Beberapa menit berlalu. Damon keluar, kini dibalut handuk putih tebal di pinggang. Rambut cokelatnya basah, air menetes di bahunya yang telanjang. Ia tampak lebih tampan, lebih tenang, dan tanpa noda darah. Kontras visual ini membuat Aroe semakin waspada. Damon berjalan mendekati Aroe, tanpa jarak. Jantung Aroe berdebar kencang, ia merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh Damon. “Aroe,” bisik Damon, suaranya kini kembali pada nada kelembutan yang menyesatkan, nada yang hanya ia gunakan saat berinteraksi dengan Aroe. Nada yang membuat Aroe selalu was-was. “Kau terlihat masih gemetar. Sentuhan terakhir di bawah tadi pasti meninggalkan trauma,” bisik Damon, matanya yang abu-abu mencari sesuatu di mata Aroe. Ia tidak mencari rasa takut, ia mencari keterikatan. Aroe merasakan seluru

