Ancaman Gita

1335 Kata
Mendapati kenyataan ini, Estu merasa bingung. Dia tidak pernah tega menyakiti perasaan seseorang, tapi kini menyakiti perasaan istrinya sendiri. Bagaimana tidak, pelan-pelan dia akan memisahkan Gita dari Bobby, pria yang dicintai oleh istrinya tersebut. Karena meskipun pernikahan ini terjadi tanpa cinta bahkan terpaksa, Estu tidak berniat untuk menceraikan Gita. Pernikahan itu adalah sesuatu yang sakral dan suci. Pernikahan tidak bisa dijadikan main-main. Estu mendengus resah. Namun mau dipikirkan seribu kali pun dia tidak bisa melepaskan Gita yang sudah sah menjadi istrinya. Ini problema baginya, tapi dia belum tahu harus melakukan apa. Dia hanya ingin tidak menyakiti. Sementara itu, Gita dan Bobby masih serius membicarakan perihal hubungan mereka yang seperti berada di jalan buntu. Hingga saat ini yang nyatanya sudah dialami sejak lama, mereka tidak bisa mengambil langkah. “Aku berharap kamu masih mau bersabar lagi, Bob,” pinta Gita dengan sangat. Cinta gadis ini pada Bobby memang sangat besar. Gita sudah sangat nyaman dengan Bobby. “Aku sudah bersabar, Git, kamu tau itu bukan?” balas Bobby dengan nada menegaskan. Gita mengangguk lemah. “Aku pun bersedia bersabar lagi jika kamu meminta,” tambah Bobby. “Akan tetapi, kesabaran ada batasnya. Kira-kira, sampai kapan aku harus bersabar? Bisakah kamu memberitahu batas akhir dari waktunya?” Gita tertunduk dalam. Ini yang tidak bisa dia lakukan. Sekarang masalahnya bertambah kian rumit. Dia sudah bersuami, jadi bagaimana dia bisa menjanjikan batas akhir waktu penantian Bobby untuk bersabar itu? Oh, Tuhan. Gita benar-benar merasa stress. Sebenarnya dia tahu bahwa sulit bagi mereka untuk bersama mengingat dirinya sudah menikah. Akan tetapi Gita juga tidak bisa melepaskan Bobby begitu saja karena rasa cintanya yang dalam pada kekasihnya itu. Bobby menyeringai melihat Gita yang tertunduk. Dia sudah bisa membaca tanpa Gita menjawab. “Kenapa tidak bisa? Atau jangan-jangan kamu sudah punya calon suami pilihan papa kamu?” Gita terhenyak. Dia langsung mengangkat wajahnya. “Tidak, itu tidak benar. Aku tidak mau menikah selain dengan kamu, Bob. Jadi jangan menduga-duga. Aku juga mohon tunggulah lagi. Bukankah tidak ada cinta yang berjalan dengan mulus? Lagian kita masih kuliah, Bob. Apa tidak sebaiknya saat ini kita konsentrasi dengan ujian skripsi kita dulu?” sebisa mungkin Gita berkilah. Bobby menipiskan bibir. Dia menyadari sesuatu. “Ya, aku rasa itu benar. Sorry.” Gita tersenyum. “Tidak apa-apa. Bagaimana kalau sekarang kita ke perpustakaan saja? Kita belajar di sana agar ujian skripsi nanti nilai kita bagus.” Bobby tersenyum. “Oke. Siapa takut?” Gita dan Bobby lalu berdiri dan melangkah keluar kantin sembari bergandengan tangan. Ketika mereka melewati Estu, Gita seperti melewati orang asing yang tidak dikenalnya. Baginya, semakin Estu tahu kedekatannya dengan Bobby, itu semakin baik. Dia berharap dengan begini, Estu melepaskan dirinya sehingga dia bisa segera menikah dengan Bobby. Melihat Gita dan Bobby melangkah meninggalkan kantin, Estu pun beranjak dari duduknya. Dia melangkah mengikuti Gita dan Bobby di belakang dengan jarak yang lumayan jauh. Estu bahkan mengikuti mereka hingga masuk ke dalam perpustakaan. Jika di sana Gita dan Bobby mempelajari skripsi mereka, tidak begitu dengan Estu. pria itu memilih mengambil buku agama. Namun, tidak serius untuk dibaca melainkan hanya untuk pegangan saja. pandangan tetap fokus pada Gita dan Bobby yang terlihat mesra walaupun sedang belajar. Dua jam di perpustakaan berlalu. Kini mereka keluar dari ruangan yang penuh dengan buku itu. Mereka menuju ruang dosen. Tapi sebelum masuk ke dalam ruangan itu, Bobby yang sudah melihat Estu sejak di perpustakaan, geleng-geleng kepala. “Ck ck ck, yang benar saja dia mengikuti kita terus, Git? Dia pikir kita buronan apa?” Kening Gita mengerut. "Maksud kamu?" "Bodyguardmu itu. sejak tadi dia mengikuti kita terus lho." "O ya?" Gita menoleh ke arah yang ditunjuk Bobby. Matanya langsung melebar begitu mengetahui apa yang dikatakan oleh Bobby benar. Dia melihat Estu tak jauh di belakangnya. Gita mengencangkan rahangnya dan kemudian dengan kesal mendekati Estu. Dia menarik Estu masuk ke dalam sebuah ruangan yang tidak terpakai. Tak hanya masuk, Gita juga menutup pintu ruangan itu agar tidak ada siapa pun yang mendengar apa yang akan dikatakannya pada Estu. “Bisa tidak kamu tidak mengikuti aku terus, hah?” tanya Gita dengan jarak yang begitu dekat di depan Estu dan dengan jari telunjuk menunjuk ke atas, pada wajah Estu yang lebih tinggi 15 cm darinya. Ini adalah kali pertama mereka sedekat ini sejak menikah. Estu menggeleng pelan. “Maaf tidak bisa, Non. Saya menemani Nona ke kampus adalah untuk bersama Nona. Jadi, kalau pun bukan saya pria yang ada bersama Nona, setidaknya saya ada di sekitar Nona.” “Tapi saya tidak suka diikuti!” sahut Gita dengan suara yang tiba-tiba meninggi. “Baik jika Nona tidak mau diikuti. Berarti saya berjalan di samping Nona saja.” “Apalagi itu bodoh!” Estu langsung terdiam sejenak. Kedua mata mereka pun bertemu satu sama lain. Gita memiliki mata yang besar, bening, dan indah. Sedangkan Estu memiliki mata yang sendu yang jika sudah serius menatap maka berubah tajam dan seperti mau menusuk. “Nona, sebaiknya kita tidak memperdebatkan hal ini,” ucap Estu akhirnya. “Karena perintah Nona agar saya tidak mengikuti itu tidak mungkin saya lakukan. Ini adalah perintah atasan yang harus saya patuhi. Yang terpenting adalah saya tidak mengatakan kepada orang-orang kampus ataupun Bobby bahwa saya adalah suami Nona.” Gita mengatupkan bibirnya. Perlahan dia mundur dan menjaga jarak dengan Estu.”Jadi kamu tidak mau menurut jika aku menyuruhmu agar kamu jangan mengikuti aku?” Estu mengangguk. “Iya, Nona. Itu karena Pak Atmoko adalah bos saya. Hanya padanya aku akan patuh.” Gita bergerak kian menjauh dengan wajah frustasi. Dia hendak keluar dari ruangan ini untuk kembali ke tempatnya semula yang ada di luar ruangan setelah mendapati apa yang dilakukannya sia-sia. Estu Sepertinya tidak takut kepadanya. Gita menyentuh handel pintu untuk dibukanya. Dia menggerak-gerakan handel tersebut. Sulit. Meskipun sudah berusaha, pintu tidak terbuka juga. Tak menyerah, Gita terus mencoba. Tapi hasil tetap nihil. Pintu masih saja tidak terbuka. “Ih, susah sekali sih!” keluh Gita sembari melepaskan tangan dari handel pintu. Dia menyerah. Melihat itu, Estu geleng kepala. Dia mendekati Gita dan berkata; “Biar aku yang mencoba untuk membukanya.” Gita menoleh dan kemudian bergeser untuk memberi kesempatan kepada Estu untuk mencoba membuka pintu. Tapi ternyata apa yang dialami Gita tidak dialami oleh Estu. Suaminya itu membuka pintu dengan sangat mudah. Hal itu tentu saja membuat Gita sedikit merasa malu. Sepertinya pintu ini lebih menyukai Estu daripada dirinya. Dasar pintu! Tak menunda, Gita hendak keluar ruangan itu kembali ke Bobby berada. Namun langkahnya terhenti ketika Estu berkata lirih: “Nona, sebentar lagi akan masuk waktu sholat zuhur. Nanti saya akan ke masjid kampus untuk sholat. Tolong Nona jangan keluar kampus agar saya tidak kesulitan mencari Nona nanti.” Gita menoleh dengan seringai merendahkan.“Kamu mengaturku?” “Terserah Nona mengartikannya sebagai apa. Akan tetapi, itu permintaan dari saya. Tolong kerja sama dengan baik jika Nona ingin rahasia kita tidak bocor sampai ke telinga kekasih anda.” Mendengar itu, Gita menggeram kesal. Apakah kalian mendengar apa yang dikatakan Estu? Gila Estu mengancamnya. Ternyata meski Estu terkesan polos dan tak berdaya, ternyata Estu tidak selemah kesannya. Gita kesal bukan kepalang. Dengan langkah yang sedikit dihentak-hentakan, Gita pun melangkah mendekati Bobby yang setia menunggunya dan memperhatikan sejak tadi. “Apa yang kamu lakukan di dalam ruangan itu pada bodyguardmu, Git? Kamu tidak diapa-apain sama dia ketika berada di sana bukan? Gita tersenyum getir. Bobby tidak tahu kalau semalam pun dia dan Estu berada berdua di dalam ruangan tertutup, yaitu kamarnya. “Hmm, tidak. Dia adalah orang yang dibayar oleh papa, jadi tidak akan berani berbuat macam-macam kepadaku.” “Ooo, jadi di dalam sana tadi kamu memarahinya?” tanya Bobby penuh selidik. “Ya, begitulah. Aku bilang aku tidak suka jika dia terus mengikuti langkahku. Aku memintanya untuk berhenti mengikutiku.” “Lalu apa katanya? Apakah dia mau menuruti kehendakmu? Dia itu ‘kan dibayar oleh papamu.” Gita terdiam seketika. Jelas praduga Bobby benar. Estu tidak mau mendengar perintahnya dan hanya akan melaksanakan perintah Atmoko. Oh, tidak. Bukan hanya tidak mau menuruti perintahnya, Estu malah mengancamnya balik. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN