BAB 29

1793 Kata
~POV Naya~ Aku sudah bersiap-siap menemui Mas Ansel. Tak butuh waktu lama untukku bersiap-siap, karena memang sejak dulu aku tak pernah pandai berdandan dan tak pandai memoles aneka macam ritual di wajah, kecuali hanya bedak baby yang memang biasa ku dempul kan sembarang ke wajahku. Kuakui, sejak bertemu dan memiliki hubungan spesial yang disebut pacaran dengan Mas Ansel, aku mulai belajar berdandan. Tapi entah kenapa hari ini rasanya aku malas sekali untuk berdandan. Dan endingnya, aku pergi hanya dengan memakai kaos santai dan celana selutut ketat. Jangan tanya rambutku ditata seperti apa? Aku lupa menggerai rambutku yang aku sanggul sejak mandi tadi. Niat hati ingin bertemu Mas Ansel dan membicarakan semua masalah yang melibatkan aku di dalamnya. Tapi sesampainya di pintu taman, handphone-ku berdering. Kuangkat panggilan dari nomer asing untuk pertama kalinya. Ya, seumur hidupku, aku selalu mengabaikan nomer baru yang masuk kecuali ada teman sekolahku yang memang sudah aku tahu akan menghubungi ku dengan nomer baru. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya dalam hidup, siapa lagi yang membuat aku seperti ini selain Mas Ansel? Dia sungguh membawa dampak yang begitu besar dalam keseharian ku. Yang menjadi pertimbangan ku menerima panggilan itu adalah ... Mungkin saja yang menelepon adalah Mas Ansel. Dia tak ingin nomernya dilacak dan diketahui menghubungiku. Entah, karena ketakutan yang terlalu berlebihan atau apa aku berpikiran seperti itu? Tapi saat panggilan tersambung, ternyata suara yang kudengar bukanlah suara Mas Ansel. “Ini saya. Pamannya Ansel.” Oh, rupanya manager ade-lah yang secara pribadi menelponku. Jujur, aku sangat gemetaran walau hanya mendengar suaranya saja. Mengetahui bahwa dia-lah yang menelepon, membuat aku seketika gemetaran. Aku dibuat sport jantung di siang bolong begini hanya karena suara berat di sebelah. Walau galau tiba tiba datang, kujawab semua pertanyaannya dengan terus terang hingga sampai tempat aku sekarang pun dia mengetahuinya. Dan Oh God ... Manager Ade akan menemuiku detik ini juga. Kuiyakan saja daripada urusan menjadi runyam jika aku tidak menurutinya. Karena kutahu, manager Ade pasti menginginkan yang terbaik untuk ponakannya yang merupakan kekasihku. Dan lagi, Mas Ansel mendadak tidak bisa dihubungi. Entah apa yang terjadi dengan handphonenya. Tapi sejak manager Ade menelpon, mas Ansel menjadi susah dihubungi. Kuputuskan menunggu di taman dekat rumah seperti niatku sebelumnya. Hingga tak berapa lama, manager Ade datang mengajakku ngobrol banyak tentang Mas Ansel. Aku melihat raut terkejut di wajah manager Ade begitu melihat aku duduk di bangku taman. Entah apa yang membuat dia seperti itu? Aku tak perduli. Aku hanya ingin dengar apa yang menjadi alasannya datang menemuiku secara khusus seperti ini. “Ansel itu sudah memulai karir dari sejak SMA seperti kamu. Dia jatuh bangun untuk bisa sampai di titik ini.” Manager Ade memulai pembicaraan dengan menceritakan awal Mas Ansel meniti karirnya. Aku hanya diam menyimak sebab kurasa ini bukanlah waktunya bertanya tentang masa kecil Mas Ansel yang pasti sangat menggemaskan itu. Ada hal yang tak bisa aku lakukan setelah manager Ade bercerita, yakni ... Aku tidak bisa datang ke sisi mas Ansel menguatkannya ketika dengan sangat terpaksa dia harus keluar dari grub band yang dia rintis bersama teman-temannya dari nol. Sungguh, aku baru tahu kenapa Mas Ansel keluar dari the king lima tahun yang lalu. Rupanya, dia terkena laringitis yang menyebabkan dia harus beristirahat total dan menjaga suaranya sendiri. Itu adalah hal paling menyakitkan yang kutahu. Sebab apa? Manager Ade bilang, itu adalah mimpi besarnya yang tak bisa dia gapai. Dan karena itu pula, Mas Ansel dibenci dan dijauhi oleh teman-temannya. Bukankah itu hal yang sangat menyakitkan? Aku tak bisa membayangkan bagaimana kondisi mas Ansel ketika itu? Dia pasti sangat butuh dukungan tapi teman-temannya justru memusuhinya. Tapi karena hal itu, Mas Ansel jadi bertekad untuk sukses di bidang akting. Tapi lagi-lagi, masalah denganku yang tercium wartawan akan menjadi batu sandungan bagi karinya. Aku tak ingin itu terjadi untuk kedua kalinya dalam hidup Mas Ansel. Aku ingin dia bahagia. Tidak selalu kalah dalam ujian yang terbentang dalam pencapaian mimpi-nya. “Jadi aku mohon, kalau kamu benar-benar mencintainya, lepaskan dia. Ini demi kebaikan kalian, juga mimpinya yang belum tercapai.” Manager Ade menutup ceritanya dengan sebuah permintaan yang jujur sangat sulit untuk aku lakukan. Andai saja ada cara yang lain. Meski beresiko, selama itu tidak mengharuskan aku berpisah dengan Mas Ansel, aku akan melakukannya. Jujur, aku tak ingin mas Ansel gagal untuk yang kedua kalinya, terlebih jika itu karenaku. Tapi aku pun tak ingin jauh dan berpisah dengan Mas pangeranku. Tapi, meski keinginan itu begitu kuat di hati, aku sadar diri, aku tak bisa melakukan apapun lagi untuk menolong Mas Ansel selain menuruti apa yang Manager Ade katakan. Demi mimpi dan kebahagiaan Mas Ansel meraih masa depannya, aku rela. Kutekan nomer telpon yang masih aku simpan dengan nama Mas pangeran itu dengan yakin. “Ayo ketemu di taman,” ajakku tanpa basa basi. Semoga aku dan kamu bisa kuat dengan keputusan yang aku ambil ini! Teselip keraguan yang bercokol di hati. Tapi apapun itu, selama untuk kebaikan Mas Ansel, aku akan melakukannya. Terlebih aku membaca berita tentang update terbaru kasus mas Ansel. Banyak sekali orang yang menghujatnya. "Dasar pedofil." "Huh, tampang doang ganteng, otaknya busuk." dan masih banyak lagi hujatan netizen yang tertuju pada Mas Ansel. Sungguh, aku tak terima. Aku nggak ikhlas mas pangeranku di cap buruk. Hal itulah yang membuat aku semakin yakin meninggalkan Mas Ansel setelah ini. Cukup lama menunggu, karena gelisah aku sampai tak sadar bahwa sejak kepergian Manager Ade tadi, aku hanya mondar-mandir di depan bangku taman yang sempat aku duduki saat mengobrol dengan manager Ade. Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutku. Aku tahu pemilik dari tangan itu siapa? Dan dengan pose seperti ini, bisa dengan bebas mendengar detak jantungnya, dan tak hanya itu, telingaku seprti ditiup dengan sangat pelan karena hembusan nafasnya. Oh God ... Aku takut aku malah nggak jadi mutusin dia. Hatiku mendadak tak ingin lepas darinya. Tapi tidak! Aku tak bisa egois dengan hanya mementingkan diriku sendiri. Aku berusaha melepaskan tangannya. Mencoba membuka pegangan kedua tangannya yang saling mengunci satu sama lain di atas perutku. “Plis ... Biarkan aku kayak gini beberapa menit lagi,” pinta Mas Ansel. Dia berbicara dengan sangat pelan, nyaris seperti bisikan yang membuat aku turut diam dan menikmati pelukan eratnya. Jujur, aku sangat nyaman. Hatiku merasa sangat tenang dipeluk seperti ini oleh Mas Ansel. Aku merasa bahwa aku dan Mas Ansel jauh lebih romantis dari Romeo and Juliet juga lebih mengharukan dari kisah cinta pangeran dan Cinderella. Aku hampir terlarut, dan pertahanan yang kubuat hampir goyah dan roboh. Tapi itu hanya sesaat, karena setelah itu dengan cepat kesadaranku kembali. Aku tak bisa berlarut dalam situasi seperti ini. Bisa-bisa, aku gagal melepaskan Mas Ansel dan bisa-bisa aku tak ingin pergi dari hidup Mas Ansel. Kudiamkan beberapa saat dengan hatiku yang terus bicara mengucapkan kata-kata perpisahan. “Maafin aku, Mas. Aku samasekali nggak bermaksud ninggalin kamu di saat seperti ini. Aku hanya nggak mau kamu gagal untuk kedua kalinya. Cukup teman-teman kamu aja yang ninggalin kamu, Mas. Aku nggak! Aku nggak akan pergi jauh, hanya saja untuk sementara ini kita memang tidak bisa bersama. Aku tidak bisa terus di sisimu karena itu hanya akan membuat karir kamu hancur. Maafin aku, Mas. Aku sayang banget sama kamu. Aku ingin kamu bisa raih semua impian kamu lalu kita bisa bersama lagi.” Kupejamkan mata mengirim kekuatan pada hari agar tidak terlihat rapuh di depan Mas Ansel. Setelah cukup puas bicara dalam hati, kubuka paksa tangan Mas Ansel dengan sekuat tenaga. “Mas, lepasin!” Aku mencoba melepaskan kedua tangannya yang saling memeluk satu sama lain. Tapi Mas Ansel tak bergeming sedikitpun. Membuat aku turut semakin tak rela untuk melepasnya. “Lepasin!” Kupaksa tangannya terlepas dengan sekuat tenaga lalu kubuang ke sembarang arah yang terpenting tidak melingkar di perutku. Sungguh, ini sangat berat. Tapi aku harus kuat melakukannya agar semuanya bisa membaik. Baik untuk Mas Ansel, Baik juga untuk langkahku ke depan. Tanpa bisa kutahan, air mataku lolos jatuh menghujani pipi. Sungguh ini sangat menyakitkan tapi dengan segera kuseka agar tidak ketahuan sama Mas Ansel. “Aku nggak mau ketemu Mas Ansel lagi. Selama ini, kerjaan aku Cuma belajar dan belajar, tapi sejak kenal mas Ansel, aku malah jarang pegang buku. Dan parahnya, aku kena imbas karena dekat sama artis yang terkenal. Aku mutusin kalo mulai sekarang, aku udah gak mau ketemu dan ada hubungan sama Mas Ansel.” Aku berbicara dengan suara yang sedikit bergetar karena menahan tangis yang nyaris meledak. Aku menunggu jawaban dari sosok di belakangku. Tapi tak ada sahutan apapun hingga aku melanjutkan kalimatku dengan sisa tenaga ku. “Selama ini, aku Cuma pura-pura cinta sama kamu, Mas. Karena aku pikir, aku jelek karena aku menjadi satu-satunya siswi yang tidak punya pacar.” Aku bahkan berbicara sesuatu yang tidak aku ketahui kemana arah dan tujuannya. Tidak! Aku bohong, Mas. Aku cinta sama kamu, sangat cinta! Mulut dan hatiku seolah saling bicara. Dan ini membuat aku semakin sesak. Duar ... Langit seakan murka. Guntur menyambar dan halilintar terus menjilati bumi yang berduka karena cinta pertamaku yang kandas sebab mulutku sendiri. Aku tak bisa terus di sini. Tanpa menoleh padanya, aku melangkah pergi. Bukan tak peduli, tapi aku sungguh takut tidak bisa menahan diriku dan berbalik lalu memeluknya. Aku harus kuat dan tegar. Ini untuk kebaikan kita berdua, Mas. Aku berlari menembus hujan. Tidak benar-benar pergi, hanya sebatas menjauh dari Mas Ansel agar aku bisa bebas menumpahkan tangis ku. Bersembunyi di balik pohon dan memandang sosok di sana yang bergetar punggung dan tubuhnya. Aku tahu dia sama sepertiku. Bersembunyi di bawah hujan dengan bebas menumpahkan luka lewat air mata. Maafin aku, Mas. “Aaakkhhh ....” Aku melihat Mas Ansel beteriak dengan suaranya yang sangat menyakitkan bagi siapapun yang mendengarnya. Aku ikut hancur. Tidak! Memang aku yang hancur lebih dulu, sebab akulah yang membuat seperti ini. “Maafin aku, Mas. Aku ga bermaksud sama sekali buat nyakitin kamu.” Aku hanya bisa berbicara pada guyuran hujan yang semakin deras. “Aku harus lakuin ini biar karir kamu selamat dan kamu bisa sukses seperti yang udah kamu impikan, Mas.” Aku merasa sudah tak sanggup menopang tubuhku sendiri, hingga pada akhirnya, aku memilih berbalik badan dan menyandar pada batang pohon. Kenapa sesak ini ga ilang-ilang, sih? Aku menepuk-nepuk dadaku, berharap sesak di dalamnya bisa hilang. Tangisku tak tertahan dengan Isak yang samar di bawah hujan. Sekali lagi kulihat ke tempat Mas Ansel, rupanya di sana pamannya sudah datang dan membawakan payung untuknya. Aku melihat pamannya berbicara tapi tidak ditanggapi oleh Mas Ansel. Meski begitu, Mas Ansel kemudian bangkit dan meninggalkan taman ini dengan langkah lunglai. Aku memandangi tubuh dan wajah itu dari jauh. Hujan mulai reda seolah mendukung penglihatanku agar tidak memudar. Kupandangi dengan sangat lama wajah itu hingga kemudian hilang di pintu taman. Aku harus memuaskan mata dan hatiku memandangnya, sebab setelah ini aku tak kan pernah bisa lagi memandangnya apalagi mendekatinya. Aku sangat menyayangimu, Mas. Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaanmu begitupun aku, bisa menemukan kebahagiaanku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN