“Es!” Estu menghentikan langkah begitu mendengar panggilan di belakangnya, lalu menoleh dan mendapatkan Iqbal mendekatinya. Iqbal ini adalah salah satu office boy di perusahaan ini, temannya sebelum ini. Estu tersenyum. “Oh, kamu Iq. Ada apa?” “Tidak. Hanya mau tanya, sih. Dari kemarin aku bingung soalnya.” Estu tersenyum kembali. “Memangnya bingung kenapa?” “Bingung mengenai kamulah. Bagaimana bisa kamu itu menjadi assisten pribadi Nona Gita? Mendadak lagi setelah libur beberapa hari. Setahuku kamu bukan sarjana. Maaf ya Es jika aku terkesan tidak sopan. Aku bertanya seperti ini karena selama ini kita teman dekat. Bahkan sampai sekarang aku tidak bisa memanggilmu bapak.” Estu menghela nafas panjang. “Pernyataan kamu sepertinya membutuhkan beberapa jawaban. Aku bingung mana yang haru

