Setelah kelelahan menangis, Balqis dan Yusuf akhirnya tidur juga. Ayla bergegas ke kamarnya, berniat menumpahkan air mata yang sejak tadi ia tahan. Ayla memulainya dengan sholat dzuhur karena sudah masuk waktunya. Tangannya mengadah, mengadu seraya berterima kasih masih dibantu Allah untuk menjaga harkatnya sebagai wanita, istri maupun ibu. Tidak terbayangkan bagaimana cara Ayla menatap anak-anaknya andai perbuatan hina itu terjadi. Namun, sisi hatinya juga membenci Samir. Kejadian ini bukan cuma menyakiti perasaan Ayla. Tetapi juga membunuh karakter diri. Ia yang selalu berusaha meredam emosi kini dilumuri perasaan itu. Seolah, sikap Samir mampu mengubah sudut pandang Ayla. Sebaik apapun dirinya, akan selalu ada orang jahat ingin memanfaatkan kelemahan. Ayla tidak ingin seperti itu

