BAB 20

2187 Kata
“Aku sudah sangat lama merindukan kamu.” Kalimat yang sama diulang manager Ade yang sudah lebih dulu dikuasai nafsu. Manager Ade butuh sesuatu yang bisa menumpahkan rindunya. Dia butuh penyatuan yang sudah lama sekali tidak dia lakukan dengan wanita manapun. Dia hanya ingin Rukmi, tak pernah ingin yang lain. Lalu sekarang, saat Rukmi sudah ada di sisinya, apalagi yang akan dilakukannya? Rasanya semua perasaan rindu dan cinta yang menyatu di benaknya menginginkan sesuatu yang nikmat dan memuaskan. Manager Ade mendekatkan wajahnya, memiringkan kepalanya untuk bisa mencapai bibir ranum tanpa polesan lipstik milik wanita di depannya. Rukmi, sosok yang selama ini tak pernah hilang dari hati manager Ade itu hampir terlena, beruntung dia pernah belajar agama dulu saat masih sekolah menengah pertama. Bekal ilmu walau sedikit itu membuat Rukmi bisa mengontrol dirinya sendiri. Ditahannya bibir manager Ade yang sudah sedikit lagi menyentuh bibir ranum miliknya dengan telunjuknya. “Maaf, Mas. Tapi status kita sekarang sudah tidak menghalalkan kita melakukannya.” Rukmi berkata dengan suara serak sebab habis menangis. “Aku gak bisa,” ucapnya memalingkan wajahnya. Membuang pandangannya ke lantai, ke manapun yang penting tidak memandang wajah manager Ade. Jika sampai sekali lagi dia memandang wajah mantan suaminya itu, dia takut dia sendiri terikut tidak mampu menahan diri. Manager Ade menarik nafas panjang, lalu perlahan dia melepaskan pelukannya. Dia mencoba mengontrol semua rasa yang berkecamuk di dadanya. Oke! Dia butuh sesuatu yang menyegarkan. Sesuatu yang bisa membuat senjata Kramatnya sedikit takluk dan jinak. Dan manager Ade berpikir, bahwa apa yang ada di otaknya sekarang penawarnya ada di dalam kamar mandi. Dengan buru-buru dia melangkahkan kakinya ke kamar mandi kontrakannya. Meski terbilang kecil tapi fasilitas di dalamnya sangat lengkap. Tentu saja itu adalah hasil kerja Ansel di belakang layar yang meminta pemilik kontrakan untuk merenovasi dan memberikan fasilitas lengkap di sana. Tentunya semua biaya ditanggung penuh oleh aktor terkenal itu. Dengan kerjasama yang baik antara Ansel dan si pemilik kontrakan, semuanya bisa berjalan lancar tanpa diketahui manager Ade. Beruntung rumah Kontrakan yang ditempati manager Ade tidak berjejer banyak pintu, sehingga hal itu tidak menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan di benak si manager. Byur ... Satu Gayungan air membasahi tubuh manager Ade yang sudah tanpa busana. Tapi sama sekali tidak berpengaruh apa-apa. Senjata pamungkas di bawah sana masih berdiri seolah siap terjun ke medan pertempuran. Di gayungnya lagi air dengan memejamkan mata menikmati setiap sentuhan air yang mengenai kulitnya. Byur ... Sejuk mulai terasa, tapi gelora itu belum juga sirna. Dia masih enggan enyah meski sudah dua kali Gayungan. Senjata itu hanya tunduk sedikit tapi masih siap sedia dengan kuda-kudanya. Medan pertempuran itu sudah terlanjur menari-nari di otak sang pemilik senjata. Tok-tok-tok ... Pintu kamar mandinya diketuk seseorang yang dia yakini adalah Rukmi. Ya, siapa lagi yang mengetuk pintu kamar mandinya kalau bukan perempuan yang tadi bersamanya. “Sebentar. Aku masih belum selesai.” Manager Ade berteriak sebab suara air kran seperti menenggelamkan suaranya. Manager Ade perlu menyalakan kran itu agar bak kamar mandinya penuh. Memang rumah kontrakannya sudah difasilitasi dengan lengkap. Tapi tetap, Ansel membuat seolah itu benar-benar dari pemilik kontrakan. Kamar mandi dibuat di dalam dengan perlengkapan yang biasa ada di kontrakan. Hanya bak penampungan air kecil dengan satu rak sabun dan sikat gigi yang menggantung di dindingnya. Tidak mewah tapi sudah sangat lengkap dibandingkan dengan fasilitas sebelumnya yang kamar mandinya terletak diluar dan tak ada tempat parkir di halaman rumahnya. Sekarang, semuanya sudah lengkap dengan kesan sederhana ala kontrakan biasanya. Manager Ade cukup senang dengan apa yang sudah dimilikinya. Dia tak ingin yang lain selain kesuksesan Ansel dalam karirnya. Seperti janjinya pada mendiang papa dan mama Ansel. Kembali pada senjata manager Ade yang masih memperlihatkan kesiapan tempur di bawah sana, tidak ada pilihan lain sekarang. Manager Ade mengelus-elus senjata miliknya yang tak mau kembali tunduk seperti sedia kala. Diusapnya dengan lembut senjata itu dengan dicampuri busa sabun di tangan pemiliknya. Jangan nakal bisa, kan? nanti kalo udah waktunya ane bangunin lu. Oh, rupanya senjata manager Ade harus disikapi dengan lembut agar mau nurut. terbukti dia sudah tidak berdiri dan mau menunduk patuh sekarang. Klik ... Manager Ade telah selesai dengan mandinya dan penjinakan alat tempurnya. Dia mendapati Rukmi memandangi figura yang terletak rapi di atas meja. Di sana, di dalam figura itu, terdapat foto manager Ade saat masih muda dengan Rukmi yang baru melahirkan. Di samping Rukmi yang tengah memakai baju pasien itu terdapat putri kecil mereka yang terlihat menggemaskan. Manager Ade tersenyum. “Itu ... Hanya itu yang aku punya dengan kalian.” Suaranya mengagetkan Rukmi. Perempuan itu buru-buru bangkit dan menoleh pada manager Ade yang sekarang memakai handuk setengah badannya. “Astaghfirullah ...” Rukmi menutup matanya begitu melihat lelaki di depannya belum memakai pakaiannya. Ya jelaslah, Rukmi menutup mata. Dia takut kali ini justru dia yang terpancing karena perut manager Ade yang menyerupai roti sobek itu membuat dia berkeinginan mencicipinya. Jangan tanya, kenapa manager Ade memiliki perut seperti itu? Semenjak ditinggal oleh Rukmi karena kesalahpahaman itu, dan sejak manager Ade merasa putus asa mencari Rukmi tapi tak kunjung bertemu, maka semenjak itu pula, dia banyak menghabiskan waktunya di gym setiap selesai urusannya dengan Ansel. Ya, ada Dua kesibukan yang konsisten dilakukan manager Ade selama ditinggal pergi Rukmi, seolah semua itu terjadwal dalam otaknya yaitu mengurus karir Ansel dan pergi ke tempat gym untuk menghabiskan seluruh sisa tenaganya agar saat pulang ke rumahnya dia bisa langsung terlelap. Karena hal itulah, saat ini manager Ade memiliki postur tubuh tegap dan d**a bidang dengan model perut yang hampir sama dengan petinju luar negeri. Heuh ... Roti sobeknya bikin Rukmi ngiler diam-diam. Karena macet yang membawa untung dan petaka itu. Keduanya gagal dengan misi mencari putri mereka yang hilang. Tapi untungnya, karena macet yang tadi, manager Ade jadi bisa merasakan kembali sesuatu yang sudah lama mati dalam dirinya. Lalu petaka, karena ketika senjata Kramatnya mulai hidup kembali, justru harus merasakan penolakan yang sungguh amat menyakitkan. Seperti dirinya berada di Padang gersang dengan dahaga yang teramat. Lalu dia melihat sebuah telaga penuh air yang teramat jernih. Oh ... Sungguh hal yang sangat membahagiakan. Tapi justru ketika dia mendekat, telaga itu tak ubahnya fatamorgana yang hanya membuat air liurnya menetes deras. “Cepat kenakan pakaianmu, Mas.” Rukmi masih menutupi wajahnya. Manager Ade terkekeh sembari menggelengkan kepalanya menuju lemari di sudut ruangan. Dia mengenakannya sembarang. Sebab rasanya tak sabar untuk mengobrol dengan Rukmi. Banyak hal yang ingin dia tanyakan tentang perempuan itu selama mereka tidak bersama belasan tahun Belakangan ini. “Aku sudah selesai.” Manager Ade membalikkan tubuhnya dengan senyum karena dia melihat Rukmi masih saja menutup matanya. “Kalau masih mau main petak umpet. Di luar aja, kalo di dalem bisa timbul fitnah,” ucap manager Ade terkekeh menggoda Rukmi. Dia telah siap membuka pintu dan hendak keluar dari kamar. Sementara Rukmi yang melihat itu hanya tersipu menahan malu. Manager Ade mengambil tempat di kursi yang terbuat dari bambu di teras rumah kontrakannya. Dia memandang ke arah pintu yang di sana sosok Rukmi keluar dengan wajah merah menahan malu. Ya iyalah dia malu, tadi kan dia sempat berpikiran bebas ke ruang angkasa, wkwk. Entah apa yang dia pikirkan sampai ke luar angkasa, apa ada gugusan bintang yang membuat dia jatuh hati dan ingin memetik salah satunya. Atau justru dia berpikir untuk memadu kasih dengan rembulan diantara bintang-bintang itu. Ah ... Hanya Rukmi yang tahu. “Mnenurutmu bagaimana keadaan anak kita?” Manager Ade memulai Pembicaraan. Sengaja dia membuka topik soal anaknya untuk mengalihkan perhatian Rukmi yang masih terlihat memerah. Bisa terpancing lagi dinosaurus di balik celananya kalau Rukmi terus seperti itu. “Eng ... Aku gak bisa menjawab apa-apa, karena aku sendiri takut kehidupannya buruk setelah aku membuangnya.” Rukmi berkaca-kaca saat mengucapkan kata membuang. Penyesalan itu terlihat jelas di matanya. “Jangan katakan kau membuangnya. Karena kamu tidak akan pernah melakukannya kecuali ingin yang terbaik untuknya.” Manager Ade berusah menguatkan Rukmi. Lagi, dia sendiri turut merasa bersalah. Karena walau bagaimanapun, apa yang dilakukan Rukmi adalah akibat dari ketidak terbukanya dia pada istrinya dulu. Ya, sekalipun itu menyangkut saudara, seharusnya manager Ade mengatakan terus terang agar tidak terjadi kesalah pahaman yang berakibat fatal itu. Ya, apa yang dikatakan manager Ade benar, Rukmi sempat berniat membunuh putrinya karena depresi. Terlebih, wajah mungil bayi itu mirip sekali dengan manager Ade. Laki-laki yang dianggapnya sebagai penghianat dan pembuat luka dalam hatinya. Laki-laki yang dengan sangat pintar, mengobrak-abrik hati dan hidupnya. Saat Rukmi melihat manager Ade mengancingkan baju Bu Tika, saat itu pula hatinya terasa hancur tak berbekas. Hanya dendam yang menggerogoti hatinya. Bahkan karena melihat wajah bayinya, Rukmi menjadi merasa bahwa hidupnya selalu sial dan tak pernah bahagia. Nyaris saja dulu Rukmi melenyapkan nyawa bayinya, tapi beruntung ketukan pintu membuat dia sadar pada apa yang hampir membuat dia menyesali perbuatannya seumur hidup. Ya, dulu ... Saat Rukmi akan menenggelamkan bayinya ke bak mandi di rumahnya, ada seorang lelaki yang datang bertamu dan mengetuk pintu. Lelaki yang tak lain adalah pacar bayaran yang dia sewa untuk membuat Manager Ade cemburu. Lelaki itu datang hendak meminta sisa bayarannya yang belum lunas. Ada satu hal yang sekarang dia syukuri karena telah membuang putrinya ke panti. Sebab bisa jadi, dia sendiri yang menjadi pembunuh bayinya jika dia terus mempertahankan bayi mungil itu bersamanya. Rukmi kembali terisak. Ada sesal tapi juga rasa syukur yang tidak terhingga, karena dirinya selamat dari dosa besar yang akan disesali olehnya seumur hidup. “Kamu benar, Mas. Sekarang, kita hanya perlu mencarinya lalu mengganti semua waktu kita selama tidak dengannya.” Rukmi berucap dengan menghapus sisa air mata di pipinya. Hatinya sudah lebih kuat sekarang. Setidaknya, sekarang dia masih bisa bertemu jika terus menerus mencarinya. Sedangkan jika hal bodoh itu dilakukannya, maka seumur hidup, dia hanya bisa menangis di atas nisan yang tak berdosa itu. Syukur beribu syukur. Rukmi sangat bersyukur atas tindakan bodohnya. Baru kali ini dia mensyukuri sesuatu yang kejam menurutnya dan hal itu sudah dia lakukan. “Lalu ... Kalau putri kita sudah ketemu, maukah kamu kembali?” kali ini manager Ade membahas sesuatu yang lebih mengecil. Ya, hanya sebatas tentang mereka berdua. Hanya manager Ade dan Rukmi. Rukmi menatap lekat maniak gelap milik manager Ade yang juga sedang memandangnya. “Aku ... semenjak kejadian itu, hilang rasa percaya diriku pada laki-laki. Hilang juga kepercayaanku pada mereka. Saat ini, aku hanya ingin anak kita.” Jawaban Rukmi terdengar ambigu. Tidak menolak, tapi juga tidak menerima. Hanya bertemu putrinya yang menjadi keinginannya saat ini. Sejenak, mereka sama-sama diam, hanya deru kendaraan yang melintas di gangan itu yang memecah bisu diantara keduanya. Bahkan sesekali ada pengemudi motor yang menyapa Manager Ade dengan membunyikan klakson motornya. Dan hal itu ditanggapi dengan anggukan disertai senyuman oleh si manager itu. Manager Ade menoleh pada Rukmi, mencoba memahami maksud ucapan perempuan di sampingnya itu. “Iya aku paham. Aku tidak akan memaksa tapi ....” Manager Ade memberi jeda dalam kalimatnya. Dia mengatur nafasnya dengan mengambil kesempatan memilih kata yang pas untuk menyambung kalimat yang ingin dia ucapkan. “Tapi apa, Mas?” Rukmi memburu. Rasa kepo yang sudah menjalar sejak dulu belum hilang sama sekali. Dia teramat penasaran dengan kelanjutan kalimat mantan suaminya itu. “Tapi jika nanti aku sudah menemukan putri kita. Maukah kamu memikirkan apa yang aku ucapkan tadi?” Byar ... Kalimat itu lolos membuat debaran jantung diantara keduanya saling berpacu dan kejar-kejaran. Hanya diri mereka sendiri yang tahu, tidak pada yang lainnya. “Pasti, asal ingatkan saja aku jika aku lupa atau mungkin aku terlalu senang bertemu anak kita sampai lupa pada semua yang pernah kamu ucapkan.” Segaris senyum terlukis di bibir Rukmi. Manager Ade mengangguk. Ada sedikit harapan terlihat di wajah mantan istrinya. Ya seenggaknya masih ada walau sedikit, dari pada tidak ada sama sekali. Kembali keduanya diam. Rasa canggung tiba-tiba menyusup menengahi dua insan yang sebenarnya saling merindukan itu. Berhadap-hadapan dengan saling memendam rindu. Tapi entah kenapa mereka merasa ada pembatas yang membuat mereka berjarak dan tak bisa saling menumpahkan rindu keduanya. Tidak hanya manager Ade, Rukmi pun merasakan hal yang sama. Sekat pembatas itu sangat jelas terasa. Canggung yang menguasai membuat keduanya saling terdiam hingga kemudian, dering telepon mengagetkan manager Ade. Ya, suara ringtone lucu terdengar dari saku celananya. “Oey ... paman! Angkat telepon ponakanmu yang ganteng ini! Cepat! Duh ... Lama banget sih, cepetan angkat!” Suara Ansel yang diubah menjadi suara anak kecil menggemaskan. Manager Ade buru-buru menggeser ikon hijau di layar handphonenya sebelum suara memalukan itu berulang lagi. “Halo, Dik.” “Halo, Paman. Hari ini aku sudah di lokasi syuting. Aku datang tepat waktu sesuai janjiku sama paman. Bagaimana? Paman senang?” suara Ansel terdengar bersemangat. Tak memberi kesempatan bagi pamannya untuk bicara saking bersemangatnya. “Tentu. Paman sangat senang. Nanti paman hubungi lagi, dan kalau perlu paman akan jemput kamu ke sana,” jawab manager Ade dengan tersenyum. Ada rasa bahagia karena ternyata setelah dia memperbolehkan Ansel pacaran dengan gadis SMA itu, dia jadi kembali bersemangat. Setelah selesai, panggilan berakhir. Tak lupa manager Ade menyuruh Ansel untuk konsentrasi dan hanya fokus pada naskah skenario yang dia pegang. Jangan mikirin bocah ABG itu! Begitu petuah terakhir yang sebenarnya tidak Ansel dengarkan sebelum manager Ade menutup teleponnya. Sedangkan saat sambungan terputus, Rukmi memandang si manager Ade dengan penuh tanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN