“Bagaimana Non, enak tidak pijatanku?” tanya Estu dengan sembari terus memijat kepala Gita. Gita mengangguk. “Yup. Pas sekali. Aku suka sekali dengan pijatanmu. Berarti kamu memang pintar memijat.” “Syukurlah kalau Nona menyukainya.” “Memangnya kamu sering memijat orang?” “Sering. Memijat teman-teman O-Be. Kadang-kadang staf juga.” “Apa yang kamu dapatkan dari memijat mereka? Kamu dibayar?” “Tidak nona. Saya hanya menolong, kenapa harus dibayar?” “Tapi kamu capek. Pakai tenaga. Mereka sangat tidak pengertian kalau tidak mau membayar kamu.” “Mereka pengertian, bermaksud untuk membayar. Akan tetapi saya tolak karena ikhlas membantu. Akhirnya mereka akan membayar pijatanku dengan nasi kotak, mie ayam, bakso, dan lainnya.” “O… begitu.” “Hu-um.” “Kamu sepertinya memang orang baik ya?

