3 – Marisa Hartono

1339 Kata
Makan malam bersama keluarga itu artinya semua orang yang menyandang nama belakang Hartono akan hadir, beserta pasangan mereka. Papa lahir di keluarga besar dengan enam saudara. Semua saudara Papa sudah menikah kecuali Tante Marisa. Bungsu Hartono tersebut tidak pernah memikirkan pernikahan, bahkan saat usianya sudah menginjak angka 40. Marisa Hartono tercatat sebagai perempuan single yang sukses meniti karier-nya di luar negeri. Dia seorang desainer di balik nama besar MHC, merk dagang yang dia pilih dari singkatan namanya sendiri, Marisa Hartono Clothes, walau pada akhirnya, bukan hanya baju saja yang dia produksi, melainkan aksesoris penunjang seperti tas, sepatu, scraf, pun jam tangan. Jika dia kembali ke Indonesia sekarang, bahkan menggandeng Kak Fema –kakak perempuanku, dari Paris, pasti ada hal penting di luar penyakit yang diderita Chiki. Bisa jadi, Opa akan membahas tentang pernikahan putri bungsunya. Dan itu artinya akan terjadi perdebatan sengit di meja makan. “Bisa tidak kita tidak hadir malam ini?” Aku mendengus, dan sekali lagi harus semobil dengan Clarissa. Di depan mobil kami, ada dua mobil lain yang berisi Kak Fema dan Chiki, serta Mama dan Papa. Rissa terkekeh. Dia mendapatkan baju baru dari Tante Marisa sore tadi. Kak Fema yang membawanya. Dia tidak perlu menunjukkkan drama tidak punya baju lagi. Wajahnya terlihat cerah malam ini. Dia bahkan melupakan kekesalannya yang hendak bertemu jarum suntik. “Mereka pasti berantem lagi jika membahas tentang pernikahan Tante Icha.” Pandanganku beralih pada kaca jendela yang menampilkan sisi jalan yang cukup lengang. Kami memang tinggal di dalam komplek perumahan yang tidak terlalu ramai. Rumah-rumah di dalam sini cenderung kosong dan masih dipasarkan. Itu yang aku dengar dari Mas Abdi beberapa waktu lalu. Wajar, jika hari beranjak gelap seperti ini tidak ada kendaraan yang lalu-lalang. “Saat mereka berdebat, kita amankan Chiki ke kamar Papa.” Rissa menoleh padaku. Ide bagus. Di lantai dua rumah besar itu masih tersedia kamar setiap anak tanpa penghuni. Ada enam kamar yang memang diperuntukkan bagi mereka. Termasuk kamar orang tua kami. Di salah satu kamar itulah Tante Icha menginap saat pulang ke Indonesia. Walaupun perempuan sukses itu memiliki rumah sendiri, pun unit kondominium di tengah kota, Oma takkan membiarkannya tinggal sendiri saat pulang. Tidak butuh waktu lama sampai kami memasuki sebuah halaman luas yang terang benderang oleh lampu taman. Rumah model american style dengan pilar-pilar tinggi serta chandelier yang begitu besar di teras menjadi ciri khas milik Keluarga Hartono. Kemegahan semacam ini sebenarnya sudah tertinggal jauh di abad pertengahan, tapi sepertinya kakekku tidak peduli akan hal itu. Dia menyukai bangunan dengan pilar-pilar tinggi serta langit-langit yang sama tingginya sehingga ruangan terasa luas. Mas Abdi dan Mbak Tina langsung turun untuk membukakan pintu untuk kami. Mobil-mobil lain sudah terparkir rapi. Jumlahnya tidak sedikit, karena sepupu-sepupuku yang tinggal di Jakarta dipastikan hadir di sini. Kecuali yang sedang mengenyam pendidikan di luar negeri. “Terima kasih, Mas.” Aku menoleh pada Rissa yang sedang merapikan bajunya. Gadis itu tersenyum sebelum melangkah. “Kami ada di ruang belakang jika Mas Eon membutuhkan sesuatu.” Mas Abdi menjajari langkahku. Aku mengangguk. Semua asisten akan berkumpul di ruangan khusus yang disediakan. Ruang terbuka yang bisa digunakan sebagai smoking area serta makan. Jumlah asisten kami sama banyaknya dengan anggota keluarga yang hadir. Karena, setiap orang di keluarga ini memiliki seseorang yang akan mengatur jadwal kegiatan serta membantu kami dalam melakukan pekerjaan. “Iya, Mas.” Mas Abdi dan Mbak Tina bergabung dengan asisten Mama dan Papa. Mbak Mega yang tadi menyetir mobil untuk Kak Fema, mengangguk pada kami sejenak sebelum pergi. Aku segera mendekati Chiki yang tampil riang bergandengan tangan dengan kakak pertama kami. Dia tidak lagi malu bertemu dengan anggota keluarga lain meskipun kepalanya botak. Kali ini dia mengenakan kupluk rajut yang memiliki warna senada dengan gaun yang dia pakai. “Nanti, lo pura-pura terkejut saat ketemu Tante Icha, ya!” Rissa berbisik padaku sebelum sampai di tempat Mama dan Papa berdiri. “Memangnya dia takkan tahu kalau lo sudah bocorin ke gue siang tadi?” Rissa terkekeh. “Pasti tahu, sih. Gue cuma nggak mau dianggap nggak tahu diri setelah menerima gaun secantik ini darinya.” Dia meraba gaunnya dengan riang. “Gitu aja lo masih nyebut gue sebagai kemenakan kesayangan Tante. Gue nggak ada dibuatin baju sama dia.” Rissa melirikku tajam. “Lo nggak tahu aja apa yang dia siapkan buat lo.” “Kalian tidak pernah akur, heran Mama, tuh.” Mama meraih lenganku, mengambil ruang antara aku dan Rissa. Sedangkan Papa langsung menggandeng lengan Chiki. Praktis Rissa jalan sendiri dan dia selalu mengomel akan hal itu. “Kayaknya gue anak pungut, deh.” Dia menggerutu dan menciptakan tawa di antara kami. Setelah itu, Papa akan mengamit lengannya. Di depan pintu, Tante Icha menyambut kami. Dia memeluk kami satu per satu. Terakhir, dia akan menculikku untuk pergi bersamanya. Mama hanya tertawa melihat kelakuan iparnya tersebut. “Mbak, pinjem bentar, ya!” Dia sudah merebutku dari Mama. “Jangan lupa balikin.” Mama hanya terkekeh. Dia langsung masuk mengikuti langkah Papa dan putri-putrinya. “Tante menganggap aku barang, ya?” Tante Icha terkekeh. Dia membawaku menyusuri halaman samping rumah. “Rissa pasti sudah memberitahumu, makanya kamu nggak kaget pas lihat Tante di sini.” Dia tersenyum. “Jangan berharap bisa menyimpan rahasia dengan Clarissa. Itu mustahil.” Tante Icha terkekeh lagi. Posturnya yang tidak lebih tinggi dariku itu membuatku mudah untuk balas memeluknya. “Kenapa Tante pulang? Ini soal pernikahan, ya? Aku malas ikut makan kalau kalian akan membahas soal itu.” Aku mengembuskan napas. Perdebatan sengit antara Tante dengan paman-pamanku yang lain takkan terhindarkan dalam hal ini. Mereka seperti berebut untuk menjadikan Tante Marisa menantu salah seorang kolega mereka. Dengan begitu, bisnis yang mereka jalani akan lebih berkembang. Tak terkecuali Papa. Beberapa kali aku pernah mendengar Papa mengajukan nama untuk Tante Icha pilih sebagai pasangan. Kandidat-kandidat itu merupakan partner Papa di Adinusa. Dengan kata lain, Papa ingin menguatkan status Adinusa. “Biarkan saja mereka. Lagipula Tante tidak akan menikah.” Ya, Tante selalu berkata takkan pernah menikah. Terutama padaku. Tapi, dia tidak mengatakan apa-apa pada mereka, tentang keinginannya tersebut. Dia hanya berdalih tidak ingin tinggal di Indonesia karena bisnisnya berkembang pesat di Prancis dan daratan Eropa lain. Kalau sudah begini, Oma akan memutuskan, tidak ada bahasan lagi tentang pernikahan. Mereka diundang untuk makan bersama, bukan berselisih. “Dapat dipastikan mereka akan bersitegang juga saat Tante memutuskan untuk menikahi salah seorang dari yang mereka ajukan.” Aku menghela napas. Tidak ada pilihan memang. Lebih baik menolak semuanya dan memilih calon suami sendiri. Kami berhenti di gazebo dekat dengan kolam renang. Tante memilih duduk di sana. Aku ikut duduk dan berhadapan dengannya. Wajahnya yang masih terlihat cantik di usia yang sudah tidak muda lagi itu memang magnet bagi kaum Adam. Terutama bagi mereka yang tahu benar berapa aset yang dimiliki Hartono Group. Menikahi bungsu dari klan Hartono menjadi impian bagi pelaku bisnis. Bayangkan, dukungan keluarga kami untuk bisnis mereka. Wajar saja jika Tante Icha tetap laku keras, mengalahkan pamor dari anak-anak gadis pengusaha lain. “Jadi, Tante tidak akan menikah selamanya? Tante akan hidup sendiri sampai tua?” “Siapa bilang Tante akan hidup sendiri?” Dia terkekeh. “Kan, ada kamu. Tante akan ikut kamu. Tante akan menemanimu.” “Sepertinya Tante harus bersaing dengan Mama mengenai hal itu.” Dia terkekeh. “Tante tidak keberatan hidup bersama Mbak Tiwi dan Mas Esa.” Ya, ya, terserahlah. Saat orang-orang sibuk membicarakanku sebagai anak haram Mahesa Hartono, orang-orang ini justru ingin hidup bersamaku kelak. Entah apa yang mereka pikirkan? Apakah mereka tidak terganggu dengan berita itu? “Tante harap kamu tidak berpikir macam-macam mengenai tes sumsum tulang belakang.” Tiba-tiba dia berkata serius. Ini bahasan serius. Aku menatapnya lekat. “Mereka memang butuh dari saudara perempuan.” Tante Icha meraih tanganku. “Jangan berkecil hati.” Aku mengangguk walau tahu itu bohong. Aku sudah mencarinya di internet. Tidak ada keterangan donor sumsum harus sesama perempuan. mereka menyebutkan donor tersebut lebih bagus dari saudara sekandung. Tapi, aku tidak mau mendebat Tante Icha yang meyakinkanku bahwa semua baik-baik saja. Sepertinya dia tahu mengenai gosip yang beredar. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN