"Masih tidak mau keluar." Adu pria berkepala pelontos yang sejak tadi menggedor kasar pintu kontrakan Rena, hingga tangannya memerah dan kebas. "Kalau begitu, langsung dobrak saja." "Apa tidak masalah?" "Astaga, kau baru bertanya? Bukankah sejak tadi kita membuat masalah dengan keributan ini? Lagipula, sepertinya tak akan ada yang berani menegur." Benar juga. Memangnya siapa yang akan berani menegur mereka? Kecuali orang itu memiliki stok nyali berlebih. Karena biasanya, orang-orang akan segan. Ah, atau mungkin takut? Baru diberi pelototan, sudah tremor lebih dulu. Dan nyali seketika ciut. Melenyapkan segala keberanian yang dimiliki. Baru saja pria berkepala pelontos hendak menjawab ucapan temannya. Suara lain yang lebih dulu mengudara, seketika menginterupsi. Membuatnya yang sudah me

