bermahabbah, meraih cinta Allah

1430 Kata
Khilaf 14 Ratih pergi meninggalkan ruangan ini bersama bapak mertua. Sedikitpun ia tak berbicara padaku. Wajar saja ya aku memaklumi. Ayah marah besar tentu saja aku telah menyakiti menantu kesayangan nya, bagaimana tidak di sayang dulu dengan telaten Ratih merawat ayah yang sakit struk hingga sembuh, ibu yang semakin menua semakin lemah merawat ayah. Jadi Ratih lah yang merawat kedua orang tua ku dengan penuh kasih sayang tanpa mengeluh ataupun bosan. Dia ikhlas. "Bagaimana mungkin aku tidak merawat ibu dan ayah sedangkan anaknya sangat merawat ku mencintai ku bertanggungjawab dan menjadi suami terbaik atas didikannya dan juga merawat nya selama ini, sekarang izinkan aku untuk berbakti pada keduanya tanda syukur ku kepada Allah.." Kata Ratih kalau itu, tentu saja aku semakin mencintai istriku juga kedua orang tua ku semakin menyayangi Ratih. Bugh... "Seperti inikah didikan ku selama ini? " Pukulan nya tepat mengenai pelipisku. Saat aku meringis menahan sakit aku melihat Ratih kembali. "Cukup ayah... Sudah tolong maafkan mas Fahmi semua ini hanya salah faham. Ratih ridho dan ikhlas ayah. " "Tidak nak... Kamu istri yang sempurna tak seharusnya Fahmi melakukan itu. " Kali ini terlihat ada butiran bening di mata ayah. Aku merasakan sakit karenanya. Kali ini ayah bersimpuh di kaki Ratih "Maafkan ayah nak, ayah telah salah mendidik Fahmi.... " "Tidak yah, jangan seperti ini yah, ayah berdiri Ratih gak suka ayah seperti ini" Lalu ayah terbangun ia memeluk Ratih seperti anaknya. "Maafkan saya pak Burhan... " "Tidak pak, bapak tidak bersalah.. " Kata bapak mertua. "Ini hanya salah faham saja yah. Mas Fahmi tidak bersalah. Lagian ini sudah jalan hidup Ratih, takdir Ratih, tidak ada yang perlu di salahkan Ratih menerima semua keadaan ini. " Ratih tanpak tegar saat berbicara seperti itu, ayah semakin menunduk. Ah bodoh, sial... Kenapa aku bisa seperti ini... Cemburu, termakan omongan orang. Allah andai bisa ku ulang waktu... Penyesalan ini sungguh menyiksa diriku sendiri. Banyak tersakiti karena hal bodoh ini. Ya Allah ampuni hamba.. Izinkan hamba memperbaiki segala salah... Izinkan hamba mengobati setiap luka... Saat ini aku hanya mohon ampun padaMu. "Mas,, aku capek, aku mau tidur" Refa berkata tanpa peduli sekitar. "Bawalah Refa ke kamar mas, untuk sementara aku tinggal bersama ayah dan ibu dulu, setelah keadaan membaik aku beserta anak anak akan kembali... " Ah bahkan Ratih meninggalkan ku sendiri.. Aku tak bisa berbicara saat itu hanya mengikuti saran Refa. Bapak dan ibu telah berlalu pergi. Keadaan menjadi sunyi dan sepi. Hanya ada aku dan wanita asing ini. Apa wanita asing... Tidak sekarang dia adalah istri ku... Apa aku bisa berbuat adil? Entahlah... Hatiku sepenuhnya milik Ratih... Aku ingin mengobati lukanya. Ya aku tak bisa tidur, sedangkan kang suji dan istrinya sudah pulang dari tadi katanya akan kembali lagi nanti malam. Untuk melihat keadaan anaknya. Rumah ini sepi biasanya Ratih dan anak anak yang membuat semua ceria. Selly dan Raka kedua anakku yang sepenuhnya di rawat Ratih dengan telaten dan penuh kasih. Didikannya mampu membuat Raka dan Selly tumbuh menjadi anak anak yang sopan dan memiliki adab. Di mushola inilah ruangan yang di buat agak lebar biasa kami menghabiskan waktu... Tahajud bersama, tilawah, mengisahkan anak anak orang orang sholeh terdahulu agar di jadiannya teladan kebaikan. Semua sangat singkat terjadi. Di ruang TV ini biasa Ratih habiskan saat anak anak tertidur ia senang nonton film barat apalagi action, siapa sangka Ratih yang anggun suka nonton action. Kita berdua nonton bersama, saat seperti itu adalah momen paling romantis, Ratih selalu bisa membuat hati ku nyaman saat bersama nya. "Mas,,, kemarilah... " Reva membuyarkan lamunanku.. "Aku gerah, tidurlah... " "Aku tak bisa tidur mas... " Aku mau cari angin... " Tak ku hiraukan Refa... Lagian tinggal tidur saja apa susahnya. Di teras rumah udara memang dingin tapi lebih nyaman. "Assalamu'alaikum... " Dari luar gerbang terlihat kang suji dan istrinya. "Waalaikumsalam... " "Silahkan masuk kang... " "Ini teteh bawain makanan. Loh kok sepi?" "Iya udah pada pulang, Refa juga sudah mulai tidur... " Kang suji duduk bersamaku sedangkan teh Fani masuk ke kamar. Biarlah mereka mengobrol, palingan Refa juga belum tidur. "Fahmi... Tolong jaga anakku, jangan sakiti dia, dia putri satu satunya yang aku miliki. " Ucap kang suji sambil menghisap rokoknya, ah dia tak mengerti apa yang aku rasakan.. Aku hanya mengangkut dengan senyum yang di paksakan bagaimana bisa aku bisa membahagiakan orang lain sedangkan untuk membahagiakan diriku saja tak bisa... Malam kian sunyi akan tetapi kang suji belum juga pulang, begitupun dengan teh Ratih, tunggu bukankah sekarang mereka adalah mertuaku... Ah peduli apa aku dengan hal itu, hatiku masih kacau, belum bisa tertata dengan baik. "Ayo kang pulang, " Akhirnya teh Ratih mengajak kang suji pulang, aku ingin rebahan saja di depan TV tempat Ratih biasa menghabiskan setengah malamnya disini. "Ayo, oh iya ingat fahmi bahagiakan lah Refa. " Lagi hanya anggukan yang bisa ku lakukan. "Assalamu'alaikum mas Fahmi, jangan lupa sholat isya, tenangkan hati dan fikiran mu, pasrahkan semua pada Allah, kita jalani saja hari hari selanjutnya dengan ikhlas. Ini ujian yang Allah beri.. ?" Ratih mengirim pesan WA disertai emot senyum ah Ratih selalu membuat hati tenang. Dia adalah embun bagi keluarga kecil ini, bukankah dia yangenjadi korban? Tapi kenapa dia bisa setegar itu... "Mas Fahmi..... " Teriak Refa dari kamar, argghh kenapa setiap mendengar telinganya rasanya duniaku seakan hancur... "Bentar... " Khilaf part 15 Malas sekali rasanya untuk menemui Refa. Ya Allah ampuni hamba.. Pernikahan ini hanyalah sebuah keterpaksaan... Aku tak bisa berbuat adil maka bantu hamba untuk menceraikan nya, Doa apa itu... Hatiku memang kacau.. Ku pasang hedset dan merebahkan badan di samping Refa, entah apa yang dia fikirkan. Di dasar hati... Aku sangat mencintai Ratih... Duhai Allah jangan hukum aku dengan seperti ini... Aku ingin menebus salahku.... Di matamu tersimpan cinta yang suci Terbang mendalam pernikahan dari beda dunia Meski kau terbiasa hidup tanpa perih Namun kau ikhlas hidup bersahaja Namun bahagia Duhai pendampingku, akhlakmu permata bagiku Buat aku makin cinta Tetapkan selalu janji awal kita bersatu Bahagia sampai ke surga Maafkan aku jika tak bisa sempurna Karena ku bukan lelaki yang turun dari surga Ketulusan hatimu anugerah hidupku Doakan langkah kita tak berpisah Untuk selamanya Duhai pendampingku, akhlakmu permata bagiku Buat aku makin cinta Tetapkan selalu janji awal kita bersatu Bahagia sampai ke surga Duhai pendampingku (pendampingku), akhlakmu permata bagiku Buat aku makin cinta Tetapkan selalu janji awal kita bersatu Bahagia sampai ke surga Duhai pendampingku, akhlakmu permata bagiku Buat aku makin cinta Tetapkan selalu janji awal kita bersatu Bahagia sampai ke surga Sampai ke surga oh wo-oo Suara nasyid kesenangan istriku ini mengalun merdu di telingaku... Aku sangat merindukan istriku... Dia yang selalu memutar lagu ini dulu aku cuek saat mendengar nya , kini saat aku resapi lagu ini penuh makna, tak terasa air mataku mengalir... Tanpa suara, iya tanpa suara, Refa telah tertidur pulas , aku tak peduli... Aku sangat merindukan mu Ratih aku ingin memperbaiki salahku.. Aku ingin membahagiakan mu... Aku belum bisa menerima kenyataan ini... Allah... Tolong hamba Khilaf 16 Allahku... Rukun iman ada 6 Satu iman kepada Allah... Dua iman kepada malaikat Tiga iman kepada Rosul Empat iman kepada kitab Lima iman kepada hari akhir Dan ke enam iman kepada qodo dan qodar, yaitu mengimani setiap takdir yang menghampiri pada kita... Mengimani ketetapan Nya. Takdir ada yang bisa di ubah dan ada yang tidak... Maka aku harus menerima takdirku, mengimani nya juga ikhlas akan ketetapan nya. Tugas ku hanya melaksanakan setiap perintahNya menjauhi segala larangannya. Allah selalu memberiku nikmat maka saat di beri ujian aku harus sabar. Sama seperti nabi Ayub alaisalam yang di beri ujian bertubi-tubi. Andai itu di peruntukan manusia biasa pasti tak akan sanggup memikulnya namun nabi Ayub memiliki keyakinan dan cinta yang sempurna kepada RabbNya maka segala ujian apapun ia nikmati dan masih ia syukuri. Allahku... Dalam hening ini aku memohon padaMu beri aku hati yang ikhlas, hati yang ridho juga hati yang tenang. Suamiku adalah milikmu, maka aku ikhlas jika harus berbagi cinta. Beri aku hati yang tegar beri aku hati yang tidak cemburu sebab selama pernikahan ini hubungan ku dan suami selalu harmonis. Ah fitnah ini sungguh kejam. Tapi tidak, pasti ada sesuatu hikmah di balik ini semua.. Ini adalah jalan takdir hidupku akan ada hikmah di balik setiap kejadian. Malam kian larut, kedua orang tua Ratih tengah terlelap, kedua anaknya pun bermimpi indah tanpa ikut memikul beban Ratih. Dalam heningnya malam ia ber mahabbah pada RobbNya. Mengeluarkan air mata hingga ia malu untuk meminta, mulutnya di penuhi oleh dzikir. Sungguh mengingat segala nikmat ia menjadi malu pada RabbNya.. Lalu ia meraih buku berjudul 'bilik-bilik cinta Muhammad'. Membaca nya perlahan. Sudah lama ia tidak membaca buku. Dengan hati penuh sendu ia membaca halaman demi halaman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN