[6] Aphrodite Allergic

2239 Kata
Hampir seluruh isi dari lemari pakaian dengan empat pintu itu dikeluarkan ke atas tempat tidur dengan ukuran queen size. Merasa tak kunjung menemukan pakaian yang tepat, Aphrodite terus mengeluarkan koleksi dress yang ia punya. Hingga akhirnya ia terpaku pada sebuah mini dress berwarna merah maroon yang menggantung di pojok lemari miliknya. Tangan nya pun terulur untuk mengambil pakaian yang ia tuju, namun kegiatannya itu segera di interupsi dengan suara ketukan pintu yang cukup menganggu. Tok ! Tok ! Tok ! “Astaga apa lagi sekarang,” gumam Aphrodite dengan nada sedikit tak suka nya karena ketukan pintu itu cukup menganggunya. Aphrodite meninggalkan lemari nya dan beralih melangkahkan kakinya ke ambang pintu kamarnya, ia pun membuka sedikit pintu kamarnya dan memperlihatkan wajahnya melalui celah pintu yang terbuka. “Maaf Nyonya, saya mau bertanya sekaligus mengkonfirmasi untuk menu makan malam ini. Apa perlu saya buatkan pasta seperti yang Nyonya minta kemarin?” tanya Alana yang kini berdiri terpaku di depan pintu kamar Aphrodite. “Tidak usah, Alana. Malam ini sepertinya saya akan makan malam di luar bersama dengan teman saya,” jawab Aphrodite. Alana melihat ke dalam kamar Aphrodite melalui sisi celah yang tidak tertutupi oleh tubuh Aphrodite, “Ah baik, Nyonya,” jawab Alana lalu pergi meninggalkan Aphrodite. Sejujurnya Alana masih bertanya – tanya mengapa kamar Aphrodite tampak sangat berantakan dan bahkan wanita itu sama sekali tak meminta bantuan Alana sama sekali. Namun pikiran Alana segera ia tepis, ia tahu diri batasan antara hubungan Aphrodite dengan nya yang hanya sebatas majikan dan asisten. Setelah memastikan Alana meninggalkannya, Aphrodite pun segera menutup pintu kamarnya dan tak lupa ia mengunci pintu kamarnya. Aphrodite kembali pergi menuju lemari pakaiannya dan mengeluarkan pakaian mini dress yang sudah ia tandai sejak tadi. Aphrodite mengeluarkan baju itu dan ia gantung pada sebuah penggantung di dinding. Aphrodite tersenyum melihat pakaian itu, “Sepertinya ini jauh lebih baik,” gumamnya. Aphrodite membalikkan tubuhnya dan melihat ke atas tempat tidurnya yang sekarang dipenuhi oleh pakaian miliknya. “Oh! Come on!” keluh Aphrodite. * * * * * Aphrodite melihat pantulan dirinya dari cermin besar yang berada di kamarnya. Ia pun memutar tubuhnya dengan anggun dan menilai apakah penampilannya sudah rapi. Mata Aphrodite pun tertuju pada sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. Ia melihat cincin itu sesaat. “Maafkan aku, tapi aku butuh sebuah perhatian untuk saat ini,” gumam Aphrodite lalu ia pun melepaskan cincin yang melingkar di jari manisnya dan meletakannya di sebuah kotak perhiasan yang berada di laci meja rias nya. Setelah memastikan penampilan nya dengan baik, Aphrodite pun meraih tas kecil beserta ponselnya. Ia meyakinkan dirinya untuk pergi makan malam bersama Izekiel dan jauh di dalam lubuk hatinya dia berharap Damien tak akan pernah mengetahui tindakannya. Aphrodite keluar dari kamarnya dengan mini dress berwarna merah maroon yang menyelimuti tubuhnya dan tak lupa mengambil kartu kamarnya agar tidak sembarang asisten bisa masuk ke dalam sana. Aphrodite menelusuri rumahnya dan akhirnya berhasil menemui Alana yang sedang sibuk membersikan meja di ruang tamu. “Alana,” panggil Aphrodite yang tampak membuat Alana sedikit terkejut dengan panggilan Aphrodite yang terkesan tiba – tiba. Alana sedikit tersentak lalu memalingkan wajahnya menghadap sosok yang memanggil namanya, “Ah, Nyonya,” ujar Alana lalu berdiri dari posisi jongkoknya karena sedang membersihkan meja di ruang tamu yang terbuat dari kaca. “Aku akan pergi sebentar untuk makan malam. Bisakah kau membersikan kamarku? Ya, aku sedikit membuat kekacauan di kamar. Tolong, ya,” ujar Aphrodite lalu memberikan kunci kamarnya ke Alana tanpa mendengarkan jawaban Alana terlebih dahulu. Setelah memberikan kunci kamarnya, ia pun pergi berlalu dari ruang tamu dan keluar dari rumah. Alana yang baru saja mengerti dengan apa yang terjadi, segera menyusul Aphrodite yang berada di ambang pintu masuk. Sebuah mobil dengan lambang kuda di bagian depan serta warna kuning mengkilap memasuki pekarangan rumah yang ditinggali oleh Aphrodite. Mobil itu berhenti tepat di hadapan Aphrodite dan bagian atapnya perlahan terbuka, hingga menampilkan sosok pria asia dengan kulit putih di bagian kemudia nya. “Hei, Aphrodite!” sapa pria itu. Alana yang terlihat bingung hanya bisa menatap Aphrodite dan pria asing itu secara bergantian. Ini adalah pertama kali baginya melihat Aphrodite pergi ke luar rumah bahkan dengan seorang pria asing yang sangat jelas baru ia lihat. Aphrodite tampak bersemangat dan menghampiri mobil berwarna kuning itu. Pria itu segera turun dan membukakan pintu untuk Aphrodite, “Silakan, Nona,” ujar pria itu. “Nyonya, anda mau ke mana? Apa tidak sebaiknya Peter dan Noah pergi bersama anda?” tanya Alana. Aphrodite mengangkat tangannya dan menggerakan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri, “Tidak perlu. Aku akan aman bersama nya. Dan ya satu lagi, keep it secret, okay?” ujar Aphrodite. Alana tak mampu membalas ucapan Aphrodite. Ia hanya bisa melihat kepergian mobil berwarna kuning itu yang mulai meninggalkan pekarangan rumah bersama dengan Aphrodite di dalam nya. “Astaga, semoga tak akan terjadi sesuatu. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Nyonya, Tuan Zeousin pasti akan marah. Tapi, siapa pria itu?” tanya Alana pada dirinya sendiri. Alana memutuskan untuk membuang jauh – jauh pikiran buruknya itu. Ia pun segera mengambil kain yang tadi ia gunakan untuk membersihkan meja kaca tadi. Setelah memastikan meja itu telah bersih dari debu, Alana pun pergi menuju kamar Aphrodite. “Astaga, ini bukan hanya sebuah kekacauan kecil!” pekik Alana ketika melihat kamar Aphrodite yang sudah sangat berantakan dengan pakaian yang berserakan di mana – mana. Dan mau tidak mau, Alana harus membereskan semua kekacauan yang tidak kecil itu sebelum Aphrodite kembali dari makan malamnya. * * * * * Vitis Vineria Bottega Restaurant Mobil Ferrari milik Izekiel berhenti di sebuah restaurant dengan kesan mewah yang terletak di pusat kota Sisilia. Seorang pria dengan pakaian khas seorang pelayan pun mendekati mobil kuning miliknya lalu membantu Aphrodite turun dari mobilnya terlebih dahulu, sedangkan Izekiel secara mandiri turun dari mobilnya dan memberikan kunci mobilnya pada pria tadi. “Ini tip untukmu, tolong jaga dengan baik,” ujar Izekiel seraya memberikan satu lembar uang $ 100 pada pria itu. “Terima kasih, Pak!” sahutnya bersemangat. Pria itu pun segera mengambil alih kemudi mobil mewah itu dan mencarikan lokasi parkir yang tepat. Izekiel meraih pinggang ramping Aphrodite dan berjalan memasuki restaurant itu. Aphrodite pun tak menunjukan reaksi penolakan terhadap apa yang dilakukan oleh Izekiel padanya. Mereka pun berjalan berdampingan dan masuk ke dalam lift. Izekiel menekan tombol angka dua belas yang artinya lokasi makan malam mereka berada di lantai dua belas. Sebuah tulisan VIP Only terpampang dengan jelas ketika pintu lift itu terbuka, sedangkan Aphrodite hanya menatap ke arah Izekiel yang berada di sisi nya. Kini ia mulai bisa membaca dengan jelas nilai kekayaan milik pria bernama Izekiel itu. Seorang pelayan wanita menghampiri Izekiel dan mengeluarkan buku catatan berwarna hitam yang berisikan daftar pelanggan VIP restaurant itu. “Atas nama Izekiel,” ujar Izekiel sebelum wanita itu bertanya pada mereka. “Silakan lewat sini,” ujar pelayan wanita itu lalu menunjukan ke arah tempat duduk yang berada tepat di pinggir kaca dan telah dipesan oleh Izekiel. Izekiel menarik sebuah kursi dan mempersilakan Aphrodite untuk duduk. Aphrodite pun tersenyum dengan perlakuan manis yang diberikan oleh Izekiel padanya. Ia segera mendudukan dirinya. Sedangkan Izekiel menarik kursinya sendiri dan duduk di sebrang Aphrodite. Seorang juru masak laki – laki terlihat menghampiri Izekiel dan secara khusus menawarkan diri untuk melayani Izekiel malam ini. “Perkenalkan saya Malvin, saya adalah juru masak senior di Vitis Vineria Bottega, dan malam ini izinkan saya untuk melayani anda, Tuan Izekiel,” ujar pria bernama Malvin itu seraya memberikan sebuah buku panduan daftar makanan yang tertera di dalamnya. Izekiel pun memberikan buku itu terlebih dahulu pada Aphrodite dan membiarkan wanita di hadapannya untuk memesan makanan lebih dahulu. “Jika anda sedang melakukan diet, mungkin saya bisa menyarankan beberapa hidangan makanan yang tepat untuk malam ini, Nona,” ujar Malvin pada Aphrodite yang tampak sedikit kebingungan dengan berbagai menu dengan nama asing yang tertera di dalam sana. “Mungkin itu ide yang bagus,” sahut Izekiel yang berada di seberang nya seraya memberikan senyuman manisnya seperti biasa pada Aphrodite. “Saya menyarankan untuk menu Grilled Calamari, Nona. Hidangan ini terbuat dari bahan utama cumi yang dibakar dengan minyak zaitun yang tentunya rendah lemak dan baik untuk kesehatan anda,” ujar Malvin. Aphrodite mengerenyit saat mendengar bahan utama yang sebenarnya membuatnya sedikit merasa takut jika harus memakan hidangan laut yang tak pernah ia makan sebelumnya. “Kau suka cumi?” tanya Izekiel pada Aphrodite. “Aku belum pernah mencobanya, namun aku memiliki alergi pada beberapa hidangan laut seperti udang dan kepiting. Aku takut jika alergi itu akan muncul jika aku memakan cumi,” jawab Aphrodite. “Tak apa, Nona. Bagaimana jika anda mencoba hidangan kami yang lain? Saya rasa Caprese akan cocok,” ujar Malvin kembali memberikan sarannya pada Aphrodite. “Boleh. Saya cukup menyukai hidangan itu,” ujar Aphrodite. “Kalau begitu tolong buatkan dua,” sambung Izekiel. Malvin tersenyum senang dan mengambil kembali buku daftar hidangan yang berada di tangan Aphrodite lalu pergi meninggalkan Izekiel dan Aphrodite. Suasana di Vitis Vineria Bottega tidak cukup ramai, terlebih Izekiel memilih lantai dua belas yang hanya bisa dipesan oleh beberapa orang tertentu. “Apa kau menyukainya?” tanya Izekiel memulai pembicaraan di antara mereka. “Tentu saja,” jawab Aphrodite dan membalas senyuman manis yang dilontarkan oleh pria di hadapannya. Dunia Aphrodite seolah menjadi lebih berwarna ketika ia bertemu dengan Izekiel, di tambah percakapan melalui ponsel mereka yang selalu paling dinantikan oleh Aphrodite. “Kau cantik malam ini.” Blush! Aphrodite kini bisa merasakan jika pipinya terasa panas dan sepertinya memerah. Kedua tangan Aphrodite pun ia gunakan untuk menutupi pipi nya. Izekiel sedikit tertawa melihat tingkah laku Aphrodite, lalu ia menggigit jarinya perlahan karena tak bisa menyembunyikan humor nya dengan baik di hadapan Aphrodite. Tak sampai menunggu waktu lama, hidangan yang dibuat oleh Malvin pun akhirnya tersaji di hadapan Izekiel dan Aphrodite. Setelah seorang pelayan wanita meletakkan dua piring Caprese di hadapan Izekiel dan Aphrodite, pelayan wanita itu pun memberikan sebuah gelas dan mengisi nya dengan wine hingga terisi satu per empat bagian. Setelah makanan dan wine tersaji, Malvin kembali datang dan membawakan hidangan lain lalu ia meletakannya di tengah meja antara Izekiel dan Aphrodite. “Ini adalah menu baru buatan saya yang akan segera saya sajikan di Vitis Vineria Bottega. Namun, suatu kehormatan bagi say ajika Tuan dan Nona dapat memberikan penilaian terhadap makanan yang saya berikan secara gratis ini,” ujar Malvin lalu pergi meninggalkan Izekiel dan Aphrodite. Izekiel dan Aphrodite mengambil gelas wine mereka lalu saling menyatukan mulut gelas mereka, “Cheers!” ujar Izekiel lalu meneguk habis wine yang ada di dalam gelasnya. “Rasanya aku benar – benar tersihir dengan senyuman pria ini,” gumam Aphrodite di dalam hatinya. Aphrodite meraih garpu dan pisau dan mulai menyantap hidangan makan malamnya. Matanya pun tertuju pada sebuah hidangan yang tampak di bakar dengan menggunakan madu di hadapannya. Aphrodite menggigit bibir bawahnya, ia sangat mengenali aroma dari madu yang di bakar dan itu adalah makanan kesukaannya. Tangan Aphrodite pun terulur dan ia mengambil sepotong yang tampak seperti daging ikan itu lalu memasukan ke dalam mulutnya. Satu menit. Dua menit. Semuanya masih tampak baik – baik saja, namun beberapa detik kemudian Aphrodite mulai menyadari ada yang aneh dengan tenggorokannya. “Uhuk!” Aphrodite tiba – tiba saja tersedak. Ia meraih gelas air putih yang ada di hadapannya, namun entah mengapa tangannya terasa terlalu lemas hingga gelas itu jatuh ke lantai dan pecah. Prang ! Malvin bergegas menghampiri meja Izekiel dan Aphrodite, sedangkan Izekiel yang panik melihat apa yang terjadi pada Aphrodite langsung beranjak dari kursinya. Tangan nya dengan sigap menahan tubuh Aphrodite yang hampir saja terjatuh dan mengenai potongan kaca dari gelas yang telah pecah dan berhamburan di lantai. “Aphrodite!” pekik Izekiel. Izekiel sedikit menggoyangkan tubuh Aphrodite namun tak ada respon apapun. “Maafkan saya, Tuan!” ujar Malvin yang terlihat sangat panik melihat Aphrodite yang tak sadarkan diri. Izekiel menatap tajam ke arah Malvin, “Apa yang kau lakukan?” tanya Izekiel. “Maaf aku benar – benar lupa jika Nona menderita alergi terhadap udang dan kepiting, dan saya baru teringat jika seseorang alergi dengan dua jenis hidangan tersebut, maka pasti juga akan alergi pada lobster. Dan saya menyesal telah memberikan hidangan lobster pada Nona ini,” jelas Malvin. Izekiel membuang napasnya kasar, giginya menggeretak dan urat di pelipisnya pun terlihat jelas. Tanpa menunggu waktu lama, Izekiel pun segera melepas jas yang ia gunakan untuk menutup bagian paha Aphrodite yang terekspos dan segera menggendong tubuh Aphrodite di depan d**a nya. Malvin merasa berdosa karena memberikan hidangan lobster bakar madu di meja Izekiel dan Aphrodite. Ia pun turut menemani Izekiel yang menggendong tubuh Aphrodite yang telah kehilangan kesadarannya, bitnik berwarna merah pun mulai keluar di sekujur tubuhnya. Izekiel terburu – buru berjalan ke arah pintu depan utama, dan pelanggan yang lain pun sempat kebingungan dengan apa yang terjadi. Pria yang tadi bertugas memarkirkan mobil Izekiel segera mengetahui apa yang harus ia lakukan. Ia segera mengambil mobil Izekiel dan membukakan pintu mobil itu untuk membiarkan Aphrodite duduk terlebih dahulu, lalu memasangkan sabuk pengaman. “Dia harus di bawa ke rumah sakit,” ujar Malvin yang semakin merasa bersalah karena melihat kondisi Aphrodite yang tampak memprihatinkan. “Aku akan membawanya ke rumahku,” jawab Izekiel dingin seraya memasangkan sabuk pengaman pada tubuhnya. Izekiel segera menancap gas meninggalkan restaurant itu. Untung saja ia sudah membayar pemesanan di awal dan bisa segera meninggalkan tempat itu tanpa harus membayar makanan terlebih dahulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN