Tubuh Yuren tak hentinya bergetar, kedua matanya sudah bengkak. Air mata tak hentinya mengalir membasahi wajahnya. Penampilannya sungguh tak mencerminkan dirinya yang biasanya anggun. Dia tak peduli lagi karena yang dipikirkannya sekarang hanyalah satu yaitu mempersiapkan diri jika tiba saatnya dirinya akan menjadi santapan para werewolf. Yuren takut, tentu saja. Tapi jauh di lubuk hatinya dia tahu hal ini memang akan terjadi padanya. Sudah seharusnya dia mati di tangan para werewolf, mengingat dirinya lah penyebab alpha mereka tiada. Satu hal yang Yuren sesalkan, dia tak sempat mengucapkan selamat tinggal pada Hie, putranya. Bahkan pemuda itu belum mengetahui kebenaran tentang hubungan mereka yang ternyata merupakan ibu dan anak. Yuren semakin membenamkan wajahnya di antara celah kedua

