6 – Trouble

1173 Kata
Pembicaraan rahasia di lorong sepi rumah sakit itu seharusnya bukan masalah besar. Sejak awal aku sudah tahu, mereka tidak menganggapku sebagai cucu. Tapi, saat mendengarnya secara langsung, terus terang saja, aku kecewa. Ternyata mereka benar-benar menganggap aku tidak pernah ada. “Dia belum memutuskan?” Suara Nenek cukup nyaring hingga membuatku menghentikan langkah. Aku hendak menemui Tante Icha di kafetaria rumah sakit karena Chiki sudah tertidur. Kak Fema dan Rissa belum selesai menjalani proses pemeriksaan. Aku tidak tahu, dengan potong kompas dan melewati lorong sepi di dekat kamar jenasah, aku justru menemukan mereka bertiga. Kakek, Nenek, serta Mbak Tina. “Mbak Rissa cenderung tertarik pada fashion.” Mbak Tina mengatakannya dengan tenang. Sikap hormatnya sama sekali tidak terintimidasi di depan bos rokok tersebut. Kakekku, bukan ... dia bukan kakekku, merupakan salah seorang taipan rokok di negeri ini. Namanya sering muncul di daftar orang berpengaruh di Indonesia. “Lagi?” Nenek terlihat gusar sekarang. Dia mondar-mandir. Sikapnya tidak menunjukkan keeleganan seorang Tjandra. Sedangkan Kakek hanya menghela napas. Aku sudah seperti pencuri yang mengintip percakapan mereka. Padahal aku tahu benar, jika bertahan di tempat itu, aku akan sakit hati. Mereka jelas-jelas ingin menyembunyikan pembicaraan tersebut dariku, pun orang tuaku. “Tiwi tidak mengajari anaknya untuk terjun di dunia bisnis. Biarkan saja mereka.” Suara berat Kakek membuat Nenek berhenti. “Biarkan? Bagaimana bisa dibiarkan? Mereka berdua tidak akan ada yang mau mengurus Adinusa.” Adinusa? Bukankah mereka mengincar Rissa untuk perusahaan keluarga Tjandra? Jadi, mereka ingin Kak Fema atau Rissa bergabung di Adinusa? Mereka ingin menusukku dari belakang? “Tiwi harus banyak meluangkan waktu untuk Chiki. Jangan tekan dia dengan hal ini juga. Mereka baik-baik saja. Lagipula mereka masih anak-anak. Mahesa mampu untuk mengelola perusahaannya.” “Jika Rissa mengikuti jejak Fema, bagaiman dengan Classic? Kamu mau menyerahkan Classic pada Mahesa dan berakhir ... ah, sudahlah!” Kegusaran yang ditunjukkan Nenek pada siang itu membuatku sadar, dia menganggap aku benalu. Dia ingin menyingkirkanku. Bukan hanya dari keluarga putrinya, melainkan dari perusahaan yang akan diwariskan padaku. Bisa dipastikan, jika Rissa masuk ke Adinusa, dua kubu yang selama ini terbentuk, akan semakin kuat. Perseteruan di dalam perusahaan akan terjadi. Kalau sudah begini, aku tidak mau menjadi orang yang melukai Mama. Mama pasti sangat kecewa jika dua anaknya terlibat pertikaian. Walau keyakinanku semakin lekat, aku bukan putra Mama. “Orang kaya punya masalah juga, ya?” Aku menoleh pada Nessa yang sedang meniupkan asap dari mulutnya. Dia mendekatiku. Kami bersisihan di lantai empat gedung utara BSHS. Bukankah seharusnya dia ada kelas sekarang? Ini belum waktunya untuk istirahat. “Lo sedang ada masalah?” Dia terkekeh. Tatapan matanya kini tertuju lapangan luas di samping gedung. Di seberang lapangan ini ada sekolah lain. Bagian dari Yayasan Bumi Sentosa. Aku menempuh jenjang junior di sana. Kami memang akan dikirim ke luar negeri setelah tamat SMA. Kami akan dibekali dengan pendidikan dasar tentang managemen bisnis dan mempelajari seluk beluk perusahaan. Jurusan yang akan kami pilih sesuai dengan bidang yang digeluti perusahaan. “Gue terlahir sebagai masalah. Trouble Maker itu nama lain gue.” “Berantem itu semacam hobi, begitu? Jadi, yang lo lakukan beberapa hari lalu itu bukan karena lo sedang membela teman, melainkan suka saja melakukan itu?” Dia tertawa. Jemarinya yang lentik kembali mendekat pada bibir. Dengan tenang dia mengisap batang rokoknya. Matanya terpejam sejenak. Seolah dia sedang menghayati isapan demi isapan saat nikotin masuk ke dalam paru-parunya. Dia sedang menelan racun dengan bahagia. Bahagia! Intinya dia melakukannya dengan bahagia. Apakah rokok memang semenarik itu? Apakah efeknya benar-benar bisa membuat seseorang tenang? Hei, stop! Jangan berpikir untuk mencobanya. Ingat Chiki! “Kebetulan saja adik lo yang suka banget nyolot itu sedang butuh teman untuk saling berteriak. Gue tidak butuh alasan untuk memaki orang.” “Apa enaknya saling berteriak?” Dia menoleh padaku. Seketika keningnya berkerut. Matanya yang terlihat indah saat tersapu cahaya matahari tersebut memandangku lekat. “Selama dua tahun sekolah di sini, gue nggak pernah menemukan lo di sini? Lo lagi nungguin gue?” “Gue baru tahu ada tempat sepi seperti ini.” Kerutan keningnya semakin rapat. “Bukankah kalian punya tempat sempurna untuk bersembunyi? Tempat yang tidak bisa kami jangkau?” Ah, ruangan khusus untuk kami berkumpul. Rupanya dia tahu tempat itu. “Gue lagi kepengin sendiri. Sorry, kalau gue nyabet tempat lo. Gue kira lo lagi di kelas.” Dia terkekeh. “Bukan tempat gue juga, walau memang tidak ada yang pernah kemari. Nyokap gue tidak cukup tajir untuk mengklaim tempat ini untuk putrinya. Untuk bayar SPP saja dia sering nunggak. Terlalu nekat, sih. Sudah tahu sekolah ini mahal, tetap saja memasukkan kami kemari. Bunuh diri, kan, itu?” Dia anak blesteran. Itu jelas terlihat dari manik mata serta warna rambutnya. Banyak anak blesteran di sekolah ini. Aku tidak bisa menebak, ayahnya atau ibunya yang ekspatriat. Dengan dia menyebut nyokap gue, hanya nyokap, dia menjelaskan bahwa dia hidup bersama orang tua tunggal. Bisa jadi ayahnya yang orang luar negeri itu tidak hidup bersama mereka lagi. Hei, tidak menutup kemungkinan nasibnya sama denganku. Orang tua asli pribumi, tapi terlahir seperti ini. Haruskah aku bertanya tentang keluarganya? “Lo sama sekali tidak tahu siapa gue?” Dia masih terkekeh. Aku menggeleng. “Vanessa Gilbert. Hanya itu yang gue tahu.” Dia manggut-manggut. Senyumnya belum luntur. “Hanya sebatas nama itu yang lo tahu? Keajaiban, sih, sampai lo tahu nama lengkap gue.” “Memangnya siapa lo?” Dia mengedikkan bahu. “Gue bukan siapa-siapa. Eh, gue pembuat onar.” Dia kembali tertawa. Tawanya tidak mampu menular padaku. Mungkin aku salah menebak. Dia tidak sedang dalam masalah sehingga perlu merokok di tempat ini. Dia hanya suka melakukan itu. Tidak semua orang memilih untuk sendiri karena sedang bermasalah. Ada orang-orang seperti Nessa yang lebih menyukai kesendirian. “Bukankah seharusnya lo belajar dengan tekun begitu sadar nyokap lo kesulitan untuk membiayai sekolah lo?” Aku tahu, aku sedang membuang-buang energi telah mengatakan ini. Nessa tidak perlu dinasihati. Dia menoleh. Matanya lurus padaku. “Gue heran, kenapa lo lurus banget jadi orang. Kebanyakan anak orang kaya itu b******k soalnya.” “Hanya karena gue ngomong gitu lo menilai gue lurus?” “Lo tidak pernah punya masalah di sekolah. Nama lo bersih banget macam bayi yang baru lahir. Lo nggak ada catatan dosa di sekolah ini. Pun sekolah-sekolah sebelumnya.” “Lo memeriksa latar belakang gue?” Dia tertawa. “Gue tidak perlu melakukan itu. Wartawan sudah melakukannya. Gue tinggal baca. Lagian gratis ini. Tidak perlu membeli koran. Nama lo sering muncul di portal daring. Gue yakin lo nggak tahu itu.” Terus terang saja tidak. Dia mengedikkan bahu. “Gue sudah menebaknya. Mereka ramai di dunia yang berbeda dengan lo. Lo tidak tersentuh.” “Kesannya gue bukan manusia.” Nessa menoleh lagi. Dia mendekat. Postur tubuhnya yang lumayan tinggi bisa dengan mudah menyamakan posisi kami. Gerakannya membuatku berdiri tegak, tidak lagi menumpukan kedua siku pada pembatas gedung. Wajah Nessa semakin dekat. “Gue harap lo vampir. Gue tidak keberatan lo gigit sekarang,” bisiknya pelan. Pipi kami hampir bersentuhan. Napasnya terasa hangat di telingaku. Dan seketika aku beku. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN