Tidak mudah untuk meyakinkan resepsuonis hotel supaya membiarkanku naik ke lantai tiga, di mana kamar nomor 202 berada. Berkali-kali dia memandangku, pun Ness yang tidak mau membuka maskernya. Lebih baik memang seperti itu. Aku yakin orang-orang akan langsung mengenali Ness dan muncul gosip baru. Ness tidak harus ikut turun denganku dan masuk kemari. Tapi, aku tidak tahu caranya kembali ke sekolah tanpa ketahuan. Dia tidak keberatan mengembalikanku ke sekolah. Anggap saja dia sedang melakukan investasi dan akan mengambil keuntungan suatu saat kelak. Dia bilang, pasti akan butuh bantuanku juga. Entah kapan, dan apa? Dia memintaku untuk membantunya pada saat itu. Dengan terpaksa aku mengeluarkan KTP dari dalam dompet karena nomor Bang Wira tidak bisa dihubungi. Nomor tersebut tidak aktif.

