BAB 26

1803 Kata
Masalah Ansel telah selesai. Itu artinya masalah manager Ade turut berkurang satu. Sekarang, dia bisa fokus mencari keberadaan putrinya. Entah dia harus memulai semuanya dari mana? Tapi yang pasti, manager Ade harus mencari keberadaan anaknya, bagaimanapun caranya. Pertama, dia memikirkan tempat yang kata mantan istrinya adalah sebuah panti yang sudah menjadi tanah kosong itu. Manager Ade ingat betul bahwa di tahun dua ribu lima, ada sebuah toko sembako di seberang jalan tak jauh dari panti asuhan itu. Bagaimana Manager Ade mengetahui itu? Tentu saja dia mengetahuinya, karena jalan itu adalah rute tercepat yang menghubungkan tempat kontrakannya dengan apartemen Ansel. Manager Ade memutuskan akan datang ke toko sembako itu, sedikit banyak penjaga toko itu pasti mengetahui tentang ibu pengasuh anak-anak di panti itu. Tak ingin membuang waktu, manager Ade melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah terbentang di otaknya. Bekas bangunan yang sudah rata dengan tanah dan sebuah toko sembako yang manager Ade harapkan masih ada di sana. Tak lupa, dia mengabari Rukmi. Perempuan yang sampai detik ini memiliki tempat dalam hatinya. Perempuan yang sudah melahirkan anaknya juga telah berhasil menjaga anaknya dengan sangat baik. Ya, tentu saja manager Ade berpikir demikian, karena sekali lagi ... Jika Rukmi tidak dengan tega membuang bayinya ke panti, maka pasti bayinya akan mati karena dirinya. Huft ... Ada rasa sesal karena ternyata handphone mantan istrinya tidak bisa dihubungi. Tadinya, Manager Ade akan mengaplikasikan istilah sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sambil mencari anaknya, dia ingin terus berusaha meyakinkan Rukmi untuk kembali menjadi keluarga utuh. Tapi itu hanya sebatas rencana yang langsung gagal bahkan sebelum terlaksana. Rukmi boleh tak menjawab teleponnya, tapi niatnya untuk mencari anaknya tetap akan dia lakukan hari ini. Manager Ade melajukan mobilnya menuju tempat yang pernah dia datangi bersama Rukmi. Hanya saja tujuannya kali ini bukanlah tempat yang sudah rata dengan tanah. Melainkan toko sembako yang ada di seberang berhadap-hadapan dengan panti asuhan yang sudah menjadi lahan kosong. Seperti dugaannya, warung itu masih berdiri di sana dengan tampilan yang mengikuti jaman. Ada spanduk yang di pasang di depannya bertuliskan merk rokok. Dan di sisi kiri warung itu ada tabung bensin yang biasa disebut pom mini. Di depan warung itulah dia menghentikan mobilnya. Memanggil-manggil si pemilik, tapi tak kunjung ada jawaban. Manager Ade mendekat dan berdiri di depan etalase. Hanya terdapat anak kecil berusia tiga tahunan sedang asyik menonton TV. Ya, serial yang digemari anak-anak, Upin Ipin. “Dek, mamanya mana?” manager Ade bertanya dengan berdiri merapat pada etalase. “Ada di belakang. Tungguin aja, Tante..” Dengan tidak mengalihkan pandangan, anak itu menjawab. Tunggu! Apa katanya? Tante? Wah ... Sepertinya itu dialog yang diajarkan oleh si mama jika nanti ada orang yang beli pada anaknya. Sementara diantara tumpukan barang yang merupakan stok jualan yakni di dalam gudang. Sepasang suami istri itu sedang saling menumpahkan hasrat yang telah lama tak tersalurkan. Kedua bibir yang saling meraup penuh nafsu. Saling memagut mencari kenikmatan yang jarang mereka dapatkan. Sementara tangan si papa tak mau diam, dia menjelajahi puncak bukit si mama satu persatu. Si mama sengaja tidak memakai pengaman pada dua bukitnya, tentu agar si papa bisa leluasa melakukan petualangan di dua gunung yang menurut semua pembeli itu kembar. Dan lagi, si mama dengan sigap merapatkan bibirnya agar mulutnya tidak menimbulkan suara ke depan, dan terdengar si bocil. Tapi kenikmatan itu sungguh membuat dia lupa diri, si mama menggeliat begitu bibir si papa menyusuri lekukan leher jenjangnya lalu turun pada dua bukitnya. Akh ... Otot perutnya menegang. Membangkitkan sesuatu yang sering dia inginkan tapi jarang dia dapatkan karena ada anak diantara mereka, pun karena terkadang, barusaja pemanasan tiba-tiba saja ada pelanggan yang berteriak ingin membeli sesuatu. “Ah, pah ... Agak dicepetinhh donghh, Pah ... Itu si Ocit sendirian di luar ahhh ...” si mama meracau sembari menyebutkan nama anak mereka yang ditinggal di luar. Si mama masih ingat pada anaknya meski sebenarnya dia tak ingin semua ini cepat berakhir. Desahan itu keluar lagi karena hentakan si papa yang tepat Mengenai intinya. “Itu mamanya ngapain, Dek?” manager Ade bertanya karena mendengar suara perempuan yang bersumber dari dalam warung. Ya, Tentu saja manager Ade mendengar, karena kebetulan saat si mama mendesah tak ada kendaraan melintas dan juga jarak warung dengan tempat barang itu hanya dibatasi oleh dinding kayu. “Mama sering kalo BAB emang gitu.” Anak kecil itu menjawab tapi lagi-lagi dia tidak menoleh sama sekali pada orang yang mengajaknya bicara. Manager Ade hanya manggut-manggut mendengar jawaban si Ocit. Anak kecil polos yang ditinggal ke belakang demi menyalurkan hasrat si mama dan papa yang sudah hampir seminggu tertahan. “Mama nungging, dong.” Kali ini si papa ingin mencoba gaya baru yang baru tadi dia lihat di movie barat yang dia dapatkan dari temannya. Dan lagi, itu terdengar oleh manager Ade. Si mama menuruti. Dia memasang posisi yang sepertinya sudah dia pahami gaya yang dimaksudkan suaminya. Dengan cepat, kenikmatan itu kembali merasuk. Si papa menggelinjang keenakan lalu kemudian tangannya dengan liar meremas kasar dua bukit istrinya. Akh ... Keduanya pelepasan bersama. Agak nyaring dan itu terdengar lagi oleh manager Ade yang sejak tadi berdiri di depan etalase. Niat hati mau cari info, malah dapet godaan. Hati manager Ade mencelos, ada rasa iri dalam hatinya pada pasangan penjaga warung ini. Lalu dirinya? Hah ... Masih sangat lama karena dia harus menemukan putrinya dulu baru bisa melakukan hal seperti yang pasangan suami istri itu lakukan di belakang pembatas itu. “Eheem ....” sengaja manager Ade berdehem sebab setelah erangan yang terdengar bersamaan itu, mereka belum juga muncul keluar. “Mama masih pengen, Pa.” Si mama merajuk belum cukup puas dengan jatahnya. Boleh aku yang gantiin, gak? Eh ... Dengan cepat manager Ade membungkam mulutnya sendiri karena ocehan nafsunya yang nyeletuk minta ditabok. Si papa tak menjawab, dia lantas keluar karena mendengar derheman dari arah depan warung. “Eh, mau beli apa, Pak?” si papa tersenyum canggung karena ternyata di luar benar-benar ada orang. “Nggak, Pak. Ini, saya Cuma mau tanya, itu panti yang di depan pemiliknya kemana, ya?” manager Ade tidak berbasa-basi. Karena sejujurnya, dia merasa tak enak mengganggu pasangan Yang sedang melakukan sunah rasul itu. “Oh, Bu Deden. Dia sudah pulang kampung, Pak. Anak-anak asuhnya sudah dikirim dan disebar ke panti-panti lain.” Si papa menjawab dengan terlihat sedikit kekesalan di wajahnya. Tadinya melihat penampilan manager Ade, dia pikir ini adalah balasan tuhan atas pergumulan tadi. Lancar rejeki dan dimudahkan segala urusan. Tapi ternyata, hih ... Hanya tampang doang keren, ak taunya Cuma nanya yang nggak penting. Begitu isi otak si papa yang juga pemilik warung itu. “Bapak ada punya alamatnya nggak, Pak?” manager Ade bertanya lagi. “Kalo alamatnya saya gak punya. Tapi kalo nomer teleponnya saya ada. Nanti saya bacakan deh, Pak. Tapi tolong jagain warung saya sebentar.” Si papa mendadak ingin buang air kecil. Ingin sekali dia panggil istrinya untuk meladeni orang yang sok kaya ini, tapi dia sendiri yang malu kalau sampai keberadaan istrinya diketahui di belakang. Bisa ketahuan kalau si papa habis anu sama si mama. “Bapak mau kemana?” manager Ade bertanya tapi tidak dijawab oleh si papa. Huft ... Si papa bisa melihat bahwa manager Ade butuh informasi mengenai ibu Deden si pemilik sekaligus ibu panti di panti asuhan Pelita kasih itu. Dia mengeloyor masuk ke kamar mandi. Padahal di dalam, si mama sedang memijit payudaranya. Ya, itu adalah terapi yang biasa si mama lakukan setiap kali habis bergumul dengan si papa. Melihat itu, k-cong papa bangun lagi. Direngkuhnya tubuh mama dan didorongnya hingga menyentuh dinding kamar mandi. Untung kamar mandinya bersih dan wangi. Jadi mama tidak merasa jijik saat tubuh telanjangnya menyentuh dinding yang setengah basah itu. Diraupnya bibir mama lagi karena candu itu ada di sana. Mama mengimbangi, membuka mulut dan membiarkan lidah mereka saling melilit di dalam. Saling bertukar salifa dengan memejamkan mata menghayati setiap kelembutan di dalamnya. “Warungnya gimana, Pa?” si mama masih terus menggunakan logikanya meski dia kembali menginginkannya lagi. “Ada yang jaga.” Si papa menjawab dengan membuka pengaman di bawah yang sengaja dikenakan mama saat tadi masuk ke kamar mandi. Ya, hanya bagian atasnya yang terbuka milik mama. Dan itu tidak membuat si papa puas karenanya. Sebab itu dia membuka tempat kesukaannya yang ada di tubuh mama. Sebuah surga yang tersembunyi dibalik rimbunnya pohon kecil berwarna gelap. Papa mengecupnya dengan sesekali memainkan puncak kecil di sana dengan tangannya. Mama mengerang, menggelinjang dengan tangan meremas rambut papa yang berada di bagian bawah perutnya. “Ah ... Masukin, Pah ....” desahan mama tidak lagi ditahan. Karena letak kamar mandi berada di pojok belakang dan tak mungkin terdengar keluar. Papa menuruti kemauan mama. Diangkat kaki mama dan diletakkan di bahunya. Membuat posisi mama mengangkang sempurna. Saat itulah, papa melancarkan aksinya. Semakin menyudutkan mama dan menghentak kasar pada inti mama. Bukan berteriak kesakitan, mama justru mengerang nikmat dan meminta lebih dan lebih. Begitulah, sepasang suami istri yang sering sekali menahan hasratnya karena tuntutan pekerjaan mereka. Dan sekarang, saat kesempatan itu ada, keduanya tidak menyia-nyiakannya. Beragam pose mereka coba hingga pada akhirnya si mama merasa puas dan lemas. Lalu manager Ade? Laki-laki itu tentu saja dia setia menunggu. Karena memang benar dugaan si papa. Bahwa manager Ade butuh informasi darinya tentang pemilik panti asuhan yang sudah menjadi reruntuhan itu. Perlu diketahui! Pemilik warung yang dipanggil si papa itu adalah seorang sarjana S1 psikologi. Jadi sedikit banyak dia mengetahui apa yang Manager Ade pikirkan. Seorang sarjana psikologi menjadi tukang warung? Iya begitulah. Karena hidup di pedesaan membuat dia kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Sebab itulah si papa memutuskan membuka usaha warung di Jakarta. “Ini. Kamu bisa langsung hubungi beliau. Dan kalau kamu perlu ke sana, aku bisa antarkan kamu ke sana hari ini juga.” Si papa berucap dengan memberikan selembar kertas yang berisi catatan nomer milik Bu Deden. “Sepertinya gak perlu. Saya bisa mencari sendiri. Oh ya, dua s**u beruang harganya berapa?” manager Ade teringat pada dua kaleng minuman yang sudah dia habiskan. Sebenarnya hanya satu kaleng yang dia habiskan, tapi tadi ada yang beli satu kaleng, karena manager Ade tidak tahu harganya dan mungkin tidak punya kembalian jika uang si pembeli ada sisanya. Maka, manager Ade mengucapakan bahwa minuman itu gratis untuk hari ini. Dan jadilah seperti sekarang, manager Ade membayar untuk dirinya dan orang itu. Bisa saja manager Ade tidak membayar, tapi dia teringat bagaimana saat dulu dirinya sedang susah, dan lagi, uang Tiga puluh ribu sekarang sudah tidak ada artinya. Bukan mengambil kembalinya, manager Ade justru mengatakan agar uang kembaliannya dikaksihkan pada anak yang nonton TV. Itu sukses membuat si papa tersenyum girang. Dengan senyum yang tidak hilang di wajahnya, si papa melepaskan kepergian manager Ade yang hilang bersama mobilnya di tikungan depan tak jauh dari sana. Belum semenit si papa masuk, segerombolan anak remaja datang dengan menyerbu kulkas yang terletak di depan. Tentu saja si papa senang, karena sunah rasulnya yang kedua ternyata membuahkan hasil. Tapi hal itu kemudian berbalik seratus enam puluh derajat, karena anak-anak remaja itu langsung berlari pergi begitu selesai mengambil minuman. Bukan untung malah buntung, nasiib nasib.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN