BAB 19

2106 Kata
Pagi itu ketika matahari sedang sangat cerah, manager Ade dengan senyum semangat menghabiskan dua potong roti yang sudah dia beli semalam, ketika dirinya dalam perjalanan pulang dari apartemen Ansel. Semalam pula, manager Ade memikirkan semuanya, dan menghabiskan waktunya untuk mengambil keputusan ini. Keputusan yang sebetulnya bisa saja dia lakukan tanpa perlu mengutamakan Ansel terlebih dahulu.. Ah, tapi kan tahu sendiri manager Ade seperti apa? Dia pasti mengutamakan Ansel di atas segala kepentingan dirinya sendiri. Tapi sekarang, dia sudah ambil keputusan untuk mencari anaknya. Bagaimanapun caranya, dia harus ketemu anaknya. Tak peduli sesulit dan sebesar apa rintangannya, manager Ade sudah membulatkan tekadnya mencari putri yang teramat dirindukannya selama belasan tahun ini. Terlebih, melihat benang cinta yang dirajut ponakannya, ingin rasanya Manager Ade menjodohkan Ansel saat itu juga dengan putrinya agar Ansel tidak lagi bisa memiliki hubungan dengan gadis yang masih ingusan itu. Ah, kenapa pagi-pagi yang penuh semangat ini malah dibuat kacau karena hubungan percintaan Ansel. Nanti juga kalau perempuan yang Ansel suka itu ketemu pria yang lebih muda dan lebih ganteng dari ansel pasti akan meninggalkan Ansel. Bukan bermaksud jahat, hanya saja manager Ade memikirkan kebaikan karir ponakannya, Ansel. Dia berpikir bahwa Naya bukan orang yang tepat untuk Ansel. Dia sama sekali tidak menyetujui hubungan percintaan antara Ansel dan Naya. Lalu kencan kemarin? Perlu diketahui! Manager Ade terpaksa melakukannya seolah dia menyetujui hal itu, karena jika dipikir-pikir, Ansel terlihat bersemangat ketika habis bertemu dengan gadis itu. Semuanya untuk kebaikan Ansel dan juga karirnya. Ya, kemarin ... Saat Naya salah paham dengan sesuatu yang dia lihat saat Lisa mencium Ansel, manager Ade melihat Ansel, ponakannya uring-uringan. Jangankan syuting, makan dan mandi pun perlu dia suruh untuk Ansel bergerak bangkit dari kasur empuknya. Heuh ... Dasar anak muda jaman now! Mereka belum tahu seperti apa kegalauan yang dialami manager Ade. Begitu dia berpikiran saat melihat ponakannya seperti kehilangan semangat hidup. Tapi kali ini, dia sudah tidak perlu memikirkan Ansel, dia hanya perlu fokus mencari keberadaan putrinya. Ya, Ansel sudah mendapatkan kembali semangatnya karena kencan kemarin. Hubungan dia dengan Naya, si gadis SMA itu sudah berada di tingkat kejayaan jika diibaratkan sebuah kerajaan. Manager Ade melajukan mobilnya dengan segurat senyum di wajahnya. Dia habis membaca pesan balasan Ansel saat tadi dia mengirimi lelaki itu pesan singkat yang menyuruh laki-laki itu agar dia tidak telat datang ke lokasi syuting. “Tentu, Paman. Aku sudah bisa bernafas lega sekarang. Aku sudah tidak sesak napas lagi.” Pesan balasan Ansel yang diikuti dengan emoticon tertawa di belakangnya. Manager Ade turut lega. Tak lagi ada hal yang perlu dia khawatirkan untuk kasus ponakannya. Selama publik tidak mengetahui hubungan antara mereka, maka semuanya akan baik-baik saja. Mobil melaju menuju sebuah mall yang kemaren menjadi tempat dia bertemu dengan mantan istrinya. Manager Ade turun dengan badan tegapnya. Melangkah pasti memasuki pintu mall yang tampak lebih padat dari kemarin dilihat dari luar. Manager Ade sudah membuat janji untuk bertemu di tempat kemaren dengan Rukmi, mantan istrinya. Mereka akan mencari anak perempuan mereka bersama-sama. Walau bagaimanapun, apa yang terjadi belasan tahun lalu yang menyebabkan mereka kehilangan putri mereka adalah kesalahan mereka sendiri. Tidak Rukmi, tidak juga Manager Ade, keduanya tidak lagi saling menyalahkan. Bahkan mereka sekarang tampak lebih kompak dan bahkan terlihat saling merindukan. Heuh ... Rukmi sendiri bahkan sampai repot-repot berdandan karena akan bertemu Ade. Manager artis papan atas yang sudah punya nama di kalangan entertainment. Rukmi merasa ada sesal yang selalu menyusup setiap kali dia menyentuh surat dari sahabatnya. Andai saja dulu dia mau mendengarkan penjelasan manager Ade. Atau setidaknya, dia tidak langsung pergi saat melihat Manager Ade memakaikan kancing kemeja Bu Tika, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi. Ah, tapi bukankah perjalanan takdir manusia sudah tertulis di lauhul Mahfudz? Bukan hanya Rukmi, manager Ade pun sebenarnya menyimpan sesal di kedalaman hatinya. Dia menyesal karena terlambat mengejar Rukmi dan memberikan penjelasan atas kesalah pahaman yang dilihatnya. Keduanya sama-sama diam bahkan saat mereka terjebak macet di jalanan Jakarta yang memang penuh sesak itu. Kening Rukmi berkeringat. AC mobil Ade yang mendadak bermasalah itu membuat kondisi mobil menjadi panas dan berkeringat. Manager Ade membuka semua kaca jendela agar angin bisa leluasa masuk ke dalam. Tapi bukan Jakarta namanya jika angin yang berhembus membawa sejuk, angin yang masuk justru membawa hawa panas yang membuat wajah Rukmi menjadi merah kepanasan. Ah, wanita ini masih sama seperti dulu. Sensitif dengan panas dan cahaya matahari. Manager Ade menutup semua kaca jendela mobilnya. Ditatapnya mantan istrinya yang tampak penuh dengan bulir keringat. Bedak yang sudah ditempelkan di wajahnya mulai berantakan membuat wajah Rukmi hampir sama dengan wajah bencong di pinggir jalan. Manager Ade mengambil tisu yang tersimpan di dashboard mobilnya. Memberikannya pada mantan istrinya yang terlihat merah menahan malu melihat pantulan durinya dirinya di cermin yang selalu dia bawa kemana-mana. “Oh, God! Malunya aku ... Niat hati biar keliatan cantik, duh ... Malah ancur begini. Lagian manager artis tapi kok AC mobilnya bisa macet begini sih?” Geurutu Rukmi dalam hatinya saat melihat pantulan wajahnya di cermin rias kecilnya. Tanpa sadar, dia menggigit sudut bibirnya menahan malu. Memang benar, Ade Mahendra adalah seorang manager artis ternama. Tapi jangan lupakan kehidupan sederhana yang selalu melekat dalam dirinya. Sudah berkali-kali Ansel menyuruh pamannya itu untuk berganti mobil. Setidaknya, jika memang sang paman Sangat menyukai mobil miliknya itu, maka simpan saja tidak perlu dipakai. Tapi manager Ade berkali-kali pula menolaknya. Bahkan gajinya sudah belasan tahun juga tidak diambilnya. Ketika Ansel memaksa untuk sang paman mengambil bagiannya, manager Ade selalu menjawab bahwa gajinya ingin dia simpan untuk sesuatu yang lebih mendesak. Entah apa yang dipikirkan pamannya, tapi Ansel mengikutinya. Dia hanya bisa mencatat nominal uang yang menjadi hak pamannya. Apapun hal mendesak yang dimaksud pamannya, Ansel akan memberikannya nanti ketika sang paman memintanya. Baiklah! Kembali pada dua pasangan yang sekarang sudah tidak memiliki kejelasan itu, manager Ade dan Rukmi. Keduanya masih terjebak macet dan mobil mereka hanya bergerak sedikit demi sedikit. Kecelakaan di tikungan depan membuat mereka kesulitan mengambil rute yang lain. Dan beginilah yang terjadi sekarang. Rukmi yang menahan malu karena make up wajahnya berantakan. Sedangkan manager Ade tak henti memandangi mantan istrinya yang tampak menggoda dengan tampang malu seperti itu. Dan oh ... Rukmi menggigit bibirnya membuat pikiran manager Ade berkelana bebas mengarungi liarnya imajinasi terindahnya. Hal yang sudah sangat lama tidak dia lakukan. Bahkan dengan perempuan manapun, berciuman. Manager Ade teringat bagaimana malam pertama mereka yang diawali dengan ciuman lembut lalu beralih pada ciuman panas. Ah, rasanya manager Ade rindu dengan pagutan ranum itu. Tanpa sadar, wajahnya menghadap ke samping. Dengan tangan menopang pipi kanannya memandangi wajah Rukmi yang sekarang sudah tanpa riasan. Ya, Rukmi tak memerhatikan Manager Ade karena terlalu fokus pada wajahnya sendiri. Dia menghapus semua riasan make up di wajahnya. Bahkan Rukmi juga membuka kancing atas kemejanya dengan sesekali mengipasi bagian d**a dan lehernya dengan tangannya. Manager Ade melotot sempurna melihat pemandangan seindah itu di tengah kemacetan. Sudah lama sekali dia tidak terpikir untuk melihat apalagi menyentuh pemandangan indah itu. Manager Ade menelan ludahnya dengan sedikit demi sedikit kepalanya terangkat dan bergerak ke samping. Ah ... Rupanya setan yang menguasai nafsu manager Ade terlepas dari dirinya. Dia mendekati wajah wanita di samping kemudinya dengan tatapan penuh kerinduan. Ya, rindu mendapat pagutan dari bibir ranum itu. Rindu menikmati daging kenyal di balik kemeja itu. Dan rindu mendengarkan lenguhan nikmat dari mulut perempuan itu. Tangan manager Ade sudah melintang di depan tubuh Rukmi. Wajahnya juga sudah berada tepat dei dekat pipinya yang merona. “Aku kangen.” Bisikan yang terdengar seperti desahan itu membuat Rukmi turut merasakan gelenyer aneh dalam dirinya. Otot perutnya mengencang seolah butuh senjata pamungkas yang sudah lama di pegang oleh pemiliknya. Manager Ade mengusap pipi Rukmi dengan tatapan yang tidak beralih dari wajah itu. Tiiit tiit tiiit ... Klakson mobil terdengar menggema dan menggangu. Ah, s**t ... Rupanya kendaraan di depannya mulai bergerak meski sedikit. Pengemudi di belakang mobil manager Ade seolah tak terima dan membunyikan klakson berkali-kali. Dasar manusia tidak sabaran! Eh, tidak sabaran? Siapa sebenarnya yang tidak sabaran di sini? Bukankah manager Ade jauh lebih tidak sabaran sekarang? Status mereka sudah bukan suami istri, tapi manager Ade hampir saja menyentuh dan menikmati bibir Rukmi jika saja pengemudi di belakangnya tidak membunyikan klakson. Syukurlah! Manager Ade jadi gagal melakukan zina bibir. Ya, meskipun sejatinya dia sudah melakukan zina mata karena sempat menikmati belahan d**a Rukmi yang terlihat di balik kemejanya. Untung ... Untung! Kalau sampai kejadian, authornya juga ikutan kena dosa, hahah. Perlahan mobil di depan mereka mulai bergerak. Kecelakaan yang membuat kemacetan itu sudah selesai diatasi. Bahkan AC mobil manager Ade juga sudah bekerja normal kembali. Rasa sejuk seketika menyeruak begitu mobil mulai melaju kembali. Gairah dalam diri si manager masih menggelora. Ah, sial! Macet dan AC ini sepertinya sengaja mengerjainya. Sekarang, si manager itu tersiksa seorang diri. Bukan hanya si manager, Rukmi pun merasakan hal yang sama. Hanya saja dia terlihat lebih santai ketimbang manager Ade. “K-kita ke kontrakan aku dulu, ya.” Manager Ade melihat gang kecil yang menuju ke kontrakannya. Ya, setidaknya jika dia mandi mungkin akan terasa lebih segar. Mobil mulai melaju memasuki rumah kontrakan Yang sejak dulu tidak pernah berubah itu. Hanya saja kondisi kontrakan itu jauh lebih bersih dan fasilitasnya juga lebih lengkap. Ya, siapa lagi yang melakukannya jika bukan Ansel. Manager Ade tidak pernah mempermasalahkan kondisi kontrakannya, sebab memang waktunya lebih banyak bersama Ansel dan tidur pun keseringan di apartemen Ansel. “Kontrakan kamu udah jauh lebih oke.” Rukmi memberi komentar begitu turun dari mobil dan memerhatikan keadaan kontrakan mantan suaminya. Ya, kontrakan itu adalah satu-satunya kenangan yang dimiliki manager Ade dengan putrinya. Sebab itulah, dia tidak pernah mau ketika Ansel mengajaknya tinggal bersamanya. Rukmi menitikkan air mata karena melihat keranjang bayi yang tidak berpindah dari tempatnya dulu. Ya, itu adalah keranjang bayi mereka dulu. Manager Ade merawatnya dengan sepenuh hati seolah benda mati itu adalah wujud putrinya yang tidak diketahui keberadaannya. “Kamu kenapa?” manager Ade mendekati Rukmi karena melihat genangan penuh di telaga beningnya. Dengan cepat, Rukmi menyeka air mata yang hampir jatuh dati matanya. “Ah, nggak. I-ini keranjang bayi kita.” Rukmi terbata. Kali ini bulir bening itu lolos dari sana. Hati Rukmi sakit. Seperti diiris oleh belati tajam berkali-kali. Dia yang membuang putrinya ke panti. Coba saja dia merawat sendiri putrinya itu. Pasti dia tidak kehilangan putrinya sekarang. Rukmi tak bisa menahan tangisnya. Badannya bergetar bersamaan dengan air mata yang luruh dari kedua sudut matanya. Manager Ade yang melihat itu, mendekati Rukmi. Diusapnya tubuh yang sedang kalut itu dengan lembut. Sementara Rukmi menyandarkan kepalanya mencari ketenangan di balik d**a bidang Ade yang saat ini sedang berdiri di sampingnya. “Maafkan aku, Mas.” Kalimat itu lolos terucap setelah cukup lama dia memendam ego di hatinya. Pantang baginya mengucap kata maaf karena keegoisan yang lebih mendominasi. Tapi sekarang, hanya penyesalan yang menyelubungi hatinya hingga kata maaf itu terucap disertai isakan sesal yang sebenarnya sudah tidak ada gunanya. Memang begitu hidup, kan? Penyesalan selalu datang di akhir. Begitulah yang dialami dua manusia yang sedang saling menguatkan itu. Satu tampak rapuh dengan sesalnya. Satunya lagi berusaha kuat demi wanita yang sebenarnya sampai detik ini masih dicintainya. Gairah itu kembali datang. Menyusup menelusuri d**a bidang Ade yang di sana terdapat kepala si penabur benih rindu yang kian memuncak. Hal itu terlihat dari piaraan Ade di balik celananya yang menyembul ingin keluar. Mungkin jika benda pusaka itu bisa bicara dia akan berteriak sekarang, “Bebaskan aku! Di sini pengap.” Ya, celana dalam Ade yang berukuran pas dengan pinggulnya membuat sesak ketika pusaka di depan menegang. Tapi tak ada yang bisa dilakukan Ade sekarang, selain hanya terus menenangkan wanitanya. Dia tak boleh seperti saat tadi di mobil. Memalukan! Berbalik dari Ade, penyesalan yang terlalu besar merasuki pikirannya. Rukmi butuh sesuatu untuk dilakukan sekarang agar pikirannya terlupa pada lukanya. Satu-satunya yang membuat dia sejenak terlupa pada sakitnya adalah ketika dia menikmati rindu yang menggelora di dadanya. Dan penabur rindu itu sedang di sampingnya sekarang. Apalagi yang akan dilakukan Rukmi? Rindu yang dipendamnya kini bertemu dengan pemiliknya. Tak ada alasan untuk dia masih mememndam rindunya. Dia akan memuaskan hatinya setidaknya sejenak di pangkuan Ade. Rukmi melingkarkan tangannya di pinggang Ade. Menumpahkan segala rindu agar sesak di dadanya sedikit berkurang. Tapi rupanya, hal itu dianggap berbeda oleh Ade yang sejak tadi berperang dengan nafsunya. Direngkuhnya tubuh Rukmi dengan pandangan haus bak seribu tahun menahan dahaga. Oh, bagi Ade ini lebih dari sekedar seribu tahun, ini sudah sangat lama, bahkan Ade sendiri hampir kehilangan keperkasaan atas kelalaiannya. “Ini sudah sangat lama. Aku merindukan ini.” Manager Ade memiringkan kepalanya. Dia lepas kendali karena gelora nafsu yang menguasai dan memuncak di dalam dirinya. Dan kali ini, rindu nafsu dan buaian cinta sedang bergumul di hatinya. Menimbulkan rasa lain yang membuat dia butuh yang namanya pelepasan. “Aku sudah sangat lama merindukan kamu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN