Malam itu langit Jakarta kelam tanpa bintang. Hujan baru saja berhenti, meninggalkan jalanan yang licin dan aroma aspal basah yang tajam. Di sudut kota, di kamar sempit di lantai dua rumah petak yang nyaris roboh, Ully duduk di tepi ranjang tua. Kakinya terbalut perban lusuh, hasil dari luka akibat melompat dari jendela mansion keluarga William dua malam lalu. Di hadapannya, peta rumah keluarga William masih tergantung di dinding, sebagian sobek karena lembab, namun masih jelas memperlihatkan lingkaran merah di titik-titik yang dulu ia tandai. Satu lingkaran baru kini ia tambahkan di dekat halaman depan, tepat di jalur menuju altar luar ruangan tempat pernikahan akan dilangsungkan. Tangannya gemetar, tapi bukan karena sakit—melainkan karena amarah yang membuncah di dalam d**a. Ully tida

