bc

Rahasia Wanita yang Mengaku Istri Kedua Suamiku

book_age18+
72
IKUTI
1K
BACA
revenge
dark
second chance
tragedy
heavy
mystery
crime
affair
punishment
sacrifice
like
intro-logo
Uraian

"Ini sudah jam sebelas malam dan Ronald belum pulang. Aku harus bagaimana?" desah Alana cemas.

Wanita cantik berusia tiga puluh lima tahun itu bergerak mondar-mandir sambil menggigit-gigit kuku jarinya dengan panik.

Pikirannya langsung tertuju pada Livia, sang sekretaris suaminya. Namun wanita muda yang cantik itu malah mangaku tidak tahu apa-apa.

Rahman sang sopir dan Om Prasodjo, paman bungsu suaminya juga sama. Mereka mengaku tak tahu di mana Ronald berada.

Dalam kepanikan, Alana dikejutkan oleh telepon dari seseorang yang mengaku melihat sosok suaminya dalam sebuah kamar hotel bersama perempuan. Orang itu memberikan lokasi hotel tempat Ronald berada lalu mematikan panggilan.

Alana tiba di lokasi bersama Rahman, namun apa yang dilihatnya di lokasi sungguh membuat wanita cantik itu menjerit histeris dan menangis meraung-raung.

Ronald ditemukan telah terkapar di lantai kamar hotel dengan posisi setengah tidak berbusana, penuh luka tusukan dan bersimbah darah.

Jiwa Alana terguncang. Ia mengurus jenazah suaminya hingga ke liang lahat dengan perasaan hancur lebur yang sulit digambarkan.

Namun kejutan dari mendiang Ronald tidak sampai di situ. Saat hatinya masih porak-poranda, di rumah sudah menanti seorang wanita muda nan cantik dengan pakaian seksi menggoda. Wanita datang dan mengaku sebagai istri kedua Ronald.

Apa tujuan sang wanita muda dengan lipstick merah merona itu hadir dan mengaku istri kedua Ronald? Mengapa baru sekarang ia hadir?

Wanita muda itu sungguh misterius dan menyimpan sebuah rahasia. Mampukah Alana menguak tabir rahasia itu?

chap-preview
Pratinjau gratis
Suami yang Tak Pulang
Malam itu Alana merasa resah. Hatinya terasa gundah-gulana. Ia tengah menunggu Ronald, sang suami yang tak kunjung pulang ke rumah. Wanita itu berjalan mondar-mandir dari ruang tamu ke kamarnya. "Ke mana dia? Tidak biasanya Ronlad pulang telat begini," gumam Alana khawatir. Wanita berusia tiga puluh empat tahun itu mulai menggigit-gigit kukunya karena khawatir. Alana punya kebiasaan seperti itu sejak belia. Ketika dirinya merasa cemas reflek ia akan menggigit-gigit kukunya sambil berjalan mondar-mandir. [Sayang, kau di mana? Kenapa belum pulang juga? Ini sudah hampir jam dua belas malam] Alana yang semakin cemas mengirim pesan ke nomor suaminya. Ini sudah pesan ke tiga belas. Namun meskipun centang dua terlihat di aplikasi hijau milik suaminya tak satupun pesan Alana dibaca, bahkan dibalas oleh Ronald. "Mungkin aku harus meneleponnya sekarang," desis Alana yang mulai tak sabar. Hatinya dipenuhi kekhawatiran atas suaminya. Sembari menggigit-gigit kuku jemari di tangan kanannya, tangan kiri Alana cekatan memencet nomor Ronald untuk dihubungi. Tutt-tutt-tutt! Suara dering nada sambung ke handphone Ronald terdengar. Namun sampai deringannya habis tak juga diangkat. "Nomor yang anda tuju, sedang sibuk. Anda bisa tinggalkan--" Tut! Tuuuttt-tuttt-tutt! Alana mematikan panggilan saat suara operator telepon belum menyelesaikan kalimatnya. Artinya semakin khawatir pada kondisi Ronald. Suaminya tidak pernah seperti ini selama sepuluh tahun pernikahan mereka. Ronald adalah sosok suami yang baik. Pria itu adalah seorang ayah yang selalu hangat terhadap istri dan anak-anaknya. Ia adalah seorang pria yang lurus dan tidak pernah terlibat skandal meski jabatannya di perusahaan cukup tinggi. "Ronald, Ya Tuhan. Kau ini ke mana sih?" keluh Alana mulai kesal. Wanita itu menjadi sangat tidak sabar dan semakin khawatir pada suaminya. Meski sudah jelang tengah malam akhirnya Alana memutuskan untuk menelepon sekretaris suaminya. Ia yakin sekali sang sekretaris akan tahu apa yang dilakukan suaminya terakhir sebelum pulang ke rumah. Dering nada sambung kembali terdengar di handphone Alana. Wanita itu dengan sabar menunggu sampai sekretaris suaminya mengangkat telepon. "Halo selamat malam." Sebuah suara mengantuk seorang perempuan muda terdengar di ujung telepon. "Malam, Livia. Maaf saya mengganggumu malam-malam begini. Boleh saya menanyakan sesuatu?" tanya Alana sedikit tidak nyaman. Alana tahu sikapnya tidak sopan, tetapi ia tidak bisa menemukan cara lebih efisien dari yang harus di lakukan saat ini. "Nyo-nyonya Alana, a-ada apa malam-malam begini menelepon?" tanya Livia. Suaranya terdengar takut-takut itu mengetahui siapa yang menelepon. "Begini, Livia. Saya ingin menanyakan apa kamu tahu suami saya tadi pulang kantor jam berapa?" sahut Alana to the poin. Tidak langsung menjawab, Livia sempat terdiam beberapa saat. Wanita muda itu seperti mengingat-ingat pukul berapa tepatnya atasannya itu pulang. "Tuan Ronald pulang tepat waktu, Nyonya Alana. Saya ingat tadi tepat pukul 17.00 Tuan Ronald meninggalkan kantor. Saya lalu pulang tiga puluh menit kemudian," jelas Alana kemudian. Alana langsung terkejut mendengar jawaban Livia. Ia tidak menyangka jika Ronald meninggalkan kantor tepat waktu. Berbagai pertanyaan semakin berkecamuk di kepalanya. Ke mana Ronald pergi setelah keluar dari kantor? "Apa suami Saya tidak ada janjian lain di luar kantor? Biasanya kau tahu semua jadwal suami saya," tanya Alana kembali mengorek keterangan dari Livia. "Ti-tidak, Nyonya Alana. Jadwal Tuan Ronald sore ini kosong. Saya tidak tahu urusan Tuan Ronald di luar jam kerja kantor. Sebaiknya Nyonya bertanya saja kepada Bang Rahman," jelas Livia menyebutkan nama sopir pribadi sekaligus tangan kanan Ronald. "Baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak, Livia. Maaf jika aku mengganggu waktu tidurmu," sahut Alana langsung mengakhiri panggilan. Setelah mematikan sambungan telepon dengan sekretaris sang suami, Alane lalu menelpon Rahman. "Halo selamat malam, Nyonya Alana. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rahman yang sepertinya masih belum tidur. Lelaki muda yang masih bujang itu mungkin sedang begadang malam ini. "Man, kau sudah pulang ke rumah? Apa kau tahu di mana suami saya berada?" tanya Alana sama seperti ketika menelepon Livia. Wanita itu langsung to the point menanyakan tentang suaminya tanpa basa-basi. "Apa Tuan Ronald belum pulang, Nyonya?" Rahman balik bertanya. "Belum, Man. Apa tadi Tuan tidak langsung minta di antar pulang ke rumah?" sahut Alana semakin tegang. Berbagai pikiran buruk menggelayut semakin tak karuan di kepala Alana. Pada detik itu ia sangat yakin ada yang tidak beres dengan Ronald. Rahman jelas-jelas tidak sedang bersama Ronald. Padahal seharusnya Rahmanlah yang harusnya mengantar Ronald sampai ke rumah. "Begini, Nyonya. Itu tadi kami sudah setengah jalan pulang. Tiba-tiba saja Tuan Ronald mendapat telepon. Tuan lalu meminta saya turun di mall terdekat dan memberikan ongkos pulang menggunakan taksi online pada saya," jelas Rahman panjang-lebar. "A-apa? Menurunkanmu di mall terdekat? Memangnya siapa yang menelepon, Man? Suamiku tidak biasanya seperti itu kan?" Alana langsung memberondong Rahman dengan banyak pertanyaan karena panik. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ketegangan dalam dirinya semakin meningkat. Sambil mondar-mandir dan memegang telepon Alana terus mengobrol dengan Rahman. Sesekali wanita cantik itu menggigit-gigit kuku di jemarinya pada tangan yang bebas tidak memegang handphone. "Saya kurang paham, Nyonya Alana. Tapi yang saya lihat, raut wajah Tuan Ronald mendadak berubah muram sesaat setelah mengangkat telepon," jelas Rahman semakin terperinci. Penjelasan Rahman tersebut semakin membuat Alana cemas dengan keberadaan suaminya. Alana sangat yakin ada yang tidak beres dengan Ronald malam ini. "Lalu setelah menurunkanmu di mall suamiku pergi ke mana?" tanya Alana semakin curiga. "Saya tidak tahu, Nyonya Alana," jawab Rahman yang membuat Alana langsung terduduk lemas. Wanita itu benar-benar sudah sangat overthinking dengan kondisi suaminya. Sambil menelepon Rahman ia sempat memeriksa obrolan pribadi dengan suamimu pada aplikasi hijau. Pesannya sama sekali tidak ada yang dibaca bahkan dibalas. "Apa ada masalah dengan Tuan Ronald, Nyonya?" tanya Rahman seperti bisa membaca kecemasan yang sedang melanda Alana. Alana menghela napas berat, sebelum menjawab pertanyaan Rahman. Ia menguatkan hatinya agar tidak lepas kendali dan menjadi emosional karena panik. "Suamiku belum pulang hingga saat ini, Man. Handphonenya kuhubungi aktif tapi tidak menjawab telepon. Bahkan pesanku sejak pukul delapan tadi tak satupun yang dibalas," jelas Alana sesingkat mungkin. Meskipun suaranya terdengar bergetar karena air mata yang sudah mengambang di pelupuk mata, tetapi alamat masih berusaha berbicara dengan tenang. Ia tidak ingin Rahman tahu kecemasan yang ia rasakan. "A-apa? Ini sudah tengah malam, Nyonya. Harusnya Tuan Ronald sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu!" sergah Rahman yang seketika langsung panik. Ini tidak hanya Alana yang khawatir dengan kondisi Ronald. Rahman pun mulai cemas dan curiga ada yang tidak beres dengan majikan prianya itu.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.8K
bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.9K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook