Hie tertegun sejenak, sebelum akhirnya tertawa lantang, tak mempercayai sedikit pun perkataan Arthur. “Paman, candaanmu sama sekali tidak lucu. Aku mengerti paman sangat membenci manusia. Tapi tidak perlu sampai mengatakan lelucon seperti ini kan?” ucapnya di sela-sela tawanya yang masih belum berhenti. “Apa wajahku terlihat sedang bercanda?” sahut Arthur tegas yang membuat detik itu juga tawa Hie terhenti. Pemuda itu menatap intens sosok pria yang sudah dia anggap pamannya sendiri. Kembali tertegun ketika disadarinya raut wajah Arthur memang tak menyiratkan candaan sedikit pun. Sebaliknya sang paman terlihat memasang raut wajah begitu serius. Menatap tegas padanya. “Dia ibumu. Namanya Yuren, bukan?” Hie tak mampu berkata-kata lagi. Dia memalingkan wajahnya ke samping, dikala dia men

