[14] Something Weird?

1793 Kata
Setelah mengenakan pakaian, mengeringkan rambut dan menggunakan riasan wajah yang ia poles tipis, Aprodytha akhirnya keluar dari kamarnya. Ia berjalan mengikuti langkahan kakinya dan menebak – nebak letak ruang makan. “Ketemu!” pekik Aprodytha dalam hatinya. Ia akhirnya berhasil menemukan ruang makan yang cukup megah. Beberapa pelayan sudah berdiri di sudut ruangan termasuk sang juru masak. Alana menarik kursi dan mempersilakan Aprodytha untuk duduk. Setelah Aprodytha duduk, Alana pun menaruh serbet putih di atas paha Aprodytha. “Selamat pagi, Nyonya!” sapa seluruh pelayan itu bersamaan. Aprodytha tersenyum kaku, “Selamat pagi semuanya,” jawab Aprodytha yang justru membuat pelayan yang lain kebingungan. “s**t! Apa Aphrodite tak pernah membalas sapaan itu?” ujar Aprodytha dalam hati. Aprodytha berusaha mengabaikan para pelayan itu, perhatiannya justru teralihkan pada semangkuk bubur yang ada di hadapannya. Ia pun mengambil sendok dan mulai menyendokkan bubur itu ke dalam mulutnya. Hambar. Tak ada rasa apapun di dalam bubur itu dan membuat Aprodytha terasa ingin memuntahkan isi perutnya. “Hoek!” “Nyonya, anda tidak apa – apa?” tanya Alana yang panik dan segera menghampiri Aprodytha. Alana melihat ke dalam mangkuk bubur Aprodytha dan lalu berteriak, “Siapa yang bertanggung jawab membuat bubur ini?!” tanya Alana seraya melihat ke arah 2 juru masak yang berdiri di sudut ruangan. Jae melangkahkan kakinya dan mengangkat tangannya, “Saya,” ujarnya. Jae memejamkan matanya, bersiap menerima cacian yang akan dilontarkan oleh Aprodytha yang sebenarnya ia ketahui jika itu adalah Aphrodite. “Bubur ini hambar,” ujar Aprodytha yang membuat Alana tercengang. “Ya?” sahut Alana. Jae pun turut melihat ke arah Aprodytha yang mulai mengeluarkan bubur dari dalam mulutnya dengan menggunakan kain serbet berwarna putih yang ada di atas pahanya. “Bubur ini hambar. Tak ada rasa apapun,” ujar Aprodytha. “Tapi, in ikan bubur yang biasa anda makan, Nyonya,” balas Alana. “Astaga, apa aku harus menyantap makanan sehat selama 2 minggu? Seluruh makanan sehat itu hambar dan aku membenci itu,” ujar Aprodytha dalam hati. Aprodytha pun membenarkan posisi duduknya, ia menatap Jae yang menyembul keluar dari barisan dengan tangan yang dikepal di depan dan menundukan kepala. “Selama 2 minggu ke depan, aku ingin makanan yang memiliki cita rasa enak dan tak mementingkan nilai gizi!” ujar Aprodytha yang entah ke berapa kali membuat Alana dan pelayan lain yang mendengarnya terkejut. Selama mereka bekerja, mungkin ini pertama kalinya bagi mereka sosok Aphrodite meminta makanan yang nikmat. Padahal Aphrodite yang mereka kenal sangat memilih makanan dan jika di rasa penyedap rasa yang digunakan terlalu banyak, Aphrodite akan marah dan berakhir dengan memecat dengan juru masak yang memasak makanannya. “Ampuni saya, Nyonya!” teriak Jae lalu bertekuk lutut di hadapan semua orang. Para pelayan pun kebingungan, apa lagi Aprodytha yang merasa bersalah. “Apa maksudnya pria itu meminta ampun?” gumam Aprodytha pada dirinya sendiri. “Tidak – tidak. Aku serius. Aku minta 2 minggu ke depan untuk menyiapkan makanan yang sangat lezat. Anggap saja aku bosan memakan makanan sehat dan ingin berlibur sejenak selama 2 minggu,” ujar Aprodytha yang di dengar oleh seluruh pelayan di rumahnya. “Dan kau, tak perlu meminta maaf sampai berlutut, cepat berdiri,” titah Aprodytha pada Jae yang masih berlutut di depan matanya. Jae yang mendengar perintah tersebut, langsung berdiri namun dengan kepala yang masih menunduk. “Kau yang membuatkan bubur ini, kan?” tanya Aprodytha pada Jae. Jae menganggukan kepalanya, “Betul, Nyonya,” jawabnya. “Kalau gitu, buatkan aku bubur lagi yang lebih enak dari ini. Aku tak berselera memakan bubur sehat ini.” “Baik!” jawab Jae bersemangat. Alana pun membantu memindahkan mangkuk berisi bubur di hadapan Aprodytha ke atas meja kecil yang digunakan untuk membawa makanan ke ruang makan dari dapur. Jae yang mendengar perintah langsung dari Aprodytha, segera berlari kecil menuju dapur dan membuatkan bubur yang baru untuk Aprodytha. Lima belas menit berlalu, Jae mendorong meja yang membawa bubur milik Aprodytha dengan wajah cerah. Sebenarnya Jae sangat handal memasak, dia juga ahli dalam membuat cita rasa yang lezat dan unik, namun kelebihannya justru terhambat karena Aphrodite selalu meminta Jae untuk mengurangi penyedap rasa pada makanan yang dihidangkan untuknya. Jae meletakkan semangkuk bubur yang dibuatnya di hadapan Aprodytha. Aromanya berbeda denagn bubur sebelumnya. Kaldu serta potongan ayam membuat Aprodytha bersemangat untuk melahap makanan itu. Tanpa aba – aba, Aprodytha langsung mengambil sendok bersih, dan menyuapkan bubur panas itu ke dalam mulutnya. “Hati – hati, itu masih panas, Nyonya,” ujar Jae mengingatkan Aprodytha. Namun terlambat, Aprodytha yang sudah kalap dengan aroma masakan Jae, tak mengindahkan peringatan dari Jae. Mata Aprodytha terpejam, ia menikmati setiap bagian dari bubur yang berada di dalam mulutnya. Setelah mulutnya kosong, Aprodytha akan menyendokkan bubur kembali ke dalam mulutnya. Jae dan Alana terheran, karena bagi mereka tak biasanya Aphrodite makan selahap itu. Aphrodite sangat menjaga berat badan dan tubuhnya karena ia memang punya kesialan mudah gendut. Bahkan terlalu banyak minum air putih pun, tubuh Aphrodite bisa membengkak. Tapi berbeda hal nya dengan Aprodytha. Tubuhnya ramping dan kurus, lekukan tubuhnya ideal meski ia sangat jarang melakukan olahraga. Jangankan olahrga, terpikir untuk diet saja tidak pernah. 5 menit kemudian, mangkuk besar berisi bubur yang semula penuh sudah habis dilahap oleh Aprodytha. Sebagai penutup, ia mengambil air putih yang sudah dituangkan ke dalam gelas oleh pelayannya dan lalu membersihkan mulutnya dengan tisu. Aprodytha melihat ke seluruh pelayannya termasuk Jae dan Alana yang tampak terheran karena menghabiskan bubur semangkuk penuh seorang diri hanya dalam waktu 5 menit. “Aku suka masakanmu,” ujar Aprodytha memberi pujian pada Jae. Pipi Jae seketika memerah, ia tak pernah mendapatkan pujian dari Aphrodite secara gamblang. Biasanya Aphrodite hanya akan berkata jika masakannya enak, tak sampai berkata dirinya menyukai masakan Jae. “Terima kasih, Nyonya!” ujar Jae penuh semangat. Aprodytha beranjak dari kursinya dan memeluk Jae, “Aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih atas makanan yang kau sajikan. Sarapanku jadi lebih nikmat pagi ini.” ujarnya. Melihat sosok Aphrodite yang memeluk Jae, membuat semua pelayan di ruang itu takjub. Mereka merasa Aphrodite sedang kerasukan setan karena berbuat baik sekali pagi ini. Aprodytha melepas pelukannya dengan Jae dan hendak memindahkan mangkuk beserta sendok yang bekas ia pakai ke atas meja troli, namun Alana menghalangi Aprodytha dan berkata, “Tidak perlu, Nyonya. Biar saya bereskan. Nyonya boleh kembali ke kamar.” Aprodytha lupa jika saat ini ia sedang bermain peran sebagai seorang Aphrodite dan harus membiasakan diri bertingkah layaknya Aphrodite. Ia pun melepas mangkuk yang di sentuh olehnya dan meninggalkan ruang makan. Jae yang masih merasakan hatinya penuh bunga – bunga berterbangan dan terus tersenyum. Pelayan lain bisa mengerti perasaan Jae yang merasa luar biasa bahagia karena mendapat pujian dan bahkan dipeluk oleh Aphrodite. * * * * *   Aprodytha masuk ke dalam kamar dan melihat layar ponsel milik Aphrodite di atas meja rias yang menyala. Aprodytha pun menghampiri ponsel milik saudari kembarnya dan melihat nomor dengan awalan +62 di depannya. “Pasti Aphrodite,” gumam Aprodytha lalu membuka ponsel itu yang tak terkunci sama sekali. Aprodytha melihat pesan masuk dan benar saja, itu adalah pesan dari Aphrodite yang baru saja akan take off menuju Indonesia. Aphrodite rupanya sengaja memakai nomor Indonesia untuk mempermudah komunikasi selama di Indonesia dan juga agar tak terlacak jika namanya di daftarkan dengan nomor lain. Hei, ini aku Aphrodite! Bagaimana 6 jam pertamamu sebagai Aphrodite? Apakah semuanya berjalan dengan baik? Atau ada kendala lainnya? Aku dibelikan ponsel baru oleh Izekiel setelah mengeluh ponselku hilang, hahaha. Oh ya, aku lupa memberitahumu sesuatu. Aku memiliki pelayan pribadi bernama Alana. Ya dia akan membantumu dalam hal apapun termasuk mencuci pakaian dalam milikmu. Tenang saja, dia bisa dipercaya, tapi jangan biarkan dia tahu jika kau bukan Aphrodite. Meski 3 tahun aku mengenalnya, aku pun tak tahu informasi apa saja yang akan ia berikan pada Damien. Oh ya, kau sudah bertemu Gaga? Dia adalah mantan asisten pribadi Damien. Berhati – hatilah dengannya. Dia akan menyampaikan apapun yang kau lakukan pada Damien. Memang tukang adu! Lalu yang terakhir aku sudah meletakkan uang tunai $ 10000 di dalam brankas lemari pakaian. Anggap saja itu bayaran untukmu. Kata sandi nya adalah ulang tahun kita. Jangan sentuh apapun selain uang yang ada di dalam sana. Itu semua pemberian dari Izekiel! Selama menjadi Aphrodite kau boleh berbelanja dengan black card milikku yang kau pegang.  Tak perlu khawatir tagihan akan membengkak! Okay? Terakhir, aku sedang kesal karena pesawat ke Bali sangat delay. Dan ini sebentar lagi akan take off. Akan kukabari lagi setelah tiba di Bali. Jangan lupa untuk membalas pesanku! Aku akan membacanya saat tiba di Ngurah Rai, Bali, Indonesia. Dan, jangan lupa untuk hapus seluruh pesan keluar masuk antara kita. Ingat! Hanya kita tahu tentang pertukaran ini. Ingat itu! Oke?  See you!   Xoxo, Aphrodite. * * * * * Jari Aprodytha pun tergerak untuk membalas pesan dari saudari kembarnya. Ia juga tersenyum karena mendapatkan pesan dari Aphrodite yang tampak sangat bahagia. Meski tanpa foto, tapi ia bisa merasakan jika Aphrodite bahagia karena berlibur bersama dengan Izekiel. * * * * * To : +6281333300011 (Indonesia Phone Number) Tak perlu bertanya tentang 6 jam pertamaku. Sangat banyak kesalahan yang kuperbuat. Namun tenang saja, aku sudah menyelesaikannya dengan baik, jadi tak perlu khawatir. Dan aku sudah bertemu dengan Alana dan Gaga. Tenang saja, mereka tak akan tahu jika aku bukan Aphrodite. Tetap jaga kesehatanmu selama di Bali. Jangan lupa kirimkan fotomu saat di sana! Setidaknya aku bisa berpura – pura di akun sosial media ku sedang berlibur ke Bali. Satu lagi, bawakan aku brem khas Bali yang banyak!   Xoxo, Aprodytha. * * * * * Usai mengirimkan pesan miliknya, ia pun segera menghapus pesan masuk serta pesan keluar yang ada di ponsel itu guna menghilangkan jejak kalau sewaktu – waktu ada orang yang tanpa sengaja membuka ponsel miliknya dan membaca pesan itu. Sebenarnya Aprodytha pun  bertanya – tanya, apakah Izekiel tahu jika Aphrodite memiliki kembaran dan meminta saudari kembarnya untuk menggantikan dirinya di rumah selama Aphrodite pergi berlibur ke Bali dengan Izekiel. Namun Aprodytha tak terlalu memusingkan hal itu. Ia pun meletakkan kembali ponsel Aphrodite di atas nakas yang ada di samping tempat tidur. Kakinya pun melangkah membuka lemari pakaian dan benar saja, di bagian bawah terdapat sebuah brankas. Aprodytha memasukan kata sandi ulang tahun mereka dan akhirnya pintu brankas pun terbuka. “Gila!” Aprodytha terkejut melihat isi uang, perhiasan, emas dan bahkan berlian yang tersimpan di dalam sana. Aprodytha sekarang mengerti kenapa juga Aphrodite memilih Izekiel. Selain mendapatkan perhatian dari pria itu. Rupanya Aphrodite pun dimanjakan dengan perhiasan yang harganya bahkan bisa untuk membeli sebuah perusahaan sekelas Adidas. Aprodytha pun hanya melihat isi brankas itu dan kembali menutupnya. Karena tak mungkin baginya untuk mengambil dan membawa uang itu sekarang. Selain masih ada waktu 2 minggu untuk bertugas sebagai Aphrodite, ia juga masih memiliki black card milik Aphrodite jika ingin berbelanja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN