"Jadi kurang enak, huh!!! INi semua gara-gara kelamaan, jadinya keburu dingin," ujar Kana kecewa, tapi tetap menghabiskan makanan yang dipesannya dari luar.
Setelah itu Kana pun mmbereskan sayuran yang juga sengaja dipesannya untuk menutupi makanannya itu. Lantas segera ke kamar karena sudah mengatuk.
Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba Evano menghadangnya dan tanpa babibu mencekal lengannya. Kana sontak terkejut dan menatap suaminya itu meminta penjelasan, tapi dia malah menyesal karena dia malah berhadapan dengan tatapan tajam Evano.
'Duh, apa dia tahu aku habis makan Seblak? Gawat! Mat* aku!' batin Kana langsung ketakutan.
"Katakan, apa yang sudah kau lakukan pada Wulan, Kana?!" tanya Evano serius.
Hal itu membuat Kana lega, karena artinya yang barusan membuat suaminya tantrum bukan soal makanan yang dipesannya. Meski hal itu juga tak bertahan lama. Karena selanjutnya Kana justru tak bisa tenang.
"Kau tahu Kana, Wulan sampai nekat bunuh diri dan seandainya Ryder tidak memergokinya Wulan bisa tewas!" ungkap Evano.
Membuat Kana pun terbayang kejadian di kantor saat perempuan itu menemuinya di sana. 'Masa iya, cewek jadijadian itu sampai segitunya. Cuma karena cemburu, nekat mengakhiri hidup. Gak masuk akal, huh!! Jangan-jangan ini cuma akal-akalannya saja!' batin Kana.
"Jawab Kana!" bentak Evano membuat Kana tersentak kaget. "Kamu mengancam Wulan?!
Kana menggelengkan kepala, lalu entah keberanian dari mana, dia pun berbalik memegang lengan Evano.
"Ayo, Mas. Antar aku ketemu mbak Wulan, aku menyesal, aku tidak tahu begini jadinya, aku harus meminta maaf," jelas Kana membuat Evano kaget. Lantas suaminya itupun menatapnya dengan serius.
"Mas, ayo!"
Hal itupun membuat Evano segera meraba dahi Kana, memastikan mungkin istrinya itu sedang melantur karena masih sakit. Namun, setelah melakukan itu, Evano sadar istrinya itu sudah hampir pulih dari demamnya.
"Kamu serius?!"
'Lah, bukannya ini maumu? Ck, giliran diturutin, masih saja nanya ...' ujar Kana membatin kesal, tapi tentu saja dia tidak menyampaikannya langsung pada Evano, karena tentu saja dia takut.
Kana bahkan hanya mengangguk dengan wajah polosnya, lalu secara tidak terduga tiba-tiba Evano mengusap puncak kepalanya, dan wajahnya yang tadinya tegang diselimuti amarah pun mereda.
"Besok saja, kamu kan masih demam. Sudah sana beristirahatlah ..." jelas Evano.
Meski pria itu bicara dengan wajar datar, nyaris tanpa ekspresi, Kana tetap saja aneh dan tak menyangka akan berakhir demikian.
"Kenapa masih diam, Kan. Ada yang sakit, hm?" tanya Evano perhatian.
Tidak sampai di sana, Kana pun dibuat kaget saat merasakan tubuhnya melayang di udara, karena tanpa babibu Evano menggendongnya. Bukan seperti memikul sekarung beras sebagaiman biasanya, tapi ala bridal style. Sampai di kamar, pria itu juga menaruhnya dengan perlahan ke atas kasur, dan sekali lagi pria mengusap puncak kepalanya dan membuat Kana bingung.
"Ah, sudahlah. Ngapain juga dipikirin, bikin pusing saja. Mending aku pikirkan rencana untuk besok. Hm, aku harus memberi kejutan pada ratu drama itu!" ujar Kana, setelah Evano pergi dan memastikan suaminya itu tidak akan kembali ke sana.
*****
"Pergi dari sini, pergi!!" teriak Wulan histeris.
Dia langsung mengamuk, melempar bantal atau apapun yang bisa diraih dan digunakannya untuk meluapkan emosinya.
Namun, Kana yang tahu maksud perempuan itu yang tak menerima kehadirannya, justru maju dan semakin mendekatinya.
"Maafkan aku, kak Wulan. Maaf ...." Suara Kana semakin melemah, tapi kemudiaan dia menyeringai dan juga sedikit berbisik dihadapan Wulan. "Aku sangat suka di bawah pujaanmu dan menikmatinya setiap malam!"
Wajah Wulan pun semakin memerah, semakin panas mendengar kalimat itu, lantas dia bangkit dan mendorong Kana sampai tersungkur jatuh ke lantai.
"Aaarrggh!"
"Kana!"
Evano mendekat dan menghampiri Kana. "Di mana yang sakit, hm?" tanya pria itu perhatian.
Kana sebenarnya hampir baik-baik saja dan tidak masalah dengan luka ringan akibat kejadian itu. Cuma tersungkur, dan itu bukan masalah besar baginya yang merupakan gadis tangguh. Dia bahkan pernah terjatuh dari tangga, dan banyak lagi yang lebih parah saat mencoba kabur dari suaminya. Kana tidak manja dan bisa mengurus dirinya saat yang lebih parah tersebut.
Namun, dia malah meringis cukup meyakinkan kalau dia tak baik-baik saja. "Ughhhh ..." rintih Kana meraih lengan suaminya. "Kakiku sepertinya terkilir, Mas. Sssttt, rasanya sakit dan tidak bisa digerakkan ...."
Kedua bola matanya langsung berkaca-kaca, memperlihatkan betapa sakitnya yang dia alamat. Hal itu pun lantas membuat Evano menggendongnya.
"Aku tidak menyangka kau akan seperti ini Wulan. Kana ke sini untuk meminta maaf, tapi kau malah tidak menghargai niat baiknya!" tegas Evano gusar.
Kana langsung tersenyum puas dan menatap Wulan dengan tatapan yang mengejek, sembari kemudian mengalungkan tangannya ke leher Evano sembari merapatkan jarak di antara mereka. Lebih tepatnya dia sengaja memanas-manasi Wulan.
'Ckckck, pasti kagetkan terkejut aku juga bisa berdrama sepertimu!' Kana membatin seraya menatap Wulan dengan tatapan mengejek.
"Tidak apa-apa, Mas. Kak Wulan memang selalu salah paham padaku. Bagaimana lagi sepertinya aku memang tidak pantas bersanding denganmu. Dia selalu cemburu, merasa pernikahan kita, membuatnya merasa aku merebutmu darinya," ujar Kana seolah tak berdaya.
Evano tak menjawab, tapi tatapannya pada Wulan semakin tajam. Membuat Kana tentu saja semakin di awan, puas membalas Wulan.
Tepat saat itu Ryder masuk ke sana dan terkejut menemukan kamar rawat adiknya berantakan.
"Hiks-hikss! Kakak ...."
Suara Wulan segera menyadarkan pria itu dan mengalihkan perhatiannya pada adiknya.
"Apa yang terjadi di sini, kenapa adikku jadi seperti ini?" tanya Ryder dengan nada geram dan langsung menatap Evano dengan tatapan menuntut.
"Kau tanya saja padanya, apa yang sudah dia lakukan pada istriku!" ujar Evano dingin seraya menggendong Kana berlalu dari sana begitu saja.
"Apa yang terjadi Wulan, apa yang kau lakukan pada istrinya? Kau cemburu lagi dan melakukan hal-hal yang aneh?!"
"Apa maksudmu, Kak?!"
Wajah Wulan yang tadinya sayu tak berdaya, langsung berubah menjadi tegang. Ryder sepertinya sudah mengetahui sesuatu.
"Aku sudah tahu apa yang terjadi padamu, semalam kamu tidak benar-benar mencoba bunuh diri karena wanita itu bukan?!" Nada suaranya semakin meningkat. "Kamu sendiri yang menciptakan masalah agar diperhatikan Evano. Melakukan hal konyol dengan melukai dirimu sendiri?"
"Aku sangat mencintai kak Evano dan kamu tahu itu," jelas Wulan dengan nada pelan sambil menundukkan pandangannya.
"Aku sangat menyukainya, dan selama ini berusaha keras untuk mendapatkan perhatiannya. Apapun aku lakukan, tapi kenapa dia malah menikahi perempuan lain kak? Kenapa ...."
Air mata Wulan mengalir begitu saja. Turun dan membasahi pipinya. Perempuan itu nampak putus asa, tapi di sisi lain tekatnya masih terlalu kuat untuk menyerah.
Ryder yang melihat adiknya demikian pun terenyuh. Lantas memeluknya lantaran tak bisa berbuat apa-apa.
*****