“Gembel itu tidak bisa diancam. Lebih baik sekarang kita ke ruang dosen saja.” Gita berbalik dan langsung melangkah. Bobby segera mensejajari langkah Gita.
“Kenapa tidak bisa diancam? Apa karena dia suruhan papamu?”
Gita mengangguk kecil. Tentu saja dia menjawab begitu karena tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kalau dia sendirilah yang diancam oleh Estu. Dia tidak ingin Bobby tahu tentang kenyataan yang sesungguhnya, bahwa Estu bukanlah bodyguard pilihan papanya melainkan suaminya. Gita tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Bobby jika tahu bahwa dia sudah menikah.
Sementara itu, Estu hanya memperhatikan kepergian Gita dan Bobby. Kali ini dia tidak mengikuti langkah dua kekasih itu melainkan mencari letak masjid. Dia bertanya pada seseorang sebelum akhirnya dia menemukan masjid tersebut.
Masjid sangat sepi. Tak ada satu orangpun di dalamnya. Jangankan di dalam, di teras saja tidak ada siapa-siapa. Keadaan masjid juga terlihat kotor. Sepertinya masjid ini jarang dibersihkan. Sambil menunggu waktu sholat zuhur tiba, Estu memutuskan untuk membersihkannya. Untungnya dia menemukan sebuah sapu di belakang pintu. Dengan sapu itulah Estu membersihkan masjid itu.
Bertepatan dengan Estu selesai bersih-bersih, sayup-sayup dia mendengar suara adzan zuhur dari masjid yang entah letakannya di mana. Yang pasti di luar area kampus. Estu pun segera mengambil air wudhu dan kemudian mengumandangkan adzan dengan speaker. Otomatis suaranya yang sangat merdu terdengar hingga ke seluruh penjuru kampus.
“Allahu Akbar! Allahu Akbar!”
Hati siapa pun langsung bersentak mendengar lantunan Adzan yang disuarakan oleh Estu. Lembut, syahdu, dan membuat rindu pada Yang Maha Kuasa. Beberapa laki-laki langsung berdiri dan meninggalkan kesibukannya menuju masjid. Lantunan Adzan Estu seolah mengingatkan mereka akan kewajiban kepada Tuhan. Dan, sebenarnya ini juga yang menjadi alasan Atmoko menginginkan Estu menjadi menantunya. Dia menyukai suara Estu ketika mengumandangkan adzan.
Yang hatinya ikut berdetak juga adalah Gita. Saat ini dia sedang duduk di sebuah pohon rindang dengan Bobby setelah berkonsultasi dengan dosen. Obrolan mereka langsung terhenti seketika begitu mendengar adzan yang tengah berkumandang itu.
“Bagus sekali ya suaranya? Baru dengar di kampus ini ada yang bisa adzan sebagus itu? Serasa di Mekkah jadinya?” komentar Bobby. Meski mengakui adzan itu sangat bagus, pria ini tidak berniat untuk ke masjid.
“Hum, dan aku rasa yang adzan adalah….” Gita mempertajam pendengarannya. Dia yakin mengenal suara ini.
“Adalah siapa?”
Gita menipiskan bibirnya sebelum akhirnya menjawab. “Si… gembel….”
Mata Bobby langsung melebar seketika. “Maksudmu bodyguardmu itu?”
Gita mengangguk. “Kayaknya sih iya. Soalnya suaranya mirip. Dia juga tadi bilang kepadaku bahwa dia akan ke masjid. Lagian kalau tidak dia siapa lagi? Di kampus kita ini tidak ada yang mau ke masjid kampus.”
“Oh, jadi Si Gembel rupanya alim ya?”
Gita mengendikkan bahunya. “Ya, begitulah.”
“Ooo….” Bobby angguk-angguk. “Pantesan aku tidak begitu yakin kalau dia itu seorang bodyguard.”
“Maksud kamu?”
“Tubuhnya memang besar dan kulitnya coklat. Tapi wajahnya teduh. Mana ada bodyguard mempunyai wajah teduh? Dimana-mana, bodyguard itu wajahnya sangar. Tujuannya agar orang menjadi takut.”
Gita langsung mengulum bibir bawahnya mendengar itu. Mendadak dia menjadi takut kalau rahasianya terbongkar. Mungkin dia salah berbohong dengan mengatakan kalau Estu adalah seorang bodyguard. Harusnya dia mencari alasan yang lebih masuk akal. Dasar bodoh! Bodoh!
“Sudah ah jangan membicarakan tentang dia lagi.” Gita mulai mengalihkan pembicaraan. “Lebih baik kita ke kantin saja. Ini sudah jam makan siang. Aku sudah lapar.”
Bobby mendengus. “Baiklah.”
Keduanya lalu melangkah meninggalkan tempat mereka itu.
Sementara itu di masjid, jamaahnya ternyata lumayan banyak. Bukan hanya para mahasiswa tapi juga dosen dan staf kampus ini. Suara Adzan Estu yang memanggil mereka semua.
“Anak ini mahasiswa S2 baru ya?” Seorang dosen laki-laki berumur bertanya. “Soalnya saya belum pernah lihat sebelumnya.”
Estu tersenyum. “Bukan pak. Saya ini seorang supir. Saya bisa ada di sini karena mengantar anak majikan saya yang kuliah di sini.”
“Ooo… suaranya merdu sekali. Saya sampai ingin menangis mendengarnya,” ucap dosen itu dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih untuk pujiannya, Pak. Tapi tujuan saya tadi adzan adalah untuk memanggil orang-orang agar mau sholat ke masjid. Itu saja.”
“Ya ya. Pastinya begitu. Apakah anak ini akan mengantar anak majikan ke kampus ini setiap hari?”
“Untuk saat ini saya kurang tau pak. Memangnya kenapa pak?”
“Kalau setiap hari alangkah senangnya saya. Dengan begitu, kampus tidak gersang lagi karena suara adzan anak.”
Estu angguk-angguk tanda mendengarkan cerita Pak Dosen dengan seksama. “Soal ini saya juga heran pak. Kenapa Masjidnya sepi dan kurang terawat?”
“Itu karena yang kuliah di sini berasal dari kalangan atas yang sibuk berlomba-lomba mendapatkan dunia saja hingga melupakan Tuhannya. Petugas cleaning service jadi jarang membersihkan masjid karena jarang dimasukin orang. Saya sendiri biasa sholat di ruangan saya.”
“Ooo begitu.” Kini Estu mengerti.
Setelah beberapa saat bercengkrama, mereka akhirnya berpisah. Dosen itu akan masuk kelas sedangkan Estu mencari Gita. Tak membutuhkan waktu lama Estu untuk mencari istrinya tersebut. Ini adalah jam makan siang. Dia sudah menduga pasti Gita ada di kantin. Kebetulan dia juga lapar. Dia akan mengisi perutnya dulu.
Tebakannya benar. Gita memang ada di kantin. Istrinya itu sedang makan bersama kekasihnya. Ah, mereka itu sudah seperti suami istri, kemana-mana berdua.
Pada ibu kantin, Estu memesan nasi dengan lauk telur. Yang murah-murah saja karena dia tidak mempunyai uang yang banyak. Sekarang ini saja dia sudah berpikir mencari uang lain selain dari gajinya menjadi OB di perusahaan mertuanya. Dia sudah menjadi suami Gita, otomatis seharusnya dia juga yang memenuhi kebutuhan istrinya itu.
Tunggu, disinilah sulitnya. Gajinya sekarang tidak akan mungkin bisa mengcover keperluan Gita. Bukan hanya biaya kuliah dan makan, tapi juga biaya perawatan seorang Gita yang pasti tidak sedikit. Kalau dipikir-pikir, darimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?
Minta pada Atmoko yang kaya raya? Oh, tidak. Dimana harga dirinya sebagai seorang suami. Dia harus berpikir dan berpikir.
Estu mulai menikmati nasi dengan lauk telurnya. Estu makan dengan sangat lahap dan terlihat sangat nikmat, tidak seperti Bobby yang makan dengan lesu karena di rumah selalu makan makanan yang lezat. Gita yang melihat cara makan Estu, sampai menelan saliva. Dia hanya berpikir Estu benar-benar memalukan karena makan seperti orang yang kelaparan. Pantas saja badannya besar dan sepertinya mempunyai tenaga yang banyak. Kalau dipikir-pikir, Gita menyadari Estu memiliki postur tubuh yang lebih laki daripada Bobby.
"Kenapa kamu memperhatikan bodyguardmu terus? Jangan bilang kamu suka sama dia."
Gita terhenyak mendengar itu. Dia baru sadar kalau sejak beberapa detik yang lalu memperhatikan Estu. Padahal, dia yakin dia tidak tertarik pada pria itu dan membenci Estu karena telah mengikatnya dalam ikatan pernikahan.
"Oh, eh, maaf Bob," ucap Gita Gelagapan. "Aku heran saja dia makannya seperti orang kelaparan. Padahal aku lihat di piringnya hanya ada lauk telur kuah dan sambal."
Mendengar itu, Bobby jadi penasaran. Dia pun menoleh dan... memang begitu keadaannya. Estu makan dengan sangat lahap.
Bersambung...