Di atas sebuah tebing, Hie tengah duduk termenung seorang diri. Kesepuluh jemari tangannya saling meremas dengan tatapannya menunduk dalam. Sesekali giginya saling bergemelatuk ketika ingatan tadi kembali terbayang. Ingatan tentang sebuah kebenaran yang akhirnya terungkap. Dia tak pernah menyangka takdir hidupnya akan seperti ini. Kepala Hie perlahan terangkat ketika aroma harum khas seseorang tertangkap indera penciumannya. Tak perlu mencari tahu siapa pemilik aroma ini, Hie tahu persis siapa pemiliknya tanpa perlu dirinya menoleh ke arah belakang dimana seseorang itu tengah berdiri disana. Hanya gadis itu, Aletta yang memiliki aroma harum seperti ini. Mencium aroma yang memabukan ini saja, suasana hati Hie yang tadinya gundah kini jauh lebih tenang dengan sendirinya. Aletta memandang

