5 🦋

1077 Kata

Anin biarkan saja tusukan pertama itu tertinggal jauh di dalam batinnya. Anin tampilkan senyuman manis nan tulusnya. Menunduk memungut pulpen lalu mengembalikan benda itu ke dekat laptop Hadid. "Anin masih mengharapkan maaf dari Mas Hadid," katanya lembut, berisi doa agar luluh hati suaminya. Tak terlihat raut ramah Hadid meskipun pakaian yang Anin kenakan mungkin saja memprovokasi hasratnya. Hadid mengambil pulpen itu sangat cepat lalu menodongkan mata tumpulnya kepada Anin. "Keluar!" Anin panik, "M---mas---" "Ke-lu-ar!" Ucap Hadid penuh penenkanan. "Kalau kamu mengerti bahasa manusia, keluar, Anin!" "Bisa gak Mas Hadid gak marah-marah sama Anin sebentar. Sebentar aja, Mas," pinta Anin setengah mengemis. Hadid diam dengan napas naik turun tak terkendali. Matanya beralih ke layar lap

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN