Khilaf 9
"Refa koma mas, saat ini ia terbaring di rumah sakit. " Aku menjelaskan keadaan Refa pada mas Fahmi ada raut khawatir di wajahnya
"Ya Allah sembuhkanlah ia seprti semula" Doanya tulus sekali ah aku sangat cemburu, jika Refa nanti sembuh apakah mas Fahmi mau menikahi Refa?
"Ratih tidurlah kau perlu istirahat keadaan mu pun belum pulih" Saran kak Agil padaku, ayah dan ibu telah istirahat, anak anak dah pada tidur.
Mas Agil kembali ke kamar ia tampak gelisah setelah terjadi kecelakaan ini.
Mas Agil cuti lama dari pekerjaan nya ia masih merindukan keluarga nya.
Mas ku memang lelaki yang penyayang dan bertanggung jawab tak pernah sekalipun tangan atau lisannya menyakiti hanya saja jika hatinya tak dapat menerima kedzoliman makan ia bisa lebih brutal.
Mas Agil belum menikah ia masih ingin mencari rupiah, demi keluarga yang di cintainya. Itu yang ia katakan padaku tempo hari saat di warung kang Suji yang menyebabkan fitnah keji ini.
"Sayang sini mas bopong,"
Aku terkejut saat mas Fahmi mengangkat ku dari kursi roda ke kasur
"Mas kaget tau"
"Abisnya kamu bengong terus dari tadi"
"Sekarang kamu harus tidur dan istirahat, mas janji akan merawat dan menjagamu sampai kapanpun ini kesalahan terbesar dalam hidup mas telah mendzolimi istri sholehah seperti kamu, mas takan pernah menduakan cinta kita mas janji, mas hanya ingin kau tau bahwa mas sangat menyesal, mas ingin keluarga kita seperti semula utuh dan bahagia... " Aku tersenyum mendengar perkataan mas Fahmi tapi bagaimana dengan Refa?? Bukankah mas Fahmi punya hubungan khusus? Tapi entahlah aku tak tau yang jelas aku tak ingin rumah tangga ku hancur tapi aku kan ikhlas jika suatu saat bermadu kan Refa walau hati perih.
Allah... Berilah kami petunjuk.
*
Mas Fahmi mengajakku ke dokter khusus untuk pengobatan ku, aku bahagia tentu saja aku semangat untuk sembuh dan seperti semula aku akan melayani mas Fahmi dan anak anak sebaik baiknya.
"Seperti nya kaki bu Ratih sangat sulit untuk di sembuhkan bahkan jika sembuh pun akan ada efek sampingnya." Jelas dokter, aku yang mendengar sungguh sedih tapi aku percaya bahwa Allah akan menyembuhkan ku bukankah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu bagi Allah tentu saja ini sangat mudah, yang penting untuk saat ini ikhtiar ku harus di maksimal kan..
Ku lirik suamiku ia tampak khawatir.
"InsyaAllah mas aku bakal sembuh kita cari pengobatan yang herbal dan alami aja mas" Ucapku menenangkan.
"Baiklah"
Kami cari tempat pengobatan terbaik, mas Fahmi mengajakku pada suatu tempat seperti nya pesantren.
Seorang kiai berjubah putih dan bersorban kami salami ada aura kharisma kebaikan dari beliau, sungguh wajahnya meneduhkan, senyumnya mendamaikan dan kata katanya enak di dengar. Aku langsung suka kami memutuskan dalam seminggu 3 kali untuk pengobatan.
"Sayang kita jenguk Refa dulu yah"
Aku hanya mengangguk dan senyum jujur rasanya sedih banget tapi gak ada salahnya juga biar jenguk.
Tak lama kami tiba di ruangan Refa ada orang tuanya di sana.
"Assalamu'alaikum "
"Waalaikumsalam eh Fahmi" Ucap kang Suji yang tak lain adalah ayah Refa juga teh Fani istrinya kang Suji.
Wajah teh Fani tampak sembab sekali mungkin karena tangisannya.
"Yang sabar ya teh," Ku genggam tangannya seandainya aku tidak pakai kursi roda sudah ku peluk teh Fani..
"Kenapa bisa seperti ini kejadiannya Fahmi? "
Tiba tiba saja kang Suji ngomong seprti itu ya aku penasaran kenapa kecelakaan ini bisa terjadi.
"Euumm anu kang saat itu saya seperti melihat seekor kucing melintas makanya saya kaget dan membanting sting sekenanya " Jawab mas Fahmi seperti gugup. Mas Fahmi seperti berbohong, sungguh mas Fahmi tak pandai berbohong aku faham jika ia berbohong dia akan terlihat gugup dan jari jempolnya akan berkeringat dingin, tentu saja aku tahu, bertahun berumah tangga dengan nya membuat ku hafal setiap geriknya
"Fahmi... Awalnya aku marah mendengar Refa kecelakaan karena semobil dengan mu andai waktu itu kau selamat tentu saja aku akan mempertanggung jawabkan semuanya pada mu tapi mendengar berita bahwa kau meninggal aku pun menjadi ikut sedih sebab kau orang yang baik. Kini aku tak marah padamu semua sudah takdir dan kehendak Nya.
Oh iya Fahmi ada satu hal yang ingin aku sampaikan, tapi maafkan aku Ratih jika hal ini menyinggung mu... "
Khilaf 10
"Fahmi, aku baru tahu kalo Refa menyukaimu, bacalah diary nya agar aku tak perlu menjelaskan " Kang Suji lalu menyerahkan buku kecil khas diary remaja. Tak kusangka ternyata ia amat menyukai suamiku, tentu saja hati ku terasa perih saat di lembar pertama terdapat foto mas Fahmi sedang mengenakan koko merk rabbani, foto saat sebelum menikah dengan ku, tampan juga berkharisma.
Mas Fahmi seolah tak menyangka.
Kami membiarkan mas Fahmi membaca setiap lembaran yang di tuliskan Refa. Aku tak ingin baca karena hal itu membuatku terluka.
"Maukah kau menolong kami? "
Ucap kang Suji di tengah kesunyian dan ketegangan ini. Aku sudah tahu pasti kalo kang Suji meminta mas Fahmi untuk menikahi anaknya. Apa aku ikhlas?
Tentu saja hati kecilku berkata tidak tapi lagi lagi semua harus ku pasrahkan kepada pemilikNya...
Toh kami hanya calon jenazah..
Yang ku harap saat ini hanyalah keikhlasan hatiku untuk menerima segala keadaan.
"Maaf kang aku tak bisa menikahi Refa. Sebab permasalahan ini bermula karena kesalah fahaman Refa... Aku memukul Refa sampe seperti yg kang suji lihat sekarang. "
Ucapan tegas mas Fahmi membuat istri kang Suji menangis terisak. Aku pun sungguh tak tega hati ibu siapa yang tak tega melihat kondisi anaknya sperti ini.
"Kami mohon Fahmi... " Pinta istri kang Suji.
"Maaf teh, aku tak bisa. Aku tak bisa menduakan cinta ku pada Ratih. Aku akan bertanggung jawab apapun itu asal tidak untuk menikahi Refa. "
Kulihat tangan kang Suji mengepal seolah menahan emosi. Ku pegang tangannya agar ia tenang dan berdamai dengan keadaan ini. Hatiku insya Allah ikhlas, aku pun seorang ibu pasti akan sedih jika melihat keadaan putrinya lemah tak berdaya seperti ini apapun akan di lakukan demi kesembuhan si buah hati bahkan nyawa pun rela di taruh kan.
"Saya mohon Fahmi, Ratih... "
Kali ini aku tak menyangka istri kang Suji bersimpuh di kaki ku dan mas Fahmi.
"Bangunlah teh jangan seperti ini, aku akan ikhlas jika mas Fahmi akan menikahi Refa. "
Ucapku bergetar. Ia rela mempertaruhkan harga dirinya demi anaknya. Ah hatiku pun ikut terenyuh, ku harap mas Fahmi mau menerimanya.
"Tidak Ratih, aku tidak mau. "
Kang Suji terlihat sangat marah namun segera di tenangkan oleh istrinya dan aku mengajak mas Fahmi pulang.
Akan kami bicarakan baik baik nanti.
Khilaf 11
"Mas... Kumohon menikahlah dengan Refa"
Aku memohon pada mas Fahmi agar ia mau menikahi Refa, apakah aku akan setegar wanita shalehah? Entahlah... Hanya saja ini demi nyawa manusia.
"Tidak Ratih! Sekali tidak tetep tidak! "
"Baiklah mas"
Akhirnya sore itu kami kembali menjenguk Refa, alhamdulillah Refa dah siuman.
Namun di tengah jalan ibu nya Refa menghadang kami ia menangis Refa memang siuman hanya saja keadaannya kembali drop.
Ia kembali memohon.
Aku mengisyaratkan mata kepada mas Fahmi agar ia mau menerimanya.
"Mas aku akan minta cerai jika mas tidak mau menikahi Refa" Ancam ku, mas Fahmi memukul dinding rumah sakit dengan keras. Untung suasana di sekitar ruangan Refa sepi.
Hatiku sakit mengatakan itu... Apakah aku wanita munafik? Tidak ya Allah aku hanya ingin Refa kembali sehat.
" Baiklah itu maumu... Akan aku kabulkan inginmu untuk menikah lagi. "
Ah sungguh aku tak sanggup aku hanya pura pura tegar saja.
Kang Suji dan istrinya tampak bahagia.
Namun hatiku perih.
Ijab kabul akan di laksanakan.
Semoga ada keajaiban untuk Refa.
Suasana syahdu pernikahan pun terlaksana namun tetiba saja keluar cairan bening di matanya...
"Terimakasih Fahmi Ratih, kami sungguh bahagia ... "
Suamiku tersenyum kecut sedang aku hanya memendam rasa sedih dan pilu di hati terdalam.
Aku telah dimadu
Khilaf 12
Sedih, perih dan entahlah perasaan ku sangat sakit saat melihat mas Fahmi mencium kening Refa.
Keadaankupun seperti ini, semoga aku dan Refa bisa menjadi madu yang baik, saling mengingatkan dalam kebaikan. Walapun harus berbagi cinta kasih sayang dan berbagi hal apapun dengannya.
Aku ikhlas akan keadaan ini, Allah ku... Segala cinta ku sepenuhnya akan ku berikan padaMu.
Ridhoi lah jalan ini. Kuatkan lah hati ini...
Jauhkan dari segala penyakit hati kecemburuan lahaula walau quwwata illa billah.
Refa semoga kau lekas sehat dan membaik, kini cinta yang kau pendam selama ini akan berbalas, berbahagialah.
Dalam balutan pengantin sederhana Refa membuka mata,
"Mas Fahmi... Terimakasih sudah menjadikan ku istri mu walaupun yang kedua. " Lirih nya, aku tersenyum menatap Refa.
"Sehat sehat ya Refa,nanti kalo udah sehat kita pulang bersama " Kataku setegar mungkin. Refa tersenyum ke arahku
Mas Fahmi terlihat cuek mungkin hatinya belum menerima ini semua.
Ku genggam tangan nya.
"Mas, sekarang Refa adalah istri mu perlakuan kan lah ia sebagai istri, kamu harus adil, insya Allah aku kuat aku ikhlas".
Mas Fahmi menatapku matanya memerah lalu menangis,
" Maafkan aku Ratih aku melukai mu lahir batin, " Lalu ia memeluk ku erat,
Di madu memang menyakitkan tapi bagaimana pun juga ini adalah takdir ku, jalan hidupku, aku harus ikhlas, aku harus tenang, aku harus memerankan tugasku dengan baik, jika sudah jalan takdirku seperti ini maka aku bisa apa selain menerima keadaan, ikhlas dengan segala yang aku alami...
Allahku... Ampunilah hamba yang masih berlumur dosa ini.
"Mas Fahmi... "
Refa memanggil Mas Fahmi, mungkin dari tadi ia memperhatikan kami berdua.
"Temuilah Mas, ingat kamu harus adil."
Mas Fahmi menemuinya dalam kekalutan ia berusaha tersenyum pada Refa.
"Aku ingin pulang ke rumah mu saja... Tak ingin berlama lama disini, aku ingin sehat. "
Khilaf 13
Pernyataan pada keluarga
Bismillah... Hatiku harus kuat... Raka dan Selly adalah tumpuan hidupku kini. Mas Fahmi biarlah ia berbahagia dengan Refa.
Ya setelah di nyatakan koma Refa kembali sehat, keadaannya membaik saat pernikahan itu terjadi.
Sungguh kuasa Allah. Allah Maha Baik. Jujur rasanya aku ingin tutup mata selama nya. Aku ingin berlari di taman bunga warna warni memandang kupu-kupu, dan tinggal di sana selamanya tanpa beban.
Mamah dan bapak tidak tahu kalo mas Fahmi telah menikah lagi. Tentu respon mereka akan sangat marah jika tahu hal ini.
Terutama kak Agil aku yakin ia Takan memaafkan mas Fahmi. Entahlah bagaimana nanti saja saat ini jalani saja alurnya. Ah sungguh aku tak menyangka kehidupanku akan seperti ini. Aku merasa semua akan baik-baik saja nyatanya kehidupan ku berputar sembilan puluh derajat. Saat ini mas Fahmi tengah mendorong Refa menaiki kursi rodanya. Wajahnya tampak muram aku yakin disaat ia ingin memperbaiki keadaan rumah tangganya ia terjebak pada situasi seperti ini.
Aku pun tak menyangka kenapa Refa bisa mencintai suamiku sejak lama. Padahal ia wanita yang lincah cerdas dan cantik. Aku yakin akan banyak pria di luar sana yang menyukai gadis itu, lalu mengapa harus suamiku.
Bismillah lahaula wala quwwata Illa bilah. Segala kebaikan adalah datang dariMu Allah ku, sedangkan keburukan adalah mutlak karena kesalahan dan segala dosa dosaku.
Air mataku tak henti mengalir aku menyadari selama ini karena banyak dosa dosaku yang telah aku lakukan.
Langkah ini terasa ringan. Hampa tapi harus ku jalani.
Teh Fani mendorong kursi rodaku langkah nya seolah melambat membiarkan suamiku berlalu dengan istri barunya.
"Maafkan teteh Ratih, teteh sungguh tak menyangka kalo Refa sangat menyukai suamimu." Aku tersenyum padanya berusaha menenangkan hatinya agar ia tak merasa bersalah, ya setegar itu aku.
Allaahumma sholi ala Muhammad...
Allah ku, tolong tenangkan hatiku. Apakah ini takdir hidupku? Jika iya maka aku menerima takdir ini dengan ikhlas ridho karena Nya. Bukankah segala ketetapan yang Allah berikan akan menjadi indah pada akhirnya. Ya aku percaya...
...
Tiba di rumah ternyata ada bapak dan ibu mertua. Disana tengah berkumpul keluarga ku juga keluarga mas Fahmi. Tentu saja ini akan menjadi sebuah kejutan yang menyakitkan bagi mereka.
Bapak dan ibu mertua amat menyayangi ku, mereka memperlakukan ku seperti anak kandung mereka tak pernah sekalipun mereka marah padaku , mereka selalu percaya padaku. Apalagi telah dikaruniai cucu. Sungguh nikmat yang luar biasa.
Ayah dan mamahku pun ada disana , rumah ini ramai sekali . Mereka menjenguk ku , juga melihat keadaan mas Fahmi yang sehat tanpa ada kurang pasca kecelakaan terjadi dan kabar bahwa mas Fahmi meninggal.
"Ada nak Refa , kang Suji dan teh Fani." Sambut mamah ramah.
"Silahkan masuk " lanjutnya lagi.
Rumah ini tak begitu besar. Akan tetapi ruang tamu di buat agak luas agar ketika berkumpul keluarga tidak akan sempit. Ruangan ini hanya ada kursi dari kayu dengan ukiran yang indah , kursi nya memanjang sengaja aku dan mas Fahmi membeli kursi kayu. Karena jika sofa akan menjadi sempit.
Semua berkumpul dan tengah berbincang mereka tau kalo aku dan mas Fahmi tengah berobat. Namun siapa sangka oleh dari perjalanan ini adalah istri baru mas Fahmi,
"Bunda kenapa ada Tante Refa?" Tanya Selly sambil menyender manja padaku, kuusap kepalanya dan hanya di balas senyuman. biar mas Fahmi yang menjelaskan nya.
"Loh kenapa kamu yang mendorong Refa nak?" Tanya ibu mertua pada mas Fahmi , tetiba keadaan menjadi sunyi dan tegang.
Raut wajah mas Fahmi tampak gelisah aku yakin ia bingung menjelaskan ini semua.
Kang Suji dan teh Fani hanya diam. Mungkin mereka juga bingung akan menjelaskan seperti apa hanya wajah Refa yang tampak riang dan bahagia senyum nya mengembang mungkin di posisi saat ini ia yang paling bahagia.
"Begini Bu" mas Fahmi kembali menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan jelas sekali disana kegugupan, namun ia mencoba tenang.
"Sekarang Refa adalah istriku kami melangsungkan pernikahan tadi , aku sungguh minta maaf" wajahnya menunduk. Lalu terduduk lunglai setelahelepas kursi rodanya ia tampak lemah dan pasrah, mas dari seolah siap menerima amukan dan amarah dari siapa saja di rumah ini.
"Kau telah menyakiti anak ku lahir batin Fahmi ! Selama ini aku percaya bahwa kau akan membahagiakan putriku , nyatanya saat ini kau bahkan akan membunuh anakku secara perlahan, aku tak terima!" Ayah sangat marah aku tak kuat untuk tidak menangis . Bagaimana aku bisa menemukan ayah jika keadaanku saja seperti ini.
"Fahmi apa maksudmu?!, Kurang apa selama ini Ratih melayani mu hah?! Kau membuat ibu kecewa dan sakit hati Fahmi, ibu tak menyangka" kali ini ibu mertua yang bicara lalu langkah nya menghampiriku,
"Apa hanya karena sekarang Ratih duduk di kursi roda? Sungguh ini tidak adil bagi Ratih."
Untung saja kak Agil sedang sibuk jadi kak Agil tidak tahu keadaan ini, andai ia disini mungkin suasana akan memburuk.
Ayah mengepal tangan , tangannya seolah ingin meninju mas Fahmi namun urung, ayah berusaha tenang.
"Ratih analisis ayo pulang saja kerumah orang tuamu, bawa Selly dan Raka, " lanjut ayah tanpa pamit ayah mendorong kursi rodaku.
Bugh
Bapak mertua menonjok mas Fahmi , ternyata keadaan kacau, mamah membawa Selly dan Raka.
"Kakek jangan pukul ayah" teriak Selly. Raka hanya diam dan menurut.
"Apa ini ajaranku selama ini?" Bapak mertua terus menuju mas Fahmi.
"Ini bukan salah mas Fahmi om" kali ini yang bicara adalah Refa, aku tak ingin bicara.
"Diam! Aku tidak bertanya padamu.!"
"Jangan bentak anakku!" Kali ini kang Suji yang bicara.
Ibu tampak menenangkan bapak
Teh Fani pun sama menenangkan suaminya sedang ayah mendorong kursi rodaku keluar.
"Tunggu yah" aku menahan ayah aku tak ingin meninggalkan ruangan ini.
"Aku yang akan menjelaskan semuanya..."