Tidak ada pembahasan berarti saat makan malam semalam. Mereka berencana membentuk sebuah yayasan. Yayasan keluarga yang bergerak di bidang sandang dan pangan. Lebih tepatnya, untuk membantu masyarakat yang kesulitan akan dua hal tersebut. Oma sebagai pencetus ide akan bergerak sebagai ketua yayasan. Semua menyetujuinya, termasuk cucu-cucu Oma yang masih sekolah seperti kami.
“Gue denger, Senara sedang dekat dengan Rengga. Di antara anak kelas sebelas, berita tersebut ramai dibicarakan. Bukannya Rengga sudah ditunangkan sama Rissa setahun lalu, ya, Eon?”
Pertanyaan Nathan membuatku menoleh. Bulir-bulir air yang membasahi meja akibat minuman kaleng dingin membuat cowok itu mengelapnya dengan tisu. Nathan cukup dekat dengan keluarga kami. Hal tersebut wajar telah sampai ke telinganya lebih dulu, walau tidak semua anak Bumi Sentosa tahu.
“Ya.” Aku menjawabnya dengan enggan. Rissa yang bertunangan dengan Rengga sendiri, memilih untuk tidak peduli. Mereka tidak pernah dekat, walau keduanya tahu, mereka akan menikah nanti. Entah sepuluh atau lima belas tahun lagi. Kesepakatan telah dibuat. Untuk Kak Fema pun sudah ditentukan. Tinggal menunggu waktu saja sampai mereka membahas soal jodohku. Walau mereka sudah mengatakan, aku bakal menjadi pewaris Adinusa, gosip yang santer terdengar tentu saja memberikan pengaruh, terutama oleh managemen perusahaan. Setahuku, ada dua kubu di sana. Mas Abdi selalu mengingatkanku untuk bersikap hati-hati. Setiap gerakanku mendapatkan perhatian lebih dari mereka. Aku telah disorot tajam.
“Lo tidak akan melakukan sesuatu?”
Aku menoleh pada Nathan. “Misalnya?” Pada akhirnya kita semua tahu, mereka berdua akan bersama apa pun yang terjadi. Mau Rengga punya pacar sekarang atau Rissa yang menyukai Nathan, setahuku, hal tersebut takkan mencegah perjodohan. Pertunangan bukan hanya soal Rengga dan Rissa, tapi tentang Adinusa dan Parabaya. Perusahaan keluarga Rengga tersebut telah melakukan kerjasama jangka panjang dengan Adinusa. Memiliki banyak anak memang akan membuat perusahaan semakin kuat.
Nathan tertawa. Dia meraih kalengnya. Matanya menatap lurus ke luar jendela. Lalu lalang anak Bumi Sentosa di luar kaca membuatnya menghela napas dalam. “Seandainya kita memiliki kebebasan seperti mereka.” Dia bergumam. Bahunya melorot begitu dia mengatakan itu. Terlalu berat beban yang harus kami pikul sebagai anak-anak pemilik perusahaan. Kami yang ditunjuk sebagai penerus atau pemilik saham semata bertanggung jawab penuh akan kelangsungan perusahaan tersebut.
“Mereka juga belum tentu memiliki kehidupan yang enak.”
Tatapanku ikut lurus ke luar. Sebagian besar siswa Bumi Sentosa High School adalah bule. Orang tua mereka bekerja di Indonesia dan mereka terpaksa hidup di sini. Itu yang aku dengar dari mereka yang baru menginjakkan kaki di Indonesia sekitar satu atau dua tahun terakhir. Mereka lebih nyaman tinggal di negara asalnya.
“Setidaknya mereka takkan menghadapi yang namanya perjodohan.” Nathan tertawa.
“Tidak ada hal semacam itu di budaya me ... reka.” Bukankah itu Rissa? Kenapa dia? Wait! Dia berantem lagi? Demi Tuhan, Rissa!
Nathan tertawa semakin keras. “Adik lo memang paling jago bikin onar.”
Kami bergegas keluar dari ruang seni. Pertengkaran Rissa terakhir kali, membuat Papa memberi ultimatum, kalau dia sampai membuat masalah lagi di sekolah, dia akan dimasukkan ke asrama. Sebagai manusia paling dekat dengannya di rumah, aku tidak menginginkan itu. Masuk asrama itu sama saja masuk penjara. Rissa bisa gila.
Di lapangan terjadi kerumunan, orang-orang menonton. Nathan berteriak memanggil Samuel yang sedang berjalan di koridor.
“Bantuin gue. Rissa bikin masalah lagi! Teriaknya nyaring.
Sam langsung menyusul. Cowok jangkung tersebut mengancam semua siswa di sana. Jangan sampai berita ini bocor. Nathan langsung memegangi Rissa. Dibandingkan denganku, gadis itu lebih nurut pada Nathan.
“Awas aja lo!” Rissa menunjuk seorang gadis di depannya.
Vanessa? Ada masalah apa dia dengan gadis perokok ini? Aku segera berdiri di depan Rissa yang masih berusaha memberontak.
“Lo mau masuk asrama?” tanyaku yang hanya bisa didengar olehku dan olehnya semata.
Rissa langsung diam. Emosinya yang masih siap meledak dia luruhkan dengan mengambil napas panjang. Setelahnya dia menoleh pada Nathan. Sepertinya dia merasa malu sekarang. Aku mengedikkan dagu pada Nath supaya membawa gadis pemberontak itu. Sedangkan Sam masih membubarkan kerumunan dengan berbagai ancaman yang membuatku tertawa. Sam memang sangat fasih dalam melakukan itu. Kami menyebutnya sebagai titisan Patih Gajah Mada. Dia selalu siap melindungi nusa dan bangsa.
Aku berbalik. Vanessa menatapku. Dia bersedekap, sama sekali tidak terintimidasi dengan kericuhan yang baru saja terjadi.
“Sorry, Ness. Gue nggak tahu kalau dia bakalan ngamuk seperti itu.” Seorang gadis, yang tadi berdiri di belakang Nessa, maju selangkah. Dia menghela napas berat. Wajahnya yang cantik menunjukkan kegelisahan. Sesekali dia menggigit bibir bawahnya.
Nessa mengurai tangannya. “Lo juga cari perkara. Sudah tahu tunangan orang, masih juga lo ladenin. Lo harus sadar, mau sampai kapan pun, tuh cowok hanya akan bilang cinta di mulut saja. Paling banter lo akan jadi simpanan. Mau lo?” Gadis itu mendengus.
Ah, ya. Anak ini yang sedang ramai dibicarakan. Dia yang sedang dekat dengan Rengga? Manis juga. Kelihatan lebih lembut. Dibandingkan dengan Rissa, mereka bagai bumi dan langit. Bukan soal status sosial kami. Tapi, soal sifat. Gadis ini perlu bantuan orang lain untuk melindungi dirinya. Berbeda jauh dengan Rissa.
“Lo mau marah juga? Mau memaki-makinya juga?” Nessa menoleh padaku. Aku bisa memanggilnya Nessa saja, kan? Lebih mudah menyebutnya begitu.
“Tidak.”
Kening gadis itu berkerut. Dia menghela napas dan beranjak dari posisinya berdiri. Aku menghalangi langkahnya.
“Emosi Rissa belum stabil. Gue nggak mau dia ketemu lo lagi.”
Mata Nessa menyipit. Dia membuka mulut, tapi ... kehadiran Rengga membuatnya menoleh. Calon adik iparku itu berlari mendekati gadis yang masih menunduk di samping Nessa. Pahlawan yang kesiangan. Entah kenapa aku merasa kesal sekarang.
“Eon, sorry!”
“Gue harap cerita ini nggak bocor. Lo tahu, kan, kalau sampai bokap gue sama bokap lo tahu soal ini?” Aku memandangnya lurus. Kedua tanganku tersimpan di saku celana.
Gadis bernama Senara, jika memang itu namanya, semakin menunduk. Rengga menoleh padanya. Cowok itu menghela napas dalam.
“Gue akan keep ini,” katanya mantap.
“Gue pegang janji lo.”
Rengga mengangguk. Dia meraih lengan gadis itu dan mereka pergi. Tinggal kami berdua. Nessa memandangku lagi.
“Gue nggak ngerti sama isi kepala orang tua kalian.” Dia mendengus, lalu melangkah.
Aku mengikuti langkahnya yang menjauh. Lapangan ini sudah sepi. Aku rasa sudah waktunya masuk kelas. Dia berhenti dan menoleh padaku.
“Lo nggak masuk kelas?”
Aku menggeleng dan terus mengikutinya. Dia mengedikkan bahu. Langkahnya menuju tangga di samping gedung. Seharusnya dia pergi ke gedung selatan, tempat kelas sebelas berada. Tapi, dia terus naik ke atas. Bahkan setelah kami melewati lantai tiga. Dia akan naik ke rooftop. Satu-satunya gedung yang masih memiliki ruang terbuka di atas. Setelah ada larangan adanya rooftop bagi sekolah-sekolah di seluruh Jakarta, BSHS mulai memberi atap pada setiap gedungnya. Pembangunannya memang bertahap. Tinggal satu ini saja yang belum terjamah.
“Lo bakalan ngikutin gue sampai adik kesayangan lo itu tidak marah lagi?” Dia tertawa. “Kayaknya itu sulit. Lo nggak lihat bagaimana cara dia mengamuk tadi?”
“Setidaknya dia takkan lepas kendali jika ada gue.” Sebenarnya ancaman asrama saja sudah cukup. Rissa takkan lepas kendali lagi. Dia tidak bisa gegabah menanggapi ancaman Papa. Papa bisa sangat tegas jika menyangkut anak-anaknya.
“Yang harus lo jaga itu Senara, bukan gue.”
“Gadis itu sudah dijaga Rengga.”
Kekehannya terdengar lagi. “Gue belum mendengar calon istri lo di sini.”
Aku tersenyum, ingat ucapan Rissa kemarin, bahwa aku sangat terkenal. Wajar jika semua anak BSHS tahu kehidupan pribadiku. Lagipula aku tidak perlu merasa GR karena dia mengetahui itu.
“Gue belum punya? Kenapa? Lo mau mencalonkan diri?”
Kekehannya berubah menjadi tawa. “Sayangnya gue bukan anak pengusaha yang bisa merger dengan perusahaan lo.”
Ya, kita sama-sama tahu, itu takkan mungkin. Gadis itu mengeluarkan sebatang rokok dari saku roknya. Dia menatapku. “Mau?”
Aku menggeleng. Aku masih penasaran, kenapa orang tuanya memberinya fasilitas semacam ini jika adik dan ibunya menderita kanker?
“Kenapa?”
Aku menggeleng lagi. Untuk apa bertanya jika aku tahu jawabannya. Orang tuanya tidak melarang. Bahkan dia bilang, ibunya juga merokok. Entah dia mengatakan yang sesungguhnya atau hanya sedang menggodaku saja. Yang jelas, pemilik manik cokelat terang ini sama sekali tidak merasa takut untuk merokok di sekolah.
“Kalian tidak diizinkan menikah dengan seseorang yang kalian pilih sendiri?” Dia bertanya tanpa menoleh. Batang rokok di jemarinya sudah menyala. Dia baru saja mengisapnya perlahan. Kepulan asap keluar dari mulutnya. Melihat parasnya yang separuh Indonesia saja, dengan kata lain dia blesteran, kehidupannya yang bebas cukup bisa dimaklumi. Memang tidak ada larangan merokok di sekolah ini, tapi hampir tidak ada murid yang melakukannya secara terang-terangan. Larangan merokok seperti aturan tidak tertulis yang harus dipatuhi. Mungkin karena sebagian besar muridnya anak-anak ekspatriat, kebebasan sangat dijunjung tinggi di sini.
“Tidak.”
Dia menoleh. “Jika lo jatuh cinta pada seorang cewek. Apa yang akan lo lakukan?”
“Seperti yang lo bilang, cewek itu akan berakhir sebagai simpanan.”
Nessa menghela napas. “Bersanding dengan lo hanya mimpi saja buat kami.”
Aku menatapnya.
Dia tertawa. “Lo nggak tahu, selama ini lo menjadi fantasi semua cewek di BSHS? Mereka berharap bisa bersanding dengan lo, meskipun itu tidak mungkin. Mereka tahu, lo akan menikah dengan seseorang yang sudah ditentukan. Bagi mereka, bisa dekat dengan lo saja merupakan prestasi besar. Senara salah satunya. Dia tetap berusaha mendekati Rengga, walau berakhir seperti ... ya, semacam simpanan.” Dia mengedikkan bahu, seolah menyayangkan keputusan itu.
“Kalian berfantasi bisa dekat dengan kami?” Aku baru mendengarnya. Sebutan kami aku tujukan pada beberapa anak pengusaha yang memang sudah ditunjuk sebagai pewaris perusahaan. Nathan salah satunya.
Dia mengangguk.
“Lo sendiri?”
Nessa menunjuk dirinya dengan jari. “Gue? Gue bahkan tidak percaya dengan yang namanya pernikahan.”
Menarik!
*