Damon Valerius Kael melangkah keluar dari Area Karantina, meninggalkan ruangan yang kini hanya diisi oleh bau kematian dan kerja senyap Damian dan para Pengawal Bayangan. Langkahnya ringan, seolah ia baru saja menyelesaikan sesi meditasi yang menenangkan. Kontrasnya begitu tajam; lantai beton di Area Karantina berlumuran darah, sementara karpet tebal di lorong menuju lift pribadi Damon terasa empuk dan mewah. Aroe mengikutinya, setiap langkah adalah perjuangan. Ia harus mengabaikan sensasi lengket di pipinya, darah dingin Tawanan 2 yang memercik, dan rasa mual yang masih bergolak di perutnya. Ia adalah seorang pembunuh, tetapi ia belum pernah menyaksikan, apalagi dipaksa untuk mengapresiasi, pembantaian yang sedemikian rupa. Ia membutuhkan topengnya lebih dari segalanya. “Udara di

