BAB 28

1724 Kata
~POV Naya~ Deg ... Kurasakan jantungku menjadi sangat cepat berdetak. Tubuhku gemetaran karena sesuatu yang selalu aku jaga agar tak ada orang yang mengetahui selama ini. Tapi kini ... Tak hanya satu atau dua orang yang tahu, melainkan hampir seluruh isi dunia mengetahui ini ketika mereka membacanya. Ya, kedekatanku dan Mas Ansel kini menjadi berita terhangat pagi ini. Tak bisa ku pungkiri, aku takut sekolah dan masa depanku terancam, karena bagaimanapun, aku dan Mas Ansel benar-benar memiliki hubungan spesial. Bukan apa-apa, hanya saja aku kasihan pada orang yang aku cintai itu. Bagaimanapun, berita ini pasti akan berpengaruh pada karirnya. Aku tak bisa jika tidak memikirkannya. Ingin rasanya aku menangis jika saja aku tidak segera ingat bahwa aku sedang berada di area sekolah. Bisa kulihat kemarahan Bian, tapi aku tak peduli. Yang ada di pikiranku sekarang, adalah Mas Ansel. Aku mendadak menjadi sangat takut, takut jika karena berita itu, bukan hanya hubunganku yang terancam, melainkan sekolahku juga. Ah ... Aku sangat tahu betul seberapa banyak fans mas Ansel di dalam dan di luar sekolah. Entah bagaimana jadinya aku jika sampai mereka berbuat anarkis terhadapku. Ting ... Pesan masuk dari mas Ansel melalui aplikasi hijau. “Ver ... Aku sementara ini ga ada di apartemen. Kita juga ga bisa ketemu. Jaga diri kamu baik-baik, ya.” Pesan Mas Ansel dengan segera k****a. Apa separah itu dampak dari berita itu. Ah ya, tentu saja. Mas Ansel, kan seorang artis terkenal, pasti sekarang banyak wartawan berada di apartemennya. Aku sudah tak bisa menahan guncangan di dadaku yang tiba-tiba datang tanpa permisi. Aku sangat ingin tahu kondisi mas pangeranku. Aku ingin ada di sampingnya di saat seperti ini. Bukankah di saat-saat seperti ini, Mas Ansel perlu dukungan dari kekasihnya? “Nay, kamu kenapa, sih? Cerita dong sama aku, Nay. Ada apa?” Intan bertanya dengan ekspresi khawatir tapi tidak mengurangi kecerewetannya. Ah ... Benar-benar sahabat yang super special si Intan ini. “Gini aja deh, Nay. Kamu boleh umpetin apapun dari aku, tapi pliiis ... Kalo Cuma berdua sama aku, tumpahin aja tangisan kamu. Jangan ditahan kayak gitu biar kamu sedikit lega.” Intan berkata lagi sebab aku sendiri kebingungan menjawab pertanyaannya. Jujur, satu sisi aku ingin cerita padanya. Membeberkan semua hal yang sudah aku dan Mas Ansel lalui hingga sampai ke titik ini. Titik di mana semuanya harus terbongkar ke publik. Aku akui ... Intan ini sahabatku yang sempurna setelah Bian. Aku sangat beruntung memiliki dua sahabat yang selalu peduli dan mengutamakan kenyamanan dan kebahagiaan aku. Menyebut Bian, aku tidak ingat ke mana laki-laki itu? Jelas-jelas tadi dia ada di sini bersamaku dan Intan. Oh God ... Jangan sampai Bian membuat masalah yang ada menjadi runyam. Cukup lama aku menangis di pundak Intan. Sejujurnya, ini bukan aku! Aku tak pernah sekalipun memperlihatkan tangisanku pada orang lain meskipun itu sahabatku sendiri. Tapi kali ini, rasanya kegelisahan yang melanda hatiku cukup besar memporak-porandakan isi di dalamnya. Aku sampai tak punya malu karena itu. Dan setelah tangisanku mereda, Intan membawaku keluar dari kantin. Yang di sini, semua mata memandang ke arahku. Entah apa yang mereka lihat? Mungkin karena ini kali pertama bagi mereka melihat aku menangis. Baru selangkah kakiku melangkah, terdengar umpatan yang aku sendiri tidak tahu tertuju pada siapa? “Murahan!” Barulah pada umpatan kedua aku mulai paham bahwa orang yang mereka maksud adalah aku. “Ya, pasti dia udah ngasih tubuhnya buat Ansel.” Nggak! Aku gak pernah ngasih tubuh aku ke Mas Ansel. Mas Ansel itu baik, jangankan nyentuh tubuh aku, cium aku aja dia nggak pernah. Bahkan ketika aku menginginkannya, Mas Ansel tetap tidak menciumku. Dia sangat baik. Batinku seolah menentang perkataan mereka semua. Sungguh, aku sakit hati dianggap sebagai perempuan murahan seperti itu. Terlebih, Mas Ansel itu sudah sangat baik padaku selama ini. Dia tak pernah sekalipun berbuat kurang ajar kepadaku begitupun sebaliknya. Aku dan mas Ansel berhubungan sehat, kami pacaran sehat dan tidak pernah berbuat yang tidak-tidak. Ah ... Ingin rasanya aku berteriak dan menyumpal mulut mereka satu persatu. “Ya iyalah. Kan ada videonya si Naya keluar dari apartemen Ansel.” Terdengar lagi suara yang membuat darahku semakin mendidih. Aku ingin sekali mengumpat, dan bahkan membungkam mulut mereka. Tapi ... Mereka wajar memiliki pemikiran seperti itu. Karena dalam video itu terlihat bahwa aku keluar dari apartemen mas Ansel. Tentu hal itu akan menimbulkan banyak persepsi diantara mereka. Dan sekalipun aku ada di posisi mereka, mungkin aku juga akan berpikiran sama seperti mereka jika melihat seorang perempuan keluar dari apartemen laki-laki. Dan bukan hanya aku yang terkena imbas karena berita itu. Tapi Mas Ansel juga .... Dia bahkan bisa lebih parah. Karirnya pasti akan terancam karena berita itu. Kenapa aku bisa seceroboh itu, sih? Dan kamu gimana sekarang? Kamu pasti cemas juga, kan sama reaksi publik setelah ini?! Pikiranku sungguh kacau bahkan saat itu juga aku sangat ingin sekali menemui Mas Ansel. Tepat bersamaan dengan munculnya pemikiran seperti itu, tiba-tiba tanganku ditarik seseorang. Aku sempat berpikir dan berharap itu adalah Mas Ansel. Tapi kemudian, semua harapan dan pikiranku seketika sirna ketika kudengar suara Bian. Rupanya Bianlah yang menarikku sekarang. Dia membawaku ke belakang sekolah, sebuah taman yang kurang mendapat perawatan tak seperti taman di samping gerbang sekolah. Tempat ini sangat sepi, sangat cocok untuk aku dan Bian berbicara masalah Mas Ansel. Dan tempat ini juga tidak buruk untuk aku jadikan tempat menumpahkan semua kesedihan dan kecemasanku. “Nay! Elo nggak usah khawatir. Ansel tuh Baik-baik aja. Dia juga nggak ada di apartemennya. Barusan aku udah cek ke sana.” Bian berbicara begitu kami tiba di bangku yang dengan setia selalu diam di sana. Duh, Bi ... Kamu memang paling mengerti aku! Mendengar itu tentu aku sedikit lega, karena bagaimanapun ... Serangan publik lah yang aku takutkan sejak tadi. Tapi tunggu! “Darimana elo tahu alamat Ansel?” Aku takut apa yang Bian ucapkan hanyalah cara dia untuk membuat aku tenang sementara kenyataannya Bian tidak tahu apartemen mas Ansel di mana? “Yaelah, Nay. Elo ngeraguin kecerdasan gue,” timpalnya dengan wajah sedikit gusar. Bibirnya mengerucut, menandakan bahwa Bian kecewa karena aku tidak mempercayainya. Kutanggapi ucapannya dengan tawa yang sebenarnya sangat berat aku lakukan. Ya, aku sangat khawatir sekarang. Selain Mas Ansel yang akan diserang publik, pasti aku juga akan mendapatkan dampak karena berita itu, karena aku tahu betul seberapa banyak anak-anak di sini yang mengidolakan Mas Ansel. Bagaimana kalau aku dibully? Apa yang harus aku lakukan? Bagaimanapun, aku harus melawan mereka, tapi gimana caranya? “Tadi itu bener apartemen Ansel. Karena ada managernya di sana. Dia yang ngadepin wartawan dan menjawab semua pertanyaan mereka.” Bian bercerita, sementara aku menjadi pendengar setia sekaligus penikmat berita yang dia bawa. Syukurlah jika mas Ansel tidak ada di apartemennya, setidaknya untuk hari ini dia aman dan tak perlu memikirkan reaksi publik. “Sebenarya ada apa, sih?” Intan tiba-tiba muncul dan bertanya padaku ada apa? Aku sendiri bingung menjawabnya. “Baca berita, deh!” Bian berucap cepat menggantikan aku menjawab pertanyaan Intan. Bahkan dia juga memberikan benda pipih miliknya pada Intan. Aku tak peduli pada apa yang saat ini Bian dan Intan lakukan. Pikiranku sungguh tidak bisa berpindah dari Mas Ansel, dan juga sekolahku. Ah ... Apa aku akan bisa menampakkan wajahku di depan publik, sedangkan berita itu sudah pasti akan membuat banyak reaksi di kalangan orang-orang, terutama yang mengidolakannya. Aku sangat takut jika mereka sampai melakukan hal anarkis terhadapku. Dan karena ketakutan yang meraja itu, aku menjadi selalu berlindung di samping Bian, karena memang laki-laki itulah satu-satunya orang yang bisa melindungi ku terutama ketika di area sekolah. Kalau tidak ada Bian, mungkin aku hanya akan terus menjadi korban bullying di sekolahku, SMA Negeri Harapan. Bahkan hingga aku sampai di rumah pun, pikiranku tidak bisa berhenti untuk tidak memikirkan Mas Ansel. Kehawatiran atas diriku sendiri ditimpa menjadi kecemasan pada Mas pangeranku. Tiba-tiba ... Terdengar suara TV menyala ketika aku hendak pergi ke dapur. “Saya bisa pastikan bahwa antara Ansel dan perempuan itu tidak ada hubungan apa-apa. Secepatnya Ansel sendiri yang akan menjawab semua pertanyaan kalian.”Rupanya Manager Ade sedang diwawancarai. Dan itu semua persis seperti yang Bian bilang, terbukti dari latar yang terlihat di balik punggung Paman pacarku itu, itu benar-benar apartemen Mas Ansel, aku tak mungkin salah karena aku sangat hafal betul seperti apa interior di sana. Mendengar semua kalimat Manager itu, entah kenapa hatiku rasanya kembali nyeri. Ada sakit yang amat luar biasa di dalamnya. Secara, dia kan bukan hanya manager Mas Ansel, tapi juga pamannya yang bisa jadi dia tidak merestui hubungan aku dan Mas Ansel. Ah ... Aku ingin ketemu Mas Ansel. Bersamaan dengan itu, sebuah chat masuk di handphoneku. Segera kubuka sebab tertulis nama Mas pangeran di sana. “Jangan percaya apapun yang kamu lihat dan kamu dengar. Aku sepenuhnya milik kamu, Sayang.” Ada hawa sejuk begitu membaca isi pesan itu. Entah kenapa hatiku merasa sangat tenang meski sesak itu masih ada terasa di dalamnya. Hingga aku sampai tak sadar bahwa bibirku tertarik ke samping karenanya, dan bahkan karena saking senangnya mendapat pesan romantis seperti itu, aku sampai lupa membalas pesan dari Mas Ansel. Kring ... Handphone-ku berbunyi. Pasti karena aku gak balas pesannya. “Halo, Mas.” Aku menjawabnya dengan suara yang sudah aku atur sejak tadi sebelum menggeser ikon hijau di layar ponselku. Ya, aku harus bisa menahan diri, bahkan sampai kapanpun aku harus selalu siap untuk keadaan seperti ini. Karena ini kan resiko pacaran sama artis terkenal seperti dia. “Halo, Ver. Kamu nggak apa-apa, kan? Bisa kita ketemu?” Pertanyaan Mas Ansel sukses membuat aku jantungan. Bagaimana tidak? Aku sudah banyak mengikuti berita yang terkait dengannya, sudah pasti manager Ade mengatakan itu karena reaksi publik yang banyak menghujat mas Ansel. Tapi sekarang, laki-laki itu justru mengajak ketemuan. Bukankah di saat-saat seperti ini seharusnya kita tidak saling bertemu sampai kegegeran ini mereda? Ah, entahlah ... Aku sendiri bingung. Jujur, hatiku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi sisi lain, aku sungguh tak tega jika mas Ansel sampai kehilangan banyak fansnya Hanya karena aku. “Ver! Kamu denger aku, kan?” Mas Ansel menyadarkan aku dari lamunan panjang sebab ribuan pertimbangan atas pertanyaan sekaligus pernyataannya. Ya, bagiku ... Apapun yang Mas Ansel inginkan adalah sebuah keharusan. Dan aku ingin melakukannya sekarang, meski aku tahu resikonya akan seperti apa? Apa aku jahat? Apa aku egois? Aku juga tak tahu, aku justru akan merasa sangat egois, jika tidak menurutinya. Karena aku tahu, di saat seperti ini Mas Ansel sangat butuh aku seperti aku yang membutuhkannya. Dan bahkan mungkin, ada hal penting yang ingin Mas Ansel sampaikan sehingga dia mengajak ketemu. Aku akan menemui kamu, Mas. Kita hadapi resikonya sama-sama!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN