Menghitung Domba-domba

1515 Kata

“Bagaimana kabarmu, Es?” Suara ibunya itu sangat lembut di telinga Estu, begitu menenangkan. “Baik Alhamdulillah ibu. Ibu dan adik-adik bagaimana?” “Kami juga dalam keadaan baik. Kabar istrimu bagaimana, nak?” “Nona Gita maksudnya? Baik, bu.” “Alhamdulillah. Lalu kapan kamu akan membawanya ke rumah? Meskipun rumah kita jelek, ibu juga ingin dikunjungi oleh menantu.” Estu terdiam. Dia bingung mau menjawab apa pertanyaan yang ini. Gita sepertinya tidak akan mau untuk berkunjung ke rumahnya. Bukan tanpa alasan, jika menganggapnya sebagai suami saja tidak mau, apalagi menganggap ibunya mertua. “Kalau soal itu… ee… aku belum tau, bu. Nona Gita sedang sibuk mengurus wisudahnya, dan sekarang mulai mengurus perusahaan.” “Tapi ‘kan mengunjungi mertua itu adalah sebuah keharusan. Tidak har

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN