Urusan pembebasan bersyarat yang batal membuat Ully benar-benar kehilangan kendali atas dirinya. Penjara itu seakan menjadi neraka kedua setelah kegagalannya menghancurkan kehidupan Valiant dan Rosalinda. Dinding lembab berlumut di ruangan sempit itu memantulkan suara teriakannya yang menggema tanpa henti. Ia memukul ranjang besi, menendang pintu sel, berteriak menyebut nama Valiant berkali-kali, menyumpahinya dengan kata-kata yang bahkan membuat beberapa narapidana lain memilih menjauh. Dalam pikirannya, Valiant adalah sumber dari semua penderitaan ini. Ia tidak bisa menerima bahwa lelaki yang pernah ia cintai kini akan menikah dengan wanita lain yang begitu dibencinya. Ketika sipir datang untuk menenangkannya, Ully hanya menatap dengan mata merah menyala, penuh kebencian yang nyaris men

