Yuren duduk bagaikan patung, tatapannya kosong. Jejak-jejak air mata tercetak jelas di wajah ayunya. Kepalanya tertunduk ke bawah, berpusat pada kedua kakinya yang menapak di lantai kamar Hie yang dingin. Hie sendiri kini tengah terlelap di tempat tidurnya. Pemuda itu tampak kelelahan, semua suara yang didengar telinganya, dia abaikan. Dia tertidur seolah sudah satu minggu lamanya dia tidak tertidur. Air mata yang sempat berhenti mengalir dari kedua mata indah Yuren, kini kembali mangalir tanpa dia kehendaki. Pemandangan yang baru dilihatnya beberapa jam yang lalu menjadi alasannya meneteskan air mata ini. Padahal dia sudah mati-matian meyakinkan Hie bahwa dirinya baik-baik saja begitu sang pemuda bertanya karena melihatnya menangis. Yuren tidak berbohong pada Hie ketika dia mengatak

