Manager Ade menerima selembar kertas yang berisi rentetan nomer Bu Deden. Ya, itu pasti nomer Bu Deden, manager Ade kan mintanya nomer Bu Deden. Bukan nomer si mama apalagi si papa.
Seharusnya, papa yang merupakan lulusan psikologi itu tahu bahwa manager Ade sebenarnya mengetahui apa yang mereka lakukan di belakang sana. Tapi karena pikiran manager Ade terfokus pada Bu Deden, si papa jadi berpikir bahwa manager Ade ini orang yang bodoh soal pergumulan dengan istri.
Hus ... Awas kena sentil kau, papa. Berani-beraninya mengatai manager Ade begitu. Dia itu nggak bodoh, Cuma hampir mati rasa karena kelamaan dianggurin, hahaha.
Kembali pada manager Ade kita tinggalkan dulu si papa yang kena serbu anak remaja di warungnya. Anak-anak itu mengambil minuman dengan semangat karena mereka anggap bahwa hari ini masih masuk gratisan seperti yang kawan mereka dapatkan tadi.
Si papa ingin teriak, tapi kemudian ocehan anaknya membuat dia urung melakukannya. Ocit yang asyik dengan serial kartun tontonannya itu berseru, “Haha anak-anak itu lucu kayak di Upin Ipin.” Dalam bayangan Ocit, mereka itu seperti sedang berlari karena takut pada kemarahan Kak Ros.
Sementara manager Ade, dia melajukan mobilnya menuju kontrakan miliknya. Berbekal nomer Bu Deden, manager Ade akan langsung menghubungi ibu panti itu saat ini juga. Dan di sinilah dia sekarang, berkutat dengan kertas dan handphone miliknya. Menyalin nomer yang dia dapatkan dari penjaga warung yang tadi dia temui.
Tuut ... Terdengar nada sambung dari handphone manager Ade, dan ...
“Halo.” Terdengar suara perempuan tepat pada bunyi sambungan ketiga.
“Halo, apa benar ini dengan Ibu Deden Siswanto?” manager Ade menyebutkan nama lengkap Bu Deden yang berbuntut nama almarhum suaminya.
“Iya betul. Saya anaknya. Kebetulan ibu saya sedang keluar. Kalau boleh tahu, saya bicara dengan siapa, ya?” tanya perempuan yang mengaku anak Bu Deden sopan.
“Ehm ... Begini saja, saya boleh minta alamat Bu Deden, tidak? Saya ada kepentingan dengan beliau terkait salah satu anak asuhnya di panti asuhan Pelita kasih.” Manager Ade mengucapkan secara terus terang mengenai tujuannya.
Dan tak ingin hanya mengobrol via telepon, manager Ade berinisiatif untuk datang dan mengobrol langsung dengan Bu Deden. Ya, dia tak ingin lagi berlama-lama menunggu untuk bisa bertemu anaknya.
Tapi ... Bukan menjawab, perempuan di balik telepon itu diam dan memutus secara sepihak panggilan itu.
Entah apa yang terjadi, tapi saat manager Ade mencoba menghubunginya lagi, nomernya sudah tidak bisa dihubungi.
Mungkin baterenya abis, atau mungkin juga jaringan lemah. Secara Bu Deden, kan hidup di desa. Begitu manager Ade berasumsi. Dia hembuskan nafas kasar karena pencariannya belum membuahkan hasil.
Dan, kriiing ... Dering handphone-nya membuat dia tersentak dan membuka mata seketika. Ada binat Bahagia di sana karena manager Ade pikir, itu adalah anak Bu Deden atau bahkan Bu Deden sendiri yang secara pribadi menelepon balik kepadanya.
Binar mata manager Ade berganti senyum yang mengembang di bibirnya karena ternyata si penelepon itu bernama Rukmi, mantan istrinya yang ingin sekali dia sahkan kembali menjadi istri.
“Halo, Mas. Apa ada perkembangan soal anak kita?” Rukmi tak berbasa-basi. Dia langsung pada pokok permasalahan dan tujuannya menelpon manager Ade.
Huft ... Manager Ade meraup wajahnya kasar karena sepertinya istrinya, eh salah mantan istrinya sama sekali tidak memikirkan dirinya. Ya, begitulah seorang ibu. Mengutamakan anak di atas segalanya. Terlebih, Rukmi sendiri merasa sangat bersalah pada anak yang sangat terpaksa dia buang ke panti.
“Halo, Mas. Kok nggak jawab? Are you okay?” pertanyaan Rukmi tepat mengenai perasaan manager Ade. Jika saja dia boleh jujur, manager Ade ingin bilang bahwa suara-suara yang dia dengar di warung tadi, membuat dia seperti kehilangan akal sehatnya. Tak bisa dipungkiri, manager Ade menginginkan penyatuan bersama perempuannya.
Oh ... Tapi itu hanya akan menjadi keinginan semata, sebab jelas hal itu tak akan kesampaian. Manager Ade tahu diri dan hanya bisa diam menelan salifa yang rasanya sangat keras di tenggorokannya.
“Sedikit lagi aku akan menemukan anak kita. Tak bisakah kita bersatu dulu? Agar saat anak kita bertemu, dia tidak terlalu kecewa karena ternyata dia mempunyai keluarga yang utuh.” Tidak ada kata menyerah dalam hidup manager Ade. Terlebih untuk urusan Nikmat menikmati. Manager Ade tak kan pernah mundur sampai Rukmi kembali jatuh dalam pelukannya.
Manager Ade sangat rindu bahkan luas dan dalamnya lautan, itu tak bisa menjadi tolak ukur kerinduannya. Belum lagi urusan nikmat menikmati, tak bisa manager Ade bohongi, dia rindu ada yang memerhatikannya setiap akan berangkat dan pulang kerja. Ada yang menyiapkan air hangat saat dia akan mandi sebelum tidur. Lalu ketika dia akan beranjak tidur, ada guling hidup yang bisa dia ajak bicara sampai kantuk menyerang.
Manager Ade sangat rindu.
“Tapi, Mas. Kalau dia tanya kenapa dia bisa sampai di panti? Aku harus jawab apa?” Rukmi merasa perkataan suaminya memang ada benarnya. Tak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang anak selain melihat orang tuanya harmonis dan memiliki keluarga utuh yang bahagia.
Tapi apakah bisa disebut bahagia ketika mereka bersama, tapi justru anak mereka diasuh oleh orang lain? Itulah yang menjadi beban dan pertimbangan di hati Rukmi. Apa yang akan dia ucapkan saat nanti anaknya bertanya bagaimana dia bisa sampai di panti?
Ah ... Tidak! Tidak bisa! Rukmi belum siap. Dan penyesalan itu masih mendekam kuat di hatinya hingga dia sendiri enggan memikirkan dirinya sendiri sebelum dia bertemu anaknya.
Manager Ade hargai keputusan Rukmi. Karena memang benar apa yang diucapkan wanitanya tadi.
Sudah cukup untuk hari ini! Menghargai bukan berarti dia menyerah. Hanya saja dia akan menemukan waktu yang tepat dan alasan yang tak bisa lagi ditolak Rukmi. Karena manager Ade tahu, Rukmi juga memiliki rasa yang sama merindukannya bahkan jauh lebih besar dari dirinya. Hanya saja, perempuan itu sangat pandai menyembunyikan perasaannya dan urusan anaknya membuat dia menomer duakan apa yang hatinya inginkan.
****
Sementara di desa, tepatnya di Kampung Rambutan Runtuh, seorang anak perempuan yang sudah berusia belasan tahun menemui ibunya di teras rumahnya. Dialah Anggun, perempuan yang mengaku sebagai anak Bu Deden ketika tadi manager Ade menelpon.
Ada gugat kegelisahan terpancar di wajahnya saat dia menemui ibunya yang sudah lanjut. Perempuan yang terlihat sangat lemah dan terpaksa menjadi penunggu kursi roda peninggalan almarhum suaminya.
“Ada apa, Nggun?” Bu Deden menanyai anak perempuannya yang sejatinya bukanlah anak kandungnya.
“Tadi ada laki-laki menelpon ke nomer ibu. Dia meminta bertemu ibu secara langsung dan meminta alamat rumah ini, Bu.” Anggun bercerita tentang percakapannya dengan manager Ade dengan penuh ketakutan.
Tak jauh beda dengan anggun, Bu Deden juga gak kalah cemas.
“Lalu apa kamu memberikannya?” Maksud Bu Deden adalah memberikan alamat Rumahnya seperti yang manager Ade minta?
Anggun menggeleng dengan senyum terlukis di bibir tipisnya.
Bu Deden tampak lega melihat gelengan kepala Anggun yang sudah dia anggap sebagai anaknya itu.
Tentu saja anggun tidak memberikan alamat rumah mereka pada manager Ade, karena mereka pikir, yang menelpon adalah salah satu rentenir yang biasa menagih hutang pada mereka. Ya, itulah penyebab hancurnya panti asuhan Pelita kasih. Bu Deden terlibat hutang dengan rentenir dan tidak sanggup membayar.
Bukan tanpa alasan Bu Deden berhutang, panti yang di dalamnya terdapat lebih dari dua puluh orang anak itu kekurangan donasi dan menyebabkan kehidupan mereka sangat buruk. Satu persatu anak asuh Bu Deden dikirim ke panti lain. Tapi tetap saja kehidupan mereka tak bisa dibilang layak.
Belum lagi masalah makan mereka yang selalu kekurangan, hampir setiap hari rentenir datang mengacak-acak panti hingga kemudian surat tanah itu diambil paksa oleh lintah darat itu.
Meski begitu, ternyata belum cukup membayar hutang Bu Deden beserta bunga-bunganya yang semakin hari semakin bertambah.
Sebab itulah, Bu Deden memutuskan pulang ke kampung halamannya. Tak banyak yang tahu alamat tempat tinggal mereka, sebab itulah saat tadi Manager Ade menelpon, anggun sebagai anak yang merengek meminta ikut dan tidak mau pisah dari Bu Deden menjadi cemas dan ketakutan. Karena dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana lintah darat itu selalu membentak ibunya.
Bu Deden terlihat sangat lega karena Anggun tidak memberitahukan alamat rumah mereka pada penelepon yang tidak diketahui identitasnya.
Sungguh hal yang sangat disayangkan, padahal bisa jadi saat manager Ade datang, selain dia ingin bertemu putrinya, dengan uang yang dia punya, sedikit banyak manager Ade pasti membantu. Bahkan mungkin tak akan sedikit, karena manager Ade tipikal orang yang tahu membalas Budi. Dia pasti akan membantu Bu Deden menyelesaikan masalahnya atau bahkan membangun kembali panti itu sebagai tanda terima kasih.
Begitulah jika berurusan dengan manusia yang dikenal sebagai lintah darat itu. Kita tak akan bisa hidup tenang walau berada di lubang semut sekalipun, seperti itulah yang dialami Bu Deden.
*****
Di sekolah SMA Negeri Harapan, Naya menjadi bulan-bulanan siswi yang sejak awal tidak menyukai Naya. Entah karena itu sebab Naya disayang semua guru, dan juga karena Naya yang begitu beruntung bisa digosipkan dengan artis terkenal. Apapun itu, batin Naya sangat tersiksa.
Hatinya sudah hancur tak bersisa. Dan kini, dirinya terus-menerus disiksa dan dibully. Naya menjadi takut untuk datang ke sekolah. Hari-harinya hanya digunakan untuk menangis di dalam kamar. Tidak disangka, mengenal Ansel hidupnya menjadi sangat kacau.
Apakah artinya cinta untuk Ansel adalah kesalahan? Bukankah ada yang bilang bahwa cinta itu tak pernah salah. Lalu apa yang salah dalam hal ini? Kenapa cinta yang membuat dia pernah merasa hidupnya berwarna kini justru seperti berada dalam neraka siksaan?
Naya tak sanggup. Jangankan sekolah, melihat ke luar jendela saja rasanya sangat menyakitkan. Dia seperti melihat Ansel di setiap tatapan matanya. Apa Naya harus menutup matanya agar tidak lagi melihat bayangan Ansel di manapun?
Naya frustasi. Hidupnya menjadi sangat berantakan. Bahkan Bu Rena dan Pak Leo menjadi kebingungan menghadapi sikap anaknya yang sangat tidak biasa.
Satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah mengamati dari jauh. Diam-diam mereka selalu menelpon Bian dan meminta lelaki itu datang dan menghibur Naya.
Sedikit banyak, memang perasaan Naya terhibur karena Bian. Tapi tetap, saat Bian tak ada, harinya menjadi kembali kelabu.
Tak mungkin, kan dia meminta Bian untuk bersamanya selama dua puluh empat jam? Apa kata tetangga jika mereka hidup dalam satu atap rumah?
Naya tak tahu hidupnya sekarang hendak kemana? Bahkan dia kehilangan seluruh mimpinya ketika dia melepaskan satu hal yang dia cintai. Apakah ini layak disebut cinta? Sedangkan mas pangerannya sudah tidak mempedulikannya.
Tapi bukankah, Naya sendiri yang lebih dulu melukai laki-laki itu?
Ah ... Naya kacau. Satu sisi dia merasa hancur. Tapi sisi yang lain dia merasa sangat menyesal. Tapi untuk apa? Semuanya sudah terlambat. Bahkan mas pangerannya sudah mengakui bahwa ada perempuan special dalam hatinya, tentunya perempuan yang dimaksud bukanlah dirinya, karena dalam pengakuan itu sangat jelas, dia hanyalah seorang pengantar bunga yang kebetulan sangat beruntung bisa selalu bertemu dengan Ansel.
Naya memeluk lututnya, itulah yang selalu dia lakukan ketika Bian sudah pulang dari rumahnya. Ya, Naya selalu memeluk lututnya dengan memejamkan mata. Dia cukup lelah melihat dan mendengar bayang-bayang Ansel dan bisikan suara yang mirip sekali dengan suara mas pangerannya.
Naya tak ingin hidupnya selalu diganggu oleh makhluk bernama Ansel Mahardika itu. Sudah cukup dirinya tersiksa, begitu logikanya bicara. Tapi yang namanya hati, dia terus menerus menyebut nama pemilik tempat di dalamnya, sosok yang menaburkan benih cinta di dalamnya tapi juga menjadi penyebab luka dan kehancuran di dalamnya.