9 – Anak Haram Siapa?

1269 Kata
“Benaran, nggak mau gue tungguin? Gue sangsi soalnya ninggalin lo sendirian di sini?” Ness menoleh ke kanan-kiri tanpa melepas helm-nya. Dia sudah menggantikan posisiku di depan. Tanpa menurunkan standar, aku rasa kakinya lumayan capek menahan beban motor yang terlalu berat. “Nggak usah. Terima kasih atas tumpangannya. Tante gue sudah mau ke sini.” Aku turut memeriksa jalanan lengang di ruas ini. Beberapa detik lalu, aku telah share lokasi tempatku berdiri sekarang pada Tante Icha yang sedang mampir ke Adinusa. Setahuku, dia salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan Papa tersebut. Dan sejak awal, dia sudah menyatakan dukungannya padaku. Dia tersenyum. “Gue kira lo mau ketemu cewek.” Meskipun tertutup kaca gelap helm, aku bisa melihat bibirnya yang melengkung. “Tante gue cewek.” Kekehannya terdengar renyah. “Kalau gitu gue cabut. Repot urusannya kalau sampai ketahuan keluarga lo. Tahu-tahu gue ilang aja, tenggelam di dasar laut.” “Yakin lo bakalan dibuang ke laut? Nggak kepikiran mau diumpanin ke komodo memangnya?” Dia tertawa. “Dul ...” Suara Ness teredam begitu sebuah mobil sport berhenti di depan motornya. Mobil merah menyala itu terlihat gagah. Berbeda jauh dari pengemudinya yang baru saja keluar. Tante Icha mengenakan gaun selutut tanpa lengan dengan warna senada dengan mobilnya. Dia tersenyum padaku. “Tante bilang mau jemput kamu di sekolah juga.” Dia memandang Ness yang masih terpaku di atas motornya. “Siapa dia?” Seolah dia yang dimaksud tidak ada di hadapan kami. Ness membuka kaca helm-nya. “Saya Nessa, Tante. Teman Orion.” Tante Icha menolah padaku. Dia mendongak dengan senyum tersungging. “Teman apa teman?” Aku melotot padanya. Memangnya dalam kamus keluarga Hartono ada nama yang lebih bagus dari teman? Dalam keluarga kami, hubungan lebih lanjut dari sekadar pertemanan sudah ditentukan. Kami tidak bisa menolak apalagi mengelak. Pacaran itu satu kata yang haram hukumnya untuk disebutkan. Kami akan langsung melompat pada jenjang bernama pertunangan. Jadi, jika Tante Icha berkata begini, aku tahu benar, dia sedang menggodaku. Karena mustahil bagiku menjalin hubungan dengan seorang gadis lebih dari teman. “Saya permisi, Tante.” Ness memundurkan motornya. Aku segera membantunya menarik bagian belakang motor supaya lebih ringan. Aku tidak yakin kedua kakinya sanggup menarik motor itu lebih jauh tanpa bantuan. “Thank’s.” Dia berucap pelan sebelum menghidupkan mesin motor dan melaju dengan cepat. “Serius, cuma teman?” Tante Icha mengejarku hingga masuk ke mobil. “Memang, Tante berharapnya apa?” Aku mendengus sambil memasang sabuk pengaman. Jika sedang pergi berdua begini, aku akan menyetir. Aku sudah seperti brondong yang mendekati tante-tante. Untung saja beberapa orang mengenali kami sebagai seorang tante dan kemenakan. Walau tidak semua orang melek akan bisnis dan paham silsilah keluarga Hartono, wartawan takkan pernah mengulas tentang kedekatan kami. “Dia cantik.” “Hem.” Kekehan Tante Icha terdengar. “Kamu tidak tertarik padanya?” Aku menggeleng. “Untuk apa? Lagipula hubungan kami takkan lebih dari sekadar teman. Aku tidak mau membuang waktu dengan pacaran, padahal aku tahu benar, nggak ada masa depan untuk kami.” Entah sejak kapan kami berteman? Pertemuan tidak sengaja beberapa kali tentu saja tidak masuk dalam syarat untuk menjadi teman, kan? “Kamu tidak mau menikahinya?” Aku menoleh. Jalanan tidak terlalu ramai sehingga aku bisa membagi fokus dengan mudah. “Tante sedang bercanda?” Tante Icha mengedikkan bahu. “Tante harap, sih, kamu akan menikah dengan perempuan pilihanmu sendiri nanti. Bersama orang yang kita cintai akan memberikan kita rasa nyaman, sehingga masalah perusahaan seberat apa pun itu, akan terasa ringan. Lagipula, kehidupan rumah tangga juga akan lebih harmonis.” Dikatakan oeh orang yang tidak mau menikah. Lucu sekali. “Mama dan Papa baik-baik saja.” Tante Icha terkekeh. “Kamu tidak tahu, ya? Mereka itu sudah pacaran sejak masih sama-sama kuliah di Boston. Mereka hanya menyembunyikannya, karena sadar, pernikahan mereka kelak tergantung keputusan orang tua. Siapa sangka, mereka bakalan bertemu setelah tiga atau empat tahun berpisah. Mereka memutuskan break setelah kembali ke Indonesia. Kalian tahunya mereka dijodohkan, kan? Iya, sih, dijodohin.” Tante Icha manggut-manggut. “Tante tidak punya pacar?” “Pada usia Tante sekarang. Nggak, deh.” “Dulu?” Tante Icha tidak menjawab. Dia akan berpikir lebih lama jika membahas tentang masa lalu. Di dalam keluarga kami, dia termasuk sosok yang tertutup. Dia tidak mau ikut campur urusan orang lain, dan dia berharap tidak ada yang akan mencampuri urusannya. Itu kenapa, dia tidak pernah terbuka akan kehidupan asmaranya. “Tidak ada istilah pacaran dalam keluarga kita.” “Asmara terselubung, mungkin. Seperti yang dilakukan Papa?” Aku menoleh karena tidak segera mendapatkan jawaban. Dia menggeleng. “Tidak pernah.” “Wow. Tante tidak pernah jatuh cinta?” Dia tergelak. “Tentu saja pernah. Tapi, kamu tahu sendiri, nasib percintaan anak-anak Hartono itu seperti apa, papamu termasuk yang beruntung.” Aku menghela napas. Benar juga. Om-omku rata-rata mendapatkan istri yang tidak mereka inginkan. Tak pelak sering beredar gosip, mereka menjalin hubungan gelap dengan perempuan lain. Beberapa dari kalangan artis. Mungkinkah aku anak dari hubungan gelap mereka? Dengan nama Hartono di belakang namaku, itu mungkin saja. Lalu, aku dilimpahkan pada keluarga Papa yang belum memiliki anak laki-laki. Pantas saja Kakek dan Nenek bersikap begitu padaku. Mama harus mengakuiku sebagai anaknya. “Sekarang, Opa tidak lagi mengurus perusahaan. Tante takkan dinikahkan dengan orang yang menguntungkan perusahaan Opa. Tante bebas memilih.” “Kata siapa?” Tante Icha mencibir. “Kakak-kakakku, yang lima orang itu, semuanya menganggap Tante aset. Mereka menawarkan banyak calon, tentu saja yang menguntungkan buat perusahaan mereka.” Aku tertawa. Pembahasan seperti itu sudah sering terjadi. Keriuhan meja makan tidak diisi tentang pertanyaan kabar masing-masing anggota keluarga, melainkan mengenai jodoh Tante Icha yang belum kelihatan batang hidungnya sampai sekarang. Itu membuat kami para kemenakan memilih untuk menyingkir dan memainkan ponsel masing-masing. Meskipun saudara sepupu, kami jarang bertemu jika bukan dari sekolah yang sama dan seumuran. “Kita akan makan di sini?” Aku menghentikan mobil di depan sebuah resto yang Tante Icha bilang sebagai milik salah seorang temannya. Kami biasa makan di sini, di dalam ruangan tertutup untuk membahas beberapa hal. Termasuk permintaan Tante tentang kuliahku kelak. “Ya. Tante sudah order beberapa menu. Kita tinggal makan saja.” Kami turun. Seperti biasa, kehadiran kami banyak menarik perhatian. Apalagi Tante tidak mau melepaskan tanganku. Aku sudah bosan mengingatkannya, tapi dia tidak peduli. Dia akan bilang sedang makan bersama putranya jika ada yang bertanya. Sejauh ini tidak ada yang menanyakan itu, sih. Untuk pautan usia kami, kami memang pantas sebagai anak dan ibu. Asal mereka sadar saja bahwa perempuan yang menggelayut di lenganku ini sudah berumur 40 tahun. Sayangnya, tebakan mereka selalu berakhir di angka 30-an. Tante Icha memang terlihat sangat muda untuk wanita seusianya. “Kamu sudah memikirkan tawaran Tante?” Aku baru saja duduk dan memandang semua menu di meja saat pertanyaan itu meluncur. “Papa sudah menentukan kampusku.” “Boston?” Dia mendelik, lalu menghela napas. Aku mengedikkan bahu. “Iya, mungkin.” “Paris saja. Tante sudah menyiapkan rumah, mobil, pelayan.” Aku memandangnya. “Bukan di rumah Tante yang sekarang?” “Rumah Tante sudah seperti kantor. Banyak orang yang keluar masuk. Tante ingin menjaga privasimu. Kamu bisa belajar dengan tenang.” “Tante merasa nggak, sih, seperti sedang menawari brondong untuk jadi simpanan?” Tante Icha tergelak. “Bukannya enak memiliki sugar mommy?” “Sayangnya, aku punya sugar daddy yang lebih tajir dari Tante.” Dia terkekeh. “Kalau harta papamu dibagi empat, kamu cuma dapat sedikit. Harta Tante nggak ada yang membagi, buat kamu semua, gimana?” “Jangan-jangan aku ini anak Tante, ya?” Tawa Tante Icha semakin kencang. Aku tahu, itu tidak mungkin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN