Bab4

1090 Kata
Rio, Alvin,Cakka dan Gabriel berjalan menuju pintu belakang. Mereka keluar lewat pintu belakang, pergi ke basecamp tempat mereka berkumpul. Setiba nya di basecamp Rio langsung merebahkan dirinya di kasur kecil yang tersedia disana, Alvin menyalakan sebatang rokok sedangkan Cakka mengambil cemilan dan Gabriel menonton tv. "Vin bagi rokok" Rio bangkit dari tidur nya dan mengambil sebatang rokok milik Alvin Rio mematikkan api ke arah rokok, dan ia mulai menyedot batang rokok itu lalu menghempaskan asap yang mengepul. "Yo, lo suka sama tuh cewe?" tanya Cakka "Cewe ?" "Gausah so gatau anjing, maksud gue cewe polos tadi" Rio menganggukkan kepalanya. "Iya, kenapa?" Rio kembali menyedot rokoknya hingga asapnya terkumpul banyak "Gak salah Yo?" kini giliran Gabriel yang bertanya. "Gak" "Yo, dia cewe polos gatau apa-apa anjir. Beda jauh sama mantan-mantan lo, beda jauh sama cewe-cewe yang ngejar lo" "Jutru itu, gue suka karena dia polos apa adanya. Gak lebay kaya cewe lain yang suka cari cari perhtian." "Yaaaa terserah, semoga pilihan lo gak salah" Drrrt drrttt Rio mengambil hp nya yang bergetar, ada satu panggilan dari Raka, teman sekelasnya. "Raka nelfon gue" Rio pun menangkatnya dan menloud speaker telfonnya. "Kenapa Ka ?" "Yo yo yo.. Gawat!!!" Rio dkk mengerutkan keningnya tapi hatinya sudah tak enak "Kenapa? To the point" "Anak PH nyerang sekolahan, sekarang mereka udah ada di depan gerbang" "Anjing" "Lo amanin anak-anak yang lain Rak, jangan sampe ada murid yang lain keluar dari gerbang" Tanpa banyak pikir mereka langsung cabut menuju sekolah. Membawa motor masing-masing dengan kalap. Mereka berempat masuk lewat pintu belakang, dan langsung bertemu dengan Pak Dedi yang menunggu. "Bagus, kalian lagi-lagi bolos. Dan liat, anak-anak PH itu, mereka menyerang sekolah kita pasti kalian yang berbuat kesalahan" cerocosnya "Aduh Pak, ngomelmya nanti aja ya. Ini keadaanya gawat" balas Cakka sedangkan Rio, Alvin dan Gabriel langsung meninggalkan Pa Dedi yang bereloteh. Cakka pun menyusul teman-temannya. "Rak, lo udah siapin anak-anak kan ? Udah siap semua ? Senjata ? Batu ? Air ?" tanya Gabriel "Udah, udah siap semua. Murid yang lain juga udah aman" "Yaudah ayo kita serang, inget jaga diri kalian masing-masing. Sebisa mungkin jangan sampai ada yang kena bacokan" pesan Rio sebelum keluar dari persembunyian. Akhirnya segerombolan siswa dari Cakrabuana pun keluar untuk melawan gerombolan PH. Mereka sudah di hujani batu, sebisa mungkin mereka menghindar. Semuanya maju dan saling memukul, saling berkelahi saling melempar batu. Baik anak PH dan anak Cakrabuana terus saling menyerang. *** Ify dan murid yang lain di kumpulkan di ruanh aula. Semua murid yang tak terlibat di kumpulkan menjadi satu. "SEMUANYA TENANG, KITA PASTI BAIK-BAIK SAJA" teriak Pak Joe "POKOKNYA KALIAN SEMUA DIAM DISINI, JANGAN ADA YANG KELUAR. INGAT" Semua murid mengangguk patuh, ruang aula yang berada di depan bisa membuat murid yang ada di dalam melihat tawuran di luar sekolah. Ify menutup wajahnya menggunakan telapak tangan, namun membuat celah agar ia bisa melihat nya sedikit. "Viaaa, mereka gapapa kan?" tanya Ify takut. "Gak Fy, mereka pasti baik-baik aja. Ini bukan tawuran yang pertama buat mereka" ujar Via tenang namun tetap ada nada takut disana. Ify mengintip lagi di celah celah tanganya, ia melihat Rio sedang berkelahi disana. Ify meringis tak tega, pasti sakit di pukulim seperti itu. "Via, kasihan Rio. Pasti sakit" Via membulatkan matanya mendengar ucapan Ify. "Rio gapapa Fy, itu luka ringan biasa" "Tapi kasian Rio, Ify aja gapernah di pukul. Pasti sakit di pukul gitu, Ify mau keluar" ujar Ify yang beranjak pergi Via membelalakan matanya dan langsung menahan lengan Ify. "Lo gila?! Kalau lo keluar, yang ada lo mati. Lo mau mati?" "Gaak" "Yaudah diem" Ify akhirnya diam, namun tetap ia memikirkan cara untuk keluar. Sebenrnya Ify takut, tapi Ify khawatir sama Rio dan teman-temannya. "Hmmm Via, gue mau ke toilet" "Lo gak lagi bohong kan?" Ify menggeleng "Engga, beneran gue kebelet" "Yaudah bilang ke Pak Joe" "Ayoook" Via pun mengikuti Ify untuk izin kepada Pak Joe. "Permisi Pak, hmm maaf Ify kebelet pipis. Ify mau ke toilet bentar" "Di tahan dulu bisa Fy? Soalnya bahaya" "Gabisa Pak, Ify bisa jaga diri kok kan sama Via. Ify gak akan keluar gerbang, Ify cuman mau ke toilet" "Yaudah, hati-hati ya" Ify dan Via mengangguk dan membuka pintu ruang aula. Ify dan Via berlari menuju toilet. Sesampainya di toilet, Ify dan Via diam. "Katanya kebelet pipis, kok malah maim hp sih Fy" ujar Via saat melihat Ify yang memainkan handphone nya. "Sssst Via diem. Ify lagi ngedownload musik" Via melototkan matanya, benar benar tak habis fikir. "Terus ngapain kita ke Toilet? Astaga ifyyyy" Via melengos pasrah "Naaah udah kedownload, Via tungguin disini ya bentar. Gue mau ke ruang musik" "Eh eh mau ngapain?" Tanya Via, namun terlambat Ify sudah berlari keluar. "Aiissshh anak itu kenapa sih, bego banget" Tak lama Ify kembali dengan membawa dua speaker aktif berukuran kecil. Via mengerutkan keningnya saat Ify memasuki Toilet. Ify mengambil kabel dari speaker aktif itu dan memasukannya ke lubang di handphone miliknya. Ngiung ngiung ngiung ngiung Suara sirine polisi itu berbunyi, Via membulatkan matanya mengerti maksud Ify. "Jangan bilang Lo.." "Iya, gimana ? Bagus kan ide Ify? Ify kasian sama Rio dan teman-teman lainnya. Mereka pasti kesakitan, kalau denger suara sirine polisi pasti mereka kabur" "Udah ah, Ify mau keluar dulu" ujar Ify keluar toilet membawa speaker itu "Ify lo jangan gilaaaa" teriak Via dalam toilet. Ia tak habis pikir dengan otak Ify. "Isssh tuh anak mau mati apa" Ify berjalan mengendap-ngendap ke belakang gerbang yang terdapat pohon besar. Ify bersembunyi disana yang pasti bisa dilihat oleh murid yang lain. Baik Via maupun murid yang ada di aula bingung dan panik melihat tingkah Ify. Ify melirik kearah luar, ia bisa melihat jelas darah yang sudah mengalir akibat tawuran, badan Ify seketika gemetar. Dengan gemetar, Ify mencolokkan kabelnya dan memplay suara sirine. Ify menutupkan matanya berharap ini berhasil. Ngiung ngiung ngiung ngiung ngiung Ify mengeraskan suaranya nya. Dan benar, mereka berhamburan ketakutan. Anak PH berlarian meningalkan sekolahannya. Ify masih menutup matanya berharap ini tidak gagal. "YEAAAAAAYYYY" sorak sorai dari dalam terdengar, Ify membuka matanya, mengintip dan melihat murid murid berhamburan keluar dari aula. Sedangkan anak-anak yang sedang tawuran kini tengah berdiam diri di luar, ada yang sudah pingsan dan ada yang hanya luka kecil. Ify melihat Rio yang sedang berdiri, ujung bibirnya robek karena pukulan tak ada luka serius di badan nya. Ify menghampiri Rio dengan badan yang gemetar. "Rio" Rio membalikkan badannya dan melihat Ify berdiri di gerbang. "IFY" Rio langsung menghampiri Ify yang terjatuh pingsan. Suara sirine masih terdengar di area sekolah, Rio menggendong Ify dan membawanya ke dalam sekolah dengan susah payah. **** Vote dan komen biasa yaaa mwah
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN