Begitu bel istirahat kedua berbunyi, aku berjalan menuju ruangan yang kata mereka hanya diperuntukkan bagi kalangan tak tersentuh. Sebenarnya, ruangan ini bisa dimasuki siapa saja, tapi saat kamu tidak memiliki teman sefrekuensi, kamu akan menjadi anomali. Tidak akan ada yang bertanya padamu. Apalagi mengajak berkenalan. Itu mustahil.
Pembicaraan di dalam ruang ini kurang lebih sama setiap hari. Tentang perusahaan. Tentang berita terbaru di kalangan pengusaha. Pernikahan sesama anak konglomerat, atau harga saham yang terjun bebas. Serta merger dua perusahaan dikarenakan adanya pertunangan. Itu sudah menjadi hal wajar. Kita akan tahu, siapa lawan, siapa teman. Kita harus bergaul dengan mereka yang sekubu.
Itu yang aku pelajari mengenai ruang tersebut. Ruangan yang diwariskan secara turun temurun oleh kakak-kakak kami. Oleh para pewaris perusahaan yang nasibnya sudah ditentukan sejak masih di dalam kandungan.
Selain ruangan ini, ada ruang lain yang khusus berisi anak-anak bule yang belum fasih bicara dengan menggunakan bahasa Indonesia. Mereka seperti membentuk komunitas sendiri alih-alih bergaul bersama kami. Tidak heran jika di dalam BSHS terbentuk beberapa kelompok. Secara naluriah, setiap anak yang baru bergabung di sekolah ini akan memilih kelompoknya sendiri. Wajar jika kami tidak saling mengenal satu sama lain walau berada di lingkungan yang sama setiap hari.
“Lo kabur ke mana?”
Suara Nathan membuatku menoleh. Aku baru saja menutup pintu saat mendengar pertanyaan tak terduga darinya. Tadinya, aku pikir akan menjadi orang pertama yang berada di ruangan ini, sehingga aku tidak perlu bertemu dengan pertanyaan semacam ini.
“Belakang.” Aku tidak ingin menjelaskan tentang rooftop. Di sana bisanya Nessa merokok. Entah kenapa aku merasa tidak perlu memberitahu orang lain akan keberadaannya. Bisa saja gadis itu mendapat masalah. Walau aku tahu, Nessa tidak butuh bantuanku untuk menutupi kelakuannya. Lagipula, dia menyebut diri sebagai si pembuat onar. Dia pasti punya berbagai cara untuk mengantisipasi kemungkinan semacam ini.
“Belakang?” Nathan bergumam.
Aku rasa dia takkan berhenti bertanya sebelum jawabanku membuatnya puas. “Tribun. Aku duduk di sana. Ingin main, tapi tidak ada lawan. Tidak enak main sendiri.”
“Lagi ada masalah?”
Posisi duduk Nathan yang berada di salah satu sofa membuatku mendekat. Belum ada orang lain di sini. Jika Nathan bisa datang lebih cepat, kemungkinan besar dia membolos pada mata pelajaran terakhir.
“Lo nyariin gue?”
“Ah, iya. Hampir lupa. Pertanyaan Rissa beberapa hari lalu ngebuat gue penasaran. Lo menghabiskan waktu bersama Vanessa setelah Senara pergi bersama Rengga?”
“Ya.”
“Kenapa?”
Kenapa? Bukankah alasannya jelas, supaya dia tidak bertemu dengan Clarissa lagi? Untuk apa mereka dilerai jika dibiarkan bertemu?
“Kenapa?” Nathan mengulang.
“Biar mereka tidak bertemu lagi. Keributan yang ditimbulkan Rissa akan membuat gadis itu dimasukkan asrama. Gue tidak mau itu.”
Nathan terlihat kaget, tapi dia mengangguk. Aku duduk setelah meraih sebotol air mineral dari lemari pendingin.
“Lo ngerokok?” Matanya menyipit. Dia memajukan tubuhnya supaya lebih dekat denganku.
Rokok Nessa. “Tidak.” Aku berkata tegas.
Nathan melebarkan matanya. Dia jelas-jelas tidak percaya. Pasti baunya begitu menyengat. Kenapa aku tidak menyadarinya? Kenapa aku merasa biasa saja? Jangan-jangan aku sudah mulai terbiasa dengan aroma semacam ini. Padahal aku baru bertemu dengan gadis itu tiga kali. Ini gawat.
“Lo mau nyium bibir gue?”
Nathan langsung menggeleng. Dia mundur hingga bersandar pada punggung sofa. “Gue cuma nggak mau lo dapat masalah.”
Aku mengangguk dan mulai membuka tutup botol. Sepertinya dia tahu benar akan reputasi yang aku bangun selama ini. Reputasi tersebut tidak boleh ternoda dengan batang rokok. Walaupun terdengar aneh. Pasalnya, di mata masyarakat, aku adalah cucu Tjandra Gunawan. Kakekku pemilik pabrik rokok. Mereka menyebutnya taipan rokok. Lantas, aku –cucunya, dilarang keras menyentuh benda tersebut.
“Sebenarnya gue pensaran dengan apa yang kalian lakukan saat bersama.”
Aku menyimpan botol air tersebut ke meja. “Bersama? Kesannya kami sedang ada hubungan khusus.”
Nathan terkekeh. “Terlalu menyebalkan memang lahir sebagai pewaris perusahaan. Kita ini barang dagangan. Kita akan dijual mewakili nama perusahaan pada pangusaha lain yang memiliki seorang putri. Gue heran, kenapa sampai detik ini belum ada buat lo? Jangan sampai berita tentang lo berdua dengan Vanessa menyebar.”
“Lo suka sama si Vanessa ini, ya?”
Kening Nathan berkerut. Matanya memicing.
“Rissa yang bilang.”
Dia mendengus. “Dia memang layak untuk disukai. Dia cantik. Public figure juga. Siapa memangnya yang tidak suka dengan gadis seperti itu? Ya, tapi kita semua tahu, untuk lebih dari sekadar suka, itu tidak mungkin.”
“Public figure?”
“Selebgram.” Nathan berkata kalem. “Follower-nya jutaan.”
Nessa? Gadis itu suka berfoto juga? Melihat paras wajahnya yang cantik, wajar, sih, jika dia melakukan itu. Aku rasa di foto bangun tidur saja akan mendapatkan jutaan like. Aku tidak menyangka, cewek yang mengaku trouble maker ternyata suka eksis juga. Tadinya kupikir dia jenis manusia yang lebih suka menyembunyikan diri. Betapa seringnya aku melihat dia sendirian. Tanpa teman.
“Content dia tentang apa?” Aku penasaran juga. Kira-kira apa yang akan dipikirkan gadis ini sebagai seorang public figure? Rokok?
“Dia tidak melakukan apa-apa.”
“Hanya foto? Padahal dia bisa menjadi seorang foto model dengan postur tubuhnya. Dia akan mendapatkan banyak endorse.” Dengan begitu dia takkan bicara seolah ibunya kewalahan membiayai sekolahnya.
“Lo nggak tahu siapa dia?”
“Vanessa Gilbert. Rissa pernah bilang.”
Nathan berdecak. “Lo benaran nggak tahu? Dia mendapatkan follower sebanyak itu karena dia anak artis ternama.”
Oh, oke. Siapa artis yang sekiranya menderita kanker? b**o. Aku bahkan tidak tahu nama-nama artis. Aku tidak pernah peduli akan kehidupan mereka. Bukan kehidupan mereka saja. Wajah mereka aku juga tidak begitu hafal.
“Ibunya seorang diva. Penyanyi terkenal. Ayahnya aktor. Sejak kecil dia didapuk akan melanjutkan karier salah satunya. Entah penyanyi, atau artis. Tapi, ternyata tidak keduanya. Dia sering muncul di layar kaca. Dulu, waktu masih SD ... mungkin. Dia sering tampil. Belakangan dia tidak melakukan itu lagi.”
Aku terkekeh. Tidak menyangka Nathan akan tahu kehidupan orang lain hingga sedetail itu. “Lo benaran suka padanya?”
Dia berdecak lagi. “Lo nggak pernah nonton teve?”
Aku menggeleng.
Dia menghela napas. “Sejak kecil?”
Aku menggeleng lagi. Banyak kegiatan yang aku lakukan sejak masih kanak-kanak. Aku tidak punya waktu untuk duduk dan menikmati waktu tanpa melakukan sesuatu. Les kesenian, olahraga, bimbingan belajar, kegiatan tersebut silih berganti harus aku jalani bersama Rissa. Gadis itu sampai merasa muak. Mama bilang, itu untuk mencari tahu potensi kami berada di mana? Dengan begitu bisa diseriusi.
“Bukankah dia hidup bersama ibu tunggal?”
“Lo tahu soal itu?” Dia mendelik.
“Dia yang bilang.”
“Kalian ngobrol banyak?”
Aku menggeleng. “Mungkin dia tidak sengaja mengatakannya.”
Nathan mengangguk. “Lagipula itu bukan rahasia. Orang tuanya berpisah sejak dia masih anak-anak. Ibunya tidak menikah lagi. Tapi, belakangan santer terdengar, ibunya sedang dekat dengan penyanyi solo. Masih muda.”
“Ibunya menderita kanker?”
“Amara sakit?” Nathan bergumam.
“Siapa Amara?”
“Ibu Vanessa. Dia sakit? Dia terlihat baik-baik saja.”
Wait! Bukankah mereka ke yayasan waktu itu ... “Dia punya adik laki-laki bernama ...” Siapa nama anak itu, ya? Yang disebutkan Chiki. Siapa?
“Vanno. Stevanno. Model dan aktor cilik.”
Aku terkekeh. Jadi, dia ke sana bukan untuk bergabung dalam komunitas. Melainkan mengantar ibunya yang hendak mengisi acara. Anak itu mengerjaiku.
*