10 – Oase

1268 Kata
Kehadiran Rissa di kamarku memiliki dua tujuan, dia sedang ingin memintaku untuk menemaninya belanja, atau menghiburku. Kurasa yang kedua. Penampilannya terlalu biasa untuk keluar rumah soalnya. Adikku yang terobsesi pada penampilan ini takkan mau tampil apa adanya. Mereka menyebutnya setelan pabrik. Padahal dia terlihat manis dan natural pada saat seperti ini. Sama sekali tidak berlebihan sebagai remaja. “Coba ulang?” Dia mendekat padaku yang sedang berbaring di atas kasur. “Apanya?” “Pertanyaan lo tadi.” Kini dia ikut berbaring. Aku menghela napas dalam. Pertanyaan usang itu pernah kami bahas sebelumnya. Tentang kemungkinan besar aku anak haram Tante Icha. Dia sampai melakukan penelusuran di internet, barangkali ada informasi mengenai hubungan asmara tanteku itu. Nihil. Tidak ada berita apa-apa yang memuat bungsu Hartono tersebut. “Gue cuma ingin bilang. Nggak usah lo hibur.” Aku mendengus. Rissa menarik napas dalam-dalam. “Semoga yang diusahakan Mama dan Papa berhasil.” Wajahnya terlihat serius. Ya, seharusnya aku berdoa begitu daripada terus merasa kecewa karena tidak dilibatkan dalam proses pengobatan Chiki. Hari ini Kak Fema kembali ke rumah sakit setelah dokter berkata dia bisa menjadi donor untuk Chiki. Kakak perempuan kami itu akan menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut. Selain cocok, dokter harus memastikan kondisi kesehatan kakak kami. Setelah semuanya sesuai, mereka baru akan melakukan transplantasi. Prosesnya masih panjang. Setidaknya kami punya harapan akan kesembuhan Chiki. “Kemungkinan besar, berdasarkan pemikiran lo, gue anak siapa? Gue rasa ada darah Hartono di tubuh gue. Gue rasa mereka takkan membiarkan gue menjadi pewaris Adinusa jika tak ada hubungan darah. Lagipula, Papa sudah punya Kak Fema saat itu. Pastinya mereka takkan memungut anak sembarangan.” Rissa langsung duduk. Dia merapikan rambutnya yang sedikit kusut. “Gue bersikeras, lo kakak gue.” Aku terkekeh. Kekehan putus asa jika bicara soal siapa aku sebenarnya? Kami tidak pernah mendapatkan jawaban. Ini seperti membuang waktu, atau kami memang melakukannya untuk membunuh waktu? Menunggu itu tidak enak. Apalagi menunggu kepastian dokter mengenai kemungkinan kesembuhan adik kami yang semakin hari semakin lemah. “Anak dua tahun itu kira-kira ingat nggak, ya, tentang kehamilan ibunya?” Aku menoleh pada Rissa yang sedang mengetuk-ngetuk dagunya. Dia tersenyum padaku. Jelas sekali kalau dia sudah mendapatkan jawaban atas tanyanya dan merasa apa yang dia tanyakan itu mustahil untuk dijawab. “Gue hanya penasaran, apa Kak Fema tahu sejarah kelahiran lo, Kak.” Dia nyengir. “Gue yakin, bukan Mama yang ngelahirin gue. Pertanyaannya, siapa yang bawa gue ke rumah? Gue rasa Kak Fema tidak tahu akan hal itu. Dua tahun masih terlalu kecil untuk ... gue bahkan tidak ingat apa yang gue alami pada usia itu.” Rissa manggut-mangut. “Gimana kalau kita nanya Kak Ayu? Meskipun jarang hadir di acara keluarga, kita tahu cara menghubungi dia, kan? Dia sudah terlalu besar saat itu.” “Bukankah dia pergi dari rumah saat Om Helmi menikahi Tante Sukma? Rasanya nggak mungkin juga kita bertanya pada Bang Wira. Gue tidak terlalu dekat dengannya.” “Lagipula belum tentu dia mau jawab.” Rissa mendengus. “Bang Wira itu ... kayak trouble maker sejati. Ada aja kelakukannya yang membuat Om Helmi naik darah.” Aku ikut duduk. Anak kedua dari pernikahan kedua Om Helmi itu memang arogan. Dia benar-benar mewakili cerita anak konglomerat yang suka berbuat onar. Kehidupan percintaannya, pergaulannya, serta cara dia menjalani hidup sering sekali disorot media. Om Helmi pernah beberapa kali ditegur Opa akan hal ini. Wira yang didapuk sebagai penerus perusahaan, karena dia anak laki-laki, kemungkinan besar akan digantikan Kak Ayu. Walau Kak Ayu anak perempuan, sepupu perempuan kami itu cukup kompeten dalam menjalankan roda bisnis. “Bisa jadi dia tahu. Pembuat onar tersebut akan senang hati mengatakan sesuatu yang disebut sebagai rahasia keluarga. Dia sudah berumur tujuh tahun saat gue lahir. Ingatannya akan lebih kuat dibanding sepupu kita yang lain.” “Apa perlu kita datangi dia?” Aku mengangguk. “Kalau sampai gagal dapat informasi dari dia, kita baru bertanya pada Kak Ayu. Atau kita ke rumah Bang Patra?” Senyum Rissa mengembang. Bang Patra merupakan cucu pertama Hartono. Dia merupakan anak pertama dari sulung Hartono. Usianya terpaut jauh dengan kami. Aku rasa dia tahu segalanya. Termasuk rahasia-rahasia terkelam keluarga kami. Usianya sudah lebih dari 30 tahun sekarang. Hanya terpaut sedikit dari bungsu Hartono yang harus dia panggil Tante. Menyebalkan memang saat memiliki seorang Tante yang bisa dipanggil Kakak. “Lo nggak takut ke rumahnya? Manusia kaku seperti itu?” Kekehan Rissa semakin jelas. “Nggak ada pilihan lain. Soalnya kalau kita bertanya pada Om-Om kita, jelas saja takkan mendapatkan jawaban. Tante Icha hanya tertawa kencang saat aku bertanya tentang kemungkinan tersebut.” “Lo tembak langsung?” Mata Rissa menyipit. “Nggak ada pilihan.” Aku mengedikkan bahu. Rissa memegang kedua bahuku. Dia menatapku dalam. “Lo nggak menemukan apa-apa dari reaksinya? Kaget misalnya? Atau gugup? Lo pasti bisa lihat, kan?” Aku menggeleng. “Dia tertawa. Baginya mungkin lucu mendengar pertanyaan semacam itu.” Rissa mengebuskan napas berat. Dia terlihat lelah. Teka-teki ini memang melelahkan untuk dijawab. Dia kembali berbaring. Kali ini dia memejamkan matanya. Desau angin dari luar membuat rambutnya meriap. Aku memang membiarkan pintu balkon terbuka. Di dalam kamar yang sebenarnya cukup luas ini, aku merasa sesak. Sebenarnya aku ingin menyendiri di atap gedung, atau tempat terbuka lain, selain di rumah. Sayangnya, aku takkan bisa benar-benar sendiri saat Mas Abdi selalu mengikuti. “Sebenarnya, di antara semua anak Hartono, lo berharap jadi anak siapa, Kak?” Aku ikut berbaring di sisi Rissa. Wangi shampoo-nya memenuhi rongga hidungku. Ada aroma manis yang khas. Perpaduan pink cherry dengan rose. Ada sedikit sentuhan cedar wood. Aku terkekeh. Aku tahu, dia tergila-gila pada Nathan dan berusaha menambahkan wangi cowok itu ke dalam dirinya. Akan menyenangkan jika dia bersanding dengan salah seorang temanku tersebut daripada bersama Rengga. Sayangnya, Nathan tidak diciptakan untuk menjadi yang kedua. Dengan menikahi Rissa, dia hanya akan menjadi urutan ketiga dalam perusahaan. Karena urutan kedua berada di tangan Kak Fema. Kakak tertua kami itu juga sudah mendapatkan jodohnya sejak dia masih sekolah. Mereka akan menikah paling cepat dalam kurun waktu lima sampai tujuh tahun ke depan. Rissa menoleh padaku. “Lo mikirnya lama. Di antara Om-om kita, nggak ada yang lo harapkan jadi bokap lo?” “Sebenarnya gue ngarepnya tetap menjadi anak Papa, walau anak haram sekaligus. Tapi, itu jelas-jelas menyakiti Mama. Gue nggak mau itu. Gue nggak bisa bayangin seberapa banyak air mata yang tumpah dari mata Mama jika Papa melakukan itu. Lagipula itu jelas-jelas tidak mungkin. Papa sangat mencintai Mama. Mereka sudah pacaran sejak sama-sama kuliah di Boston.” “What?” Jelas sekali kalau Rissa belum tahu cerita ini. Aku baru mendengarnya dari Tante Icha. Terus terang saja, itu mengejutkan. Pernikahan –bagi kami, merupakan hukuman. Kami akan menikah dengan orang yang tidak kami kenal. Kami hanya tahu namanya saja. Lantas, saat mendengar Papa dan Mama telah pacaran sebelumnya, ini semacam oase yang berisi ribuan harapan. Kita bisa melakukan itu. Kita bisa mengikuti jejak mereka. “Lo nggak becanda, kan?” Rissa jelas-jelas tidak mempercayai pendengarannya. “Tante Icha yang cerita. Kita bisa tanyakan langsung pada Mama soal ini.” “Dengan begini, gue nggak harus tunangan sama Rengga, kan?” Aku segera melipir. Ternyata aku telah meracuni kepala Rissa dengan kemungkinan tersebut. “Kak?” Rissa ikutan bangun. “Gue nggak tahu. Gue belum ditunangkan dengan siapa pun soalnya.” “Sebaiknya lo segera mencari pacar, deh. Siap-siap saja. Barangkali bisa menyentuh hati Mama.” “Dengan begitu lo mau mengajukan nama Nathan?” Dia nyengir. “Sudah terlambat.” Aku berjalan menuju balkon. Sekarang ini kita punya tujuan. Mencari keberadaan Bang Wira. Semoga saja kakak sepupuku itu mau bekerja sama. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN