Bimbang, ragu tak bisa menentukan pilihan

3006 Kata
Khilaf 5 "Saya pamit ya teh. " Refa pamit setelah mengetahui aku masuk, lalu tersenyum padaku namun senyumannya terlihat aneh, tentu saja aneh senyuman seprti itu harusnya diberikan kepada kekasihnya bukan pada suami orang. Ratih masih memalingkan mukanya ia enggan bahkan untuk melihat ku. "Keluar lah mas, aku mengantuk" Suaranya sangat pelan seperti hembusan angin yang dipaksakan. Namun masih bisa ku mengerti. "Ratih... Maafkan mas... Sungguh mas telah dzolim, kamu boleh penjarakan mas" Tak ada respon "Mas salah faham, mas janji tidak akan seperti itu lagi". Karena Ratih masih diam, kupeluk ia bahkan jika harus bersimpuh di kakinya aku siap. " Maafkan mas, Ratih ". Ratih masih dengan diamnya ia enggan merespon ku. " Baiklah mas pulang dulu, mas janji akan merawat dan menjagamu, mas sungguh menyesal" Mungkin Ratih ingin sendiri, aku harus memahaminya. Ia butuh waktu dan aku tak boleh memaksa kehendaknya. Sebelum pulang ku kecup keningnya, matanya terpejam namun cairan bening mengalir dari matanya. Aku merasakan cinta yang Ratih miliki begitu besar untukku. "Mas... Jika kau menyukai Refa menikah lah dengannya... " Tiba tiba Ratih berucap sperti itu seolah cinta yang kumiliki untuknya tak ada lagi. Apa apan sih ini... Mengapa serunyam ini? Mengapa tiba tiba Ratih berkata seprti itu? Bukankah ini hanya salah faham yang mengakibatkan Ratih hampir meninggal karena prasangka dan cemburu ku yang sangat keterlaluan... Apa karena ia takut jika kelak aku akan menyiksa nya lagi?? Ah sungguh aku berjanji takan ku ulangi tangan, kaki, mulut bahkan hatiku melukai Ratih, wanita yang aku cintai. Wanita yang telah melahirkan, merawat dan mendidik anak anaku. "Tidak Ratih, mas berjanji mas akan selalu mencintaimu, jangan hukum mas dengan berbicara seprti itu, mas lebih baik menebus kesalahan mas di penjara walaupun seumur hidup demi mendapat maaf darimu... " Bergetar hati ku mengatakannya. Sebab aku sungguh mencintai Ratih... Aku menyesal ya Allah.... Ratih memalingkan wajahnya. Lalu ia memberikan isyarat untuk aku keluar, baiklah mungkin ia butuh istirahat. Mas Agil dan ibu masuk ruangan. Kali tatapan mas Agil sedikit bersahabat. "Cepet sembuh ya dek, mas janji mas bakal menjagamu dan akan menghajar siapapun yang menyakitimu, " Mas Agil menyindir ku secara halus, kulihat Ratih hanya tersenyum. Sungguh aku janji mas takan ku sakiti Ratih "Bu, Fahmi mau pamit pulang, hari ini anak anak pulang dari rumah neneknya. Mungkin mereka akan menanyakan bundanya, mungkin insya Allah nanti malam Fahmi mengajak anak anak kemari. " Lagi lagi ibu tersenyum lalu memeluk ku dan menguatkan ku bahwa semua ini adalah ujian rumah tangga ku, harus kuat dan tetap memohon kepada Allah supaya rumah tangganya harmonis kembali. Di parkiran mobil Refa berdiri tepat di samping mobilku. Lalu ku hampiri dia. "Mas, Refa boleh numpang ga? Soalnya kendaraan yang lain udah jarang lewat jam segini. " Tentu saja aku bingung, disisi lain refa adalah perempuan yang sedang minta tolong, kalo gak di tolong sungguh aku laki laki yang sangat tega dan kejam. "Boleh, yuk silahkan masuk. " Ku kira Refa bakal memposisikan dirinya di di belakang ternyata ia duduk di sebelahku lalu tangannya tetiba memegang padaku, tentu saja aku risih. Segera ku tepis tangannya. "Astagfirullah... " "Maaf mas Refa gak sengaja, abisnya tadi mas Fahmi ngebut banget" Karena kurang konsentrasi aku melihat seprti ada yang melintas di depan mobil sehingga secara mendadak mobil di belokan kesamping kiri dan tepat menabrak sebuah papan reklame. Bughhh.... "Allahu Akbar!!! " Pekiku dan semua menjadi gelap. seperti mimpi gelap sunyi dan akupun tak tahu. Khilaf 6 Keadaan ku kini membaik walau harus menggunakan kursi roda. Namun wajahku masih sedikit memar. Malam ini mas Fahmi akan mengajak anak anak, tentu saja aku sangat menantinya aku rindu mereka. Sudah seminggu aku berada di rumah sakit. Mas Agil yang menjagaku ibu hanya hanya bisa siang menemaniku. Mas Fahmi, aku sungguh tak menyangka ia memukul ku seperti ini. Tapi bagaimanapun mas Fahmi adalah suamiku baik buruk nya mas Fahmi ia adalah syurga ku. Hanya sekali ini mas Fahmi membuat kesalahan selama 10 tahun pernikahan, maka jika kali ini ia berbuat khilaf dan ia menyesal tentu saja akan ku maafkan, benar kata ibu memaafkan orang yang membuat salah membuat hati tenang apalagi jika ia orang terdekat, maka justru dari kesalahan itu lah ia akan memiliki pribadi yang lebih hati hati. Mas Fahmi... Aku memaafkan mu, tetapi... Refa... Jika benar apa yang di katakan Refa apakah hatiku ikhlas jika berbagi cinta mas Fahmi dengan nya? Sungguh siapa yang tak ingin di madu? Berbagi kasih? Berbagi cinta? Juga bagaimana dengan anak anak? Ya Allah... Sungguh kali ini ujian mu terlalu indah buatku... Apakah aku sanggup menerima keadaan ini? Sementara tentu saja aku tidak akan sempurna seperti semula, nikmat berjalan telah Allah cabut dari ku... Mungkin ini sebuah pesan cinta dariNya agar aku senantiasa mengingatNya, lebih mencintai Nya, baiklah kupasrahkan saja semua padaNya... Insya Allah aku siap menerima segala takdirNya bahkan jika harus berbagi cinta. "Dek kok bengong?" Mas Agil mengagetkan ku, datang dengan tiba tiba tanpa salam. "Mas nih... Ngagetin aja, ngucap salam dulu napa? " Mas Agil mulai mendekat dan duduk di kursi yang telah di sediakan. "Mas sudah ngucapin salam tapi gak di jawab, kamu nya aja yang gak denger. " Namun kali ini raut wajah mas Agil tampak muram tentu saja aku khawatir apa yang telah terjadi... "Mas... " "Eh... Emmm... Iya... " "Kok sekarang bagian mas sih yang bengong, terus kenapa wajah mas seprti panik seperti itu? " "Emmm.... Anu.... " "Emmm anu apa mas, ayo ngomong yang jelas jangan buat Ratih khawatir... " "Fahmi mengalami kecelakaan tadi sore sepulang dari sini dan ia meninggal. " Deghh... Apa??? Mas Fahmi meninggal??? Tidak.... Tidak yaAllah... Jangan ambil suamiku secepat ini... Apa ini mimpi??? Tidak tidak... Ia berjanji bahwa malam ini akan membawa anak anak kesini... Dan mas berjanji akan merawat ku... Arrggghhh aku.... Aku... Aku belum siap... "Mas Fahmi!!!" Khilaf 7 "Mas Fahmi memang meninggal Ratih, sekarang jenazahnya telah di bawa pulang untuk di mandikan dan di kafani. " Ibu memperjelas ucapan mas Agil. "Fahmi semobil dengan Refa, mungkin karena tak ada kendaraan jadi Refa numpang ikut Fahmi" Lanjut ibu ada rasa perih saat ku dengar Refa ikut serta di dalamnya. "Fahmi tak bisa di selamat kan dan Refa mengalami koma. " Ya Allah mengapa kejadian ini begitu cepat... Mengapa kematian yang harus di hadapi mas Fahmi?? Ah Refa... Gadis itu bagaimanapun hubungannya dengan mas Fahmi semoga lekas sembuh dan sadar. Lalu bagaimana dengan anak anak, kasian mereka kehilangan sosok ayah yang mereka teladani dan mereka idolakan. Ya Allah... Jika ini adalah kematian yg terbaik buat mas Fahmi aku ikhlas. Aku ikhlas ya Allah... Namun anak anak? Apa mereka bisa kuat dan tegar menghadapi kenyataan ini? Di usia masih anak anak mereka sudah bergelar yatim dan aku ibu mereka adalah ibu yang lumpuh yang tak bisa menjaga dan merawat mereka seperti dulu. Ibu memelukku hangat lalu menghapus air mataku, ibu yang selalu menguatkan ku, ibu doakan selalu anak mu ini agar mendapat sebuah keajaiban untuk seperti semula supaya anak anak tak kehilangan sosok ayah pada diriku. "Sudahlah sayang... Ini semua adalah takdir yang harus kau hadapi, insya Allah takdir Allah adalah indah jangan lelah untuk memohon padaNya... Dan teruslah ber HUSNUDZON pada Allah, tawakal nak, " "Bu, tolong antar aku ke ruangan Refa" "Baiklah, ayo... " Ibu mendorong kursi roda ku sedang mas Agil ia seolah terpukul entah apa yang membuat nya sedih pula. Tiiit... Tiiit... Tiiit Kamar Refa sangat sunyi hanya terdengar bunyian dari alat alat yang menempel pada tubuhnya, sedih sekali melihatnya. Gadis cantik itu kini terbaring lemah, padahal yang ku tahu ia adalah gadis yang lincah, periang, mudah bergaul juga modis. Tetapi kenapa ia ada hubungan dengan mas Fahmi?? Apa benar yang di katakan nya?? Mengapa ia memilih mas Fahmi yang telah beristri dan memiliki anak?? YabAllah sembuhkan lah Refa... Berikanlah ia kesehatan kembali seperti sedia kala... Dan berikanlah ia jodoh terbaik di sisimu. "Nak mari kita pulang, mungkin jenazah nak Fahmi telah tiba di rumah, ibu khawatir anak anak shok dan tak ada ibu nya di sana" Aku pun tersadar oleh ucapan ibu, yah anak anak... Aku pun sangat merindukan mereka. * "Bundaaa... Ayah, bunda..... " Teriak Raka sulung ku. Ia segera berhamburan kepelukan ku yang disusul Selly putri kecilku. "Bundaaaa... Loh kenapa bunda pake kursi roda?? Bunda,,, ayah kenapa??? Kenapa ayah di bajuin kaya gitu putih semua terus kenapa di tali,,, nanti ayah ga bisa gerak bunda... Kasian ayah... Kenapa ayah tidur terus bunda... " Putri kecilku yang berusia 5 tahun tak henti banyak bertanya dengan polosnya. Sulung ku yang sudah faham ia hanya memeluk adiknya sambil terisak menangis, dan aku sungguh, aku tak sanggup melihat pemandangan ini. Lalu ku peluk erat mereka sambil ku bisikan sesuatu... "Nak,,, ayah sudah bahagia... Ayah lebih di sayang dan di cintai Allah makanya Allah jemput ayah agar ayah tinggal di syurga," "Apa ayah bisa pulang lagi? Terus ajak Selly, abang juga bunda ke syurga?? " Aku menggeleng sambil nahan tangis. "Mah tolong ajak Selly ke kamar agar istirahat" Mamah segera membopong Selly, dan Raka ia masih terisak ia lebih memilih bersama dengan bundanya. Bunda mari temenin ayah sebentar sebelum ayah di benar benar di bawa oleh Allah, Raka mengajakku untuk duduk di sebelah jenazah mas Fahmi. Raka lalu memeluk erat tubuh kaku itu. "Ayah... Siapa nanti yang gendong Raka, kalo Raka ketiduran di depan TV, Ayah... Siapa yang akan melanjutkan kisah betapa hebatnya taktik perang Rosulullah?? Dan para sahabat lainnya?? Ayah... Siapa yang bakal nemenin Raka maen sepatu roda di sore hari, terus nanti kalo Selly nanyain ayah kemana Raka harus jawab apa ayah??? Kemarin ayah bilang pada Raka, bahwa raka harus menjaga dan menyayangi Selly juga menjaga bunda... Ayah tenang aja Raka bisa, tapi... Raka gak tau kalo nanti Raka butuh pendapat ayah Raka harus gimana?? Ayah bangunlah ayah... Ayah masih punya banyak PR untuk Raka, ayah belum menyelesaikan kisah Zaid bin Tsabit, Ayah bangun ayah... Bangun... Raka belum sanggup jika ayah harus meninggal... Ayah... " Aku makin tak tahan mendengar ucapannya. Tubuh Raka berguncang ia tak henti mencium dan memeluk ayahnya. "Sayang... Kemarilah nak... Ada ibu di sini... Ibu yang bakal menjadi ayah buat Raka dan Selly. Raka seorang laki-laki makan Raka harus kuat, gak boleh cengeng... Karena bunda tau kalo Raka anak hebat. " "Terimakasih bunda... " "Ayahhhhhh" Tetiba saja Sally berlari berhambur ke pelukan ayahnya. "Ayah... Bangun.... Hikss... Hikss... Hiksss" Lalu ia memeluk ayahnya. "Ayah bangun? Ayaahhhh, Selly pengen di gendong ayah, ayo ayah bangun" Aku terkejut mas Fahmi membuka matanya tampak sayu... "Haus" Ucapnya lirih. Sontak semua yang ber takziah pada kaget dan sebagian ada yang lari ketakutan, lalu ramailah rumahku dengan kegaduhan. Lalu bibir yang tadinya kaku itu kini tersenyum pada anak anak, "Sayang ada apa ini? " Ucap mas Fahmi sambil memperhatikan sekitar. Khilaf 8 Aku terkejut saat mas Fahmi sadar, terutama banyak tetangga yang berlarian "Mayat hidup, mayat hidup" Teriak mereka, tak heran rumah menjadi ramai dan gaduh sedangkan putri kecil ku tersenyum bahagia. "Mas Fahmi memang meninggal Ratih, sekarang jenazahnya telah di bawa pulang untuk di mandikan dan di kafani. " Ibu memperjelas ucapan mas Agil. "Fahmi semobil dengan Refa, mungkin karena tak ada kendaraan jadi Refa numpang ikut Fahmi" Lanjut ibu ada rasa perih saat ku dengar Refa ikut serta di dalamnya. "Fahmi tak bisa di selamat kan dan Refa mengalami koma. " Ya Allah mengapa kejadian ini begitu cepat... Mengapa kematian yang harus di hadapi mas Fahmi?? Ah Refa... Gadis itu bagaimanapun hubungannya dengan mas Fahmi semoga lekas sembuh dan sadar. Lalu bagaimana dengan anak anak, kasian mereka kehilangan sosok ayah yang mereka teladani dan mereka idolakan. Ya Allah... Jika ini adalah kematian yg terbaik buat mas Fahmi aku ikhlas. Aku ikhlas ya Allah... Namun anak anak? Apa mereka bisa kuat dan tegar menghadapi kenyataan ini? Di usia masih anak anak mereka sudah bergelar yatim dan aku ibu mereka adalah ibu yang lumpuh yang tak bisa menjaga dan merawat mereka seperti dulu. Ibu memelukku hangat lalu menghapus air mataku, ibu yang selalu menguatkan ku, ibu doakan selalu anak mu ini agar mendapat sebuah keajaiban untuk seperti semula supaya anak anak tak kehilangan sosok ayah pada diriku. "Sudahlah sayang... Ini semua adalah takdir yang harus kau hadapi, insya Allah takdir Allah adalah indah jangan lelah untuk memohon padaNya... Dan teruslah ber HUSNUDZON pada Allah, tawakal nak, " "Bu, tolong antar aku ke ruangan Refa" "Baiklah, ayo... " Ibu mendorong kursi roda ku sedang mas Agil ia seolah terpukul entah apa yang membuat nya sedih pula. Tiiit... Tiiit... Tiiit Kamar Refa sangat sunyi hanya terdengar bunyian dari alat alat yang menempel pada tubuhnya, sedih sekali melihatnya. Gadis cantik itu kini terbaring lemah, padahal yang ku tahu ia adalah gadis yang lincah, periang, mudah bergaul juga modis. Tetapi kenapa ia ada hubungan dengan mas Fahmi?? Apa benar yang di katakan nya?? Mengapa ia memilih mas Fahmi yang telah beristri dan memiliki anak?? YabAllah sembuhkan lah Refa... Berikanlah ia kesehatan kembali seperti sedia kala... Dan berikanlah ia jodoh terbaik di sisimu. "Nak mari kita pulang, mungkin jenazah nak Fahmi telah tiba di rumah, ibu khawatir anak anak shok dan tak ada ibu nya di sana" Aku pun tersadar oleh ucapan ibu, yah anak anak... Aku pun sangat merindukan mereka. * "Bundaaa... Ayah, bunda..... " Teriak Raka sulung ku. Ia segera berhamburan kepelukan ku yang disusul Selly putri kecilku. "Bundaaaa... Loh kenapa bunda pake kursi roda?? Bunda,,, ayah kenapa??? Kenapa ayah di bajuin kaya gitu putih semua terus kenapa di tali,,, nanti ayah ga bisa gerak bunda... Kasian ayah... Kenapa ayah tidur terus bunda... " Putri kecilku yang berusia 5 tahun tak henti banyak bertanya dengan polosnya. Sulung ku yang sudah faham ia hanya memeluk adiknya sambil terisak menangis, dan aku sungguh, aku tak sanggup melihat pemandangan ini. Lalu ku peluk erat mereka sambil ku bisikan sesuatu... "Nak,,, ayah sudah bahagia... Ayah lebih di sayang dan di cintai Allah makanya Allah jemput ayah agar ayah tinggal di syurga," "Apa ayah bisa pulang lagi? Terus ajak Selly, abang juga bunda ke syurga?? " Aku menggeleng sambil nahan tangis. "Mah tolong ajak Selly ke kamar agar istirahat" Mamah segera membopong Selly, dan Raka ia masih terisak ia lebih memilih bersama dengan bundanya. Bunda mari temenin ayah sebentar sebelum ayah di benar benar di bawa oleh Allah, Raka mengajakku untuk duduk di sebelah jenazah mas Fahmi. Raka lalu memeluk erat tubuh kaku itu. "Ayah... Siapa nanti yang gendong Raka, kalo Raka ketiduran di depan TV, Ayah... Siapa yang akan melanjutkan kisah betapa hebatnya taktik perang Rosulullah?? Dan para sahabat lainnya?? Ayah... Siapa yang bakal nemenin Raka maen sepatu roda di sore hari, terus nanti kalo Selly nanyain ayah kemana Raka harus jawab apa ayah??? Kemarin ayah bilang pada Raka, bahwa raka harus menjaga dan menyayangi Selly juga menjaga bunda... Ayah tenang aja Raka bisa, tapi... Raka gak tau kalo nanti Raka butuh pendapat ayah Raka harus gimana?? Ayah bangunlah ayah... Ayah masih punya banyak PR untuk Raka, ayah belum menyelesaikan kisah Zaid bin Tsabit, Ayah bangun ayah... Bangun... Raka belum sanggup jika ayah harus meninggal... Ayah... " Aku makin tak tahan mendengar ucapannya. Tubuh Raka berguncang ia tak henti mencium dan memeluk ayahnya. "Sayang... Kemarilah nak... Ada ibu di sini... Ibu yang bakal menjadi ayah buat Raka dan Selly. Raka seorang laki-laki makan Raka harus kuat, gak boleh cengeng... Karena bunda tau kalo Raka anak hebat. " "Terimakasih bunda... " "Ayahhhhhh" Tetiba saja Sally berlari berhambur ke pelukan ayahnya. "Ayah... Bangun.... Hikss... Hikss... Hiksss" Lalu ia memeluk ayahnya. "Ayah bangun? Ayaahhhh, Selly pengen di gendong ayah, ayo ayah bangun" Aku terkejut mas Fahmi membuka matanya tampak sayu... "Haus" Ucapnya lirih. Sontak semua yang ber takziah pada kaget dan sebagian ada yang lari ketakutan, lalu ramailah rumahku dengan kegaduhan. Lalu bibir yang tadinya kaku itu kini tersenyum pada anak anak, "Sayang ada apa ini? " Ucap mas Fahmi sambil memperhatikan sekitar. "Ayah,kok ayah pake baju ginian sih? Selly bantuin lepasin talinya ya, " Mas Fahmi pun tak kalah kaget melihat keadaannya telah di bungkus kain kafan serta banyak orang yang melayat. Putri kecilku pergi kedapur tak lama ia kembali membawa gunting sedangkan sulung ku mengambil selimut dan aku segera mengambil air minum yang di minta mas Fahmi. "Ayah,,, kata bunda, ayah bakal ke syurga dan ayah ga bakal kembali lagi, sekali apa ayah mau ke syurga lagi apa masih mau nemenin Selly?" Pertanyaan putriku membuat keluarga tersenyum. "Ayah masih ingin bersama kalian, ayah janji ayah tidak akan meninggalkan kalian.. Mungkin ini sebuah peringatan buat ayah agar ayah menjaga kalian menyayangi kalian" Semua keluarga berkumpul, para tetangga pun satu persatu mulai menjenguk. Namun sebagian dari mereka masih dengan keadaan shok. "Apa yang kamu alami ketika mengalami kematian nak?" Tanya ibu mertua "Aku seperti mimpi bu, aku merasakan sendiri sunyi, dan ketakutan yang luar biasa, dan tetiba saja badanku bergetar hebat oleh rasa sakit lalu aku menjerit sekuatnya berharap ada yang mendengar dan menolongku, semua nama yang ku sayang ku sebut satu persatu namun yang hadir 2 orang berpakaian aneh yang satu rapi dan satu lagi menyeramkan, lalu mereka membawaku terbang, aku berteriak 'siapa kalian? Mau bawa kemana aku? ' tanyaku dengan rasa takut yang hebat. Mereka memaksa dan menyeret ku pada satu cahaya merah yang mengerikan Dan ah iya sebelum pergi ke cahaya itu aku seolah di perlihatkan pada satu layar besar sekali di sana terekam jelas dan seperti nyata tangis kalian saat mengetahui keadaan ku terbujur kaku lalu anak anaku, hatiku perih teriris rupanya aku telah berbeda alam dengan mereka. Lalu kedua sosok itu membawa ku kembali namun aku berusaha menolak kulepas tangan kuat mereka dan aku berlari sejauh mungkin hingga ada satu cahaya yang membawaku ke tempat seperti padang, aku merasa kehausan yang luar biasa, kepalaku seakan mensi sih karena panasnya lalu aku mendengar tangisan Selly setelah itu aku terbangun dalam keadaan sepeti ini." "Subhanallah, walhamdulillah, Allahu akbar, sungguh ini adalah kebesaran Allah. " Semua yang mendengar menitikkan air mata. Masya Allah, ini adalah keajaiban. "Raka, Selly jadilah kalian manusia yang senantiasa mendirikan sholat sedekah dan berbuat baik pada sesama, " Lalu mas Fahmi mencium keduanya. "Maafkan mas Ratih, maafkan mas, ayah ibu maafkan Fahmi," "Kami telah memaafkanmu nak" "Lalu bagaimana keadaan Refa? " Tanya mas Fahmi namun tetiba saja ada rasa nyeri di d**a.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN