Part 9

960 Kata
Jasmine Pov Aku terus memikirkan harus memakai baju apa malam ini. Sekarang, aku berdiri didepan cermin dan mencari-cari baju yang cocok untuk kupakai. Hell!!! Mengapa aku jadi memikirkan untuk membuatnya tertarik ? Benar-benar tidak waras. Pintu kamarku terbuka dan menampilkan putra kecilku. "Mommy, where are u going?" "Mommy akan pergi makan malam hari ini dengan uncle Zelvin. Tidak apa-apa kan ? Hanya sebentar saja sayang. Bibi Rose akan menemanimu," "Hmmm...baiklah tidak apa-apa. Bisakah kau membelikanku pizza sebelum kau pulang?" "Anything for you honey," "Thanku mommy," Javin berlari kearahku dan aku berjongkok agar dia bisa memelukku. "I love you so much mom," "I love you more sweetheart," Aku tidak menyadari sedari tadi Zelvin sudah ada didepan pintu. Dia tersenyum kearahku. "Are you ready?" Javin melepaskan pelukannya dan berbalik arah menatap Zelvin. "Uncleee," "Hey buddy!!!" Javin berlari kearah Zelvin dan Zelvin menggendongnya. "Uncle, apa kau akan pergi bersama mommy?" "Iya sayang, hanya sebentar saja. Nanti gantian uncle akan mengajakmu jalan-jalan okay?" "Okay uncle!!!" Zelvin Pov Setelah berpamitan, kami langsung pergi ke Restaurant yang sudah aku reservasi. Di perjalanan benar-benar sunyi, hanya ada suara radio yang terus berputar. "Kau terlihat sangat cantik, Jasie," Aku berbicara dengan tiba-tiba, Jasmine menatapku lalu menatap kedepan lagi. Pipinya terlihat memerah, aku tersenyum. "Apa kau ingin membuatku jatuh cinta lebih dalam lagi kepadamu?" Jasmine tetap diam, tapi semburat diwajahnya memperlihatkan bahwa dia terlihat malu, "Ah, aku memang sudah jatuh cinta terlalu dalam kepadamu," Aku menatapnya sebentar, dia melihatku dengan ekspresi yang tidak terbaca. Perjalanan dilanjutkan dengan keadaan yang sunyi tanpa ada pembicaraan lagi. Sesampainya di restaurant kami langsung duduk dikursi yang sudah aku reservasi. Pelayang datang membawakan buku menu. "Kau mau makan apa Jasie?" "Aku ingin spagheti bolognese dan strawberry juice," "Saya fish fillet and french fries dan wine," "Baiklah, ada yang lain?" "Tidak itu saja terima kasih," Pelayan itu tersenyum dan mengambil buku menunya lalu pergi. Suasana menjadi canggung, akhirnya aku membuka obrolan. "Apa kau sudah memberitahu orang tuamu?" "Belum, mungkin nanti. Aku masih ingin hidup mandiri," "Kau sudah sangat mandiri Jasie, kau mengurus Javin tanpa ad-" aku berhenti berbicara, ucapanku akan menyakiti diriku sendiri. Dan rasa penyesalan mulai datang lagi. "Dan aku baik-baik saja tanpamu kau tahu itu?" "Apa kau tidak akan memberitahu Javin siapa ayahnya?" Aku mengalihkan pembicaraan. "Aku akan memberitahunya tapi bukan sekarang," "Aku sekarang disini, kau harus memberitahunya. Aku tidak suka dia memanggilku uncle, aku merasa seperti orang lain dikehidupannya," Dia terdiam selama beberapa detik, "Oh ya ? Apa kau pernah ada dikehidupannya dulu ? Apa kau ada saat aku membutuhkanmu ? Apa kau ada saat aku berjuang mati-matian untuk melahirkannya?" Dia berusaha menahan airmatanya, matanya sudah sangat memerah dan aku terbungkam. "Maafkan aku Jasie,kau harus tahu alasanku," "Ya aku tahu, aku sudah menerima ajakanmu. Jadi, sekarang ceritakan apa yang terjadi,"Aku menarik nafas dalam lalu menghembuskannya pelan. "Perempuan itu datang kekantorku untuk memberikan sebuah file kerjasama. Ketika aku sedang membaca filenya, dia datang kearahku lalu tiba-tiba duduk dipangkuanku. Dia menciumku." Aku melihat reaksi Jasmine, dia tetap diam tetapi matanya memancarkan kesakitan dan kesedihan, aku tetap melanjutkan pembicaraanku. "Ketika dia menciumku, aku sedang memikirkanmu karna akhir-akhir ini kau aneh dan terlihat sakit. Dan aku memikirkan bahwa yang sedang menciumku itu adalah dirimu. Aku tidak bisa berpikir jernih, lalu aku mendengar suaramu dan disitu aku baru menyadari betapa bodohnya aku. Aku sangat menyesal, aku mencarimu kemana-mana tapi tidak ketemu. Sampai pada akhirnya hampir selama 3 tahun kurang itu aku keluar masuk rumah sakit," Jasmine menatapku dengan pandangan kaget. "Bagaimana bis-" aku memotong perkataanya dan melanjutkan perkataanku. "Aku dehidrasi dan kekurangan asupan, hampir setiap minggu aku bolak-balik karna harus diberi asupan gizi dengan di infus. Lalu setelah keluar rumah sakit aku akan menyibukkan diri dengan bekerja tanpa mengenal waktu. Dan akhirnya, mungkin karna merasa iba dengan keadaanku orangtuamu memberitahuku dimana kau berada," Aku tertawa garing, "Tapi, sebelum itu mereka ingin agar aku terlihat sehat ketika bertemu denganmu. Aku mulai berolahraga dan makan dengan teratur kembali walaupun aku tidak berniat tapi karna mereka menjanjikan akan mempertemukanku kembali padamu aku melakukan segalanya. Dan hanya sebulan aku mulai sehat walaupun tidak sepenuhnya dan mereka memberitahuku dimana dirimu sekarang dan sekarang aku disini. Bertemu denganmu dan anak kita". Jasmine diam seribu bahasa, dia mengalihkan pandangannya kearah lain ketika pelayan datang. Aku terus memperhatikannya, matanya benar-benar memerah. Setelah pelayan itu pergi aku berbicara lagi. "Jangan kau pikir aku tidak mencarimu Jasie, aku mengeluarkan semua detektif hampir diseluruh dunia untuk mencarimu. Tapi temanmu memang pintar menyembunyikanmu dan hanya orang tuamu yang tahu dimana kau berada," Lalu kami makan dalam diam, aku terus memperhatikannya dengan intens. Dia menghindari bertatapan denganku. Setelah selesai makan, kami langsung pergi tapi tidak kembali kerumah. Kesebuah taman yang tadi aku lewati, walaupun keadaannya gelap tapi ditaman itu ada lampu-lampu yang membuatnya menjadi indah. Kami duduk disalah satu bangku taman dan terdiam hanyut oleh pikiran masing-masing. Jasmine Pov Aku tidak bisa berkata apa-apa, masih mencerna setiap kata yang dia ucapkan. 'Apa benar seperti itu ? Orangtuaku tau dimana aku berada ? Tapi mengapa mereka tidak datang padaku ? Dan Zelvin benar-benar sakit seperti katanya ? Apa aku harus percaya kata-katanya ?' Tiba-tiba pipiku basah, ah tidak aku menangis. Tangan Zelvin mengelus pipiku mengusap airmataku. "Jangan menangis, itu membuatku lebih sakit. Kau tahu aku sangat benci ketika kau menangis, kau kekuatanku kau tahu itu ? Maafkan aku membuatmu menjadi seperti ini, maafkan aku menyakitimu. Aku memang pria bodoh dan kau wanita yang terlalu baik. Kita seharusnya sudah berpisah tapi karna keegoisanku aku tidak mau melakukannya. Keegoisanku karna aku sangat mencintaimu hingga tidak akan pernah melepaskanmu. Aku mohon maafkan aku, kau rumahku. Aku ingin kembali kerumahku dan hidup bahagia. Kita bersama." Air mataku terus mengalir, Zelvin memelukku sangat erat aku menumpahkan tangisanku dibahunya, tubuhku bergetar hebat. 'Aku tetap mencintaimu Zelvin dan itu tidak pernah hilang walaupun kita berpisah selama 3 tahun'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN