5 – Rumah Sakit

1313 Kata
Ini bukan hari Minggu, tapi semua orang hadir di sini. Tidak penting mau hari apa juga jika menyangkut tentang kesehatan Chikita. Gadis kecil itu butuh pertolongan. Kami semua siap untuk menolongnya. Termasuk aku yang harus berpura-pura bahwa aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, walau menjadi satu-satunya putra Mahesa yang tidak menjalani pemeriksaan. “White Lily.” Aku menoleh pada Chiki yang tertawa lepas. Dia duduk di sampingku setelah menjalani proses pengobatan. Seharusnya dia istirahat di kamar, tapi dia ingin duduk di sini, memandang kolam buatan di salah satu sudut rumah sakit. Dia berkata dengan jelas, ingin ditemani Kak Eon. Hanya Kak Eon. “Bagus, kan?” Dia mengangsurkan gambarnya padaku. “Bagus.” Aku memeriksanya dengan serius. Buket lili dengan dominan warna putih. Dia terkekeh. “Chiki tahu, ini nggak bagus.” “Kenapa begitu?” Aku segera menyanggahnya. Aku tidak ingin dia kecewa. “Lukisan Kak Eon lebih bagus. Sepertinya Chiki memang tidak punya bakat seni sama sekali.” Kekehannya terdengar lagi. Kini dia menatap jauh melewati kolam. Di seberang sana, lorong rumah sakit tampak lebih ramai dengan lalu-lalang orang-orang. Selain itu, bangku-bangku semen di samping lorong diisi oleh satu dua orang. Berbeda sekali dengan tempat kami duduk sekarang. “Jika Chiki meninggal nanti. Chiki ingin ditemani white lily. Jangan protes dulu.” Dia menatapku. “Chiki tahu, semua orang berharap akan kesembuhan Chiki. Chiki juga mengharapkan itu. Tapi, saat tiba waktunya untuk datang ke rumah sakit dan menjalani serangkaian pemeriksaan, Chiki merasa lelah. Capek sekali. Selain itu, Chiki harus berpura-pura baik-baik saja di depan kalian.” Dia menunduk. “Bolehkah Chiki menangis?” Gadis kecil itu sudah berlinangan air mata. Aku segera meraih pundaknya. Apa yang dia hadapi lebih berat dari apa yang aku terima. Dianggap bukan putra Mahesa memang menyakitkan. Walau mereka berkata aku penerus Adinusa. Banyak fakta yang mendukung sehingga gosip itu merebak. Tentang aku yang anak haram Mahesa, atau anak pungut yang diberi nama Hartono. Fakta-fakta kecil yang jika diakumulasikan akan membentuk fakta baru, aku memang bukan anak Mahesa Hartono. Lantas aku ini anak siapa? “Tidak ada salahnya menangis.” Aku mengusap punggungnya. Tubuhnya terasa ringkih di pelukanku. Aku bahkan tidak berani menariknya supaya lebih rapat padaku. Aku takut, tubuh itu akan patah karena saking kurusnya. Tulang-tulang punggungnya terasa keras walau terbalut sweater tebal. “Pura-pura baik-baik saja itu lebih sakit dari pada sakit itu sendiri. Kakak jangan pernah melakukan itu.” Aku terkekeh. Dia masih sempat menasihatiku di antara derai tangisnya. Mungkinkah dia tahu apa yang sedang berkecamuk di kepalaku? Mungkinkah dia paham, kenapa aku duduk di sini bersamanya, sedangkan dua kakaknya yang lain sedang menjalani pemeriksaan? Aku yakin dia juga melihat kehadiran Mama dan Papa, serta Oma-Oma dan Opa-Opa kami. Dua keluarga berkumpul di sini. Termasuk Tante Icha yang tidak memiliki kepentingan apa-apa. Salah satu kejanggalan yang membuatku percaya bahwa aku bukan anak Papa yaitu sikap Oma dari pihak Mama. Oma sama sekali tidak pernah menganggapku ada. Sikapnya berbeda sekali padaku. Dia bahkan tidak peduli jika aku ada atau tidak. Kehadiranku semacam ... ya, aku memang ada, lantas kenapa? Bukan sesuatu yang penting dan pantas untuk dipedulikan olehnya. Sedangkan Opa, dia biasa-biasa saja. Dia akan menyapaku ala kadarnya. Sebatas, sudah makan? Kamu sehat? Dia juga tidak pernah membahas soal masa depanku? Misalkan aku akan melanjutkan sekolah ke mana? Atau bertanya pendapatku mengenai perusahaan. Walau aku sadar takkan mewarisi salah satu perusahaannya, karena setahuku dia mengincar Rissa setelah Kak Fema berkata dengan lantang, dia akan menjadi desainer, sikapnya padaku menunjukkan ... kamu bukan cucuku. Praktis aku beranggapan, aku memang bukan anak Mahesa Hartono maupun Pratiwi Tjandra. “Jika rambut Chiki tumbuh nanti, Chiki tidak ingin mencukurnya kembali. Chiki ingin mewarnainya.” Gadis kecil itu mendongak. Dia melepaskan diri dan mengusap pipinya yang basah. “Your favorite colour? Pink?” “No.” Dia menggeleng. Senyumnya kembali terbit. Dia hanya butuh waktu lima menit untuk kembali pulih. Menangis lima menit rupanya mampu membuatnya lega. Mungkinkah dia sudah berlatih untuk begini? Dia tidak boleh terlihat lelah maupun menyerah. Dia tidak ingin membuat orang-orang khawatir? Pantaskah aku mengeluh sekarang? “Warna apa? Putih? Seperti white lily?” Aku menoleh pada gambarnya yang sekarang tergeletak di sampingku. Rangkaian bunga itu tampak menarik walau belum sempurna. Chiki memang tidak belajar menggambar. Passion dia berada di esacta. Dia suka sekali dengan rumus-rumus matematika. Dia menggeleng lagi. Kepalanya mendongak sekarang. “Cokelat kemerahan seperti rambut Kak Eon.” Aku menyentuh rambutku sendiri. Warna pirang natural yang cenderung lebih gelap, yang menjadikanku langsung dituduh sebagai anak haram Mahesa. Dalam keluarga kami, tidak ada yang memiliki warna rambut sepertiku. Rambut mereka semua didominasi warna hitam. Aku terlahir dengan menyandang nama Hartono, tapi sangat berbeda dengan mereka. Aku seperti anak ayam yang turut berbaris di belakang anak angsa. “Apa bagusnya warna ini? Kakak sering mewarnainya dengan warna hitam.” “Lalu, tumbuh lagi dengan warna ini.” Dia terkekeh. Seolah itu lucu. “Ya, dan sekarang Kakak menyerah untuk melakukan itu.” Aku menjatuhkan lengaku kembali ke pangkuan. Mengakui bahwa selama ini aku berusaha mengingkari perbedaanku dengan yang lain, ternyata membuatku kembali pada titik itu. Titik di mana aku tidak punya kepercayaan diri untuk mengatakan dengan lantang, aku adalah seorang Hartono. Darah Hartono ada di tubuhku. Gadis kecil itu meraih tanganku. Tangan kecilnya mengusap punggung tanganku perlahan. “Jangan memaksakan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan. Apa pun yang mereka katakan tentang Kakak, Kak Eon merupakan kakak terbaik yang Chiki punya.” Senyumnya mengembang, walau matanya berkaca-kaca. “Ya.” Aku mengangguk. Aku tidak boleh menangis. Lucu rasanya jika aku menangis di hadapan gadis kecil ini. Mama dan Papa memintaku untuk menemaninya. Mereka berharap aku bisa menghiburnya. Sekarang aku tahu, dia sedang berusaha menghiburku. “Andai manik mata Chiki bisa diubah juga menjadi hijau.” Dia menghela napas. Aku terkekeh. “Bisa menggunakan soft lens.” Dia merengut. “Beruntung Kak Eon tidak perlu repot-repot melakukan itu. Kakak tahu, mereka hanya iri. Kakak begitu sempurna. Teman-teman Chiki bilang, Kakak sangat tampan. Dan ya ... Chiki sudah mengakui itu sejak Chiki bisa membedakan mana cowok yang sekadar tampan atau sangat tampan.” Aku terkekeh kembali. “Mereka bahkan bertanya, bolehkah aku memacari kakakmu? Hei ... siapa kamu? No. Kak Eon hanya milik Chiki.” “Kamu bilang begitu sama mereka?” “Ya, tentu saja.” Pengakuan semacam ini yang aku butuhkan. Saat semua orang menganggap aku bukan Hartono, orang-orang di dalam sini takkan melepasku begitu saja. Mereka bangga untuk terus bersamaku. Pernyataan semacam ini pernah dikatakan juga oleh Clarissa. Aku akan tetap menjadi kakaknya, apa pun yang terjadi. “Kalian masih di sini? Ayo, masuk!” Suara lembut Mama membuat kami menoleh. Mama hanya sendirian. Kemungkinan besar, pemeriksaan Rissa maupun Kak Fema belum selesai. Tangan ramping Mama meraih punggung kursi roda yang diduduki Chikita. “Biar Eon saja, Ma.” “Tidak apa-apa. Terima kasih sudah menemani Chiki di sini.” Mama mengusap bahuku perlahan,. “Mama tidak perlu berterima kasih.” Aku tersenyum. sebaris kata itu membuatku seperti orang asing di sisinya. Aku bukan anaknya. Mama memandangku sesaat. Senyumnya mengembang. “Kata-kata terima kasih, tolong, maaf, itu kata-kata yang baik, Sayang.” Dia melepaskan tangannya dari pegangan di punggung kursi. Kedua tangganya kini memelukku. “Terima kasih karena kamu sudah menjadi anak yang baik. Terima kasih, karena kamu sehat dan tidak kurang satu apa pun.” Dia berbisik di sisi wajahku. Aku tersenyum. Tubuh rampingnya begitu mudah untuk aku rengkuh. Lagipula postur tubuh Mama sangat mungil. Dia terkekeh saat aku menariknya hingga kakinya melayang. “Apakah kita bisa pulang sekarang?” Aku melepaskan pelukan Mama. Kami memandang Chiki yang tersenyum. Pertanyaannya selalu sama selepas melakukan pemeriksaan. Dia ingin segera pulang. “Kita tunggu sampai malam. Jika tubuhmu tidak ada penolakan terhadap obat, kita bisa pulang.” Mama berjongkok di depan putri bungsunya. “Bisa, kan?” Gadis itu tersenyum. Dia mengangguk. Aku tahu, dia terpaksa melakukan itu. Dia ingin terlihat baik-baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN