ibaskan kertas itu di depan hidung Gia. "Dua tiket liburan gratis di vila private pool Bali! Om gue yang kerja di dinas pariwisata baru dapet voucher promo, tapi dia kagak bisa pakai. Free vila mewah, Gia!"Gia menghentikan tangisnya sesaat. Matanya mengedip pelan, lalu tanpa dosa hembusan napas keras keluar dari hidungnya. Gia menarik ujung kaos santai yang sedang dipakai Sasa, lalu mengelap ingusnya di sana tanpa keraguan.Sasa membeku. Matanya melotot menatap noda basah di bajunya. "Jorok lu, anjrit! Untung muka lu cantik, kalau kagak udah gue lempar dari balkon!" Sasa mengusap ba