BAB 16

2006 Kata
Kalimat Bian terngiang terus menerus seolah berputar otomatis di telinganya. Naya tak bisa membiarkan Bian terlalu lama menunggu. Dia juga tak ingin merusaj persahabatannya dengan Bian yang sudah terjalin sejak masih anak-anak. Dengan Ansel, dia hanya selalu mengesampingkan perasaannya sendiri. Apa memang begini risiko pacaran dengan publik figur yang digilai banyak orang. Dengan sisa tenaga yang dia punya, Naya mengumpulkan semua yang pernah dia lupakan saat hanya mengurung diri dalam kamarnya. Semangatnya, senyum manisnya juga impiannya yang turut tergeser dari otak dan pikirannya. Naya keluar kamar, perempuan remaja yang baru merasakan pahit manisnya cinta itu berniat memasak makan malam untuk Dinda. Dipikirnya, Bu Rena masih di kedai. Tapi rupanya Naya salah, di ruang tengah depan TV terdapat ibu dan anak sedang menonton sinetron terbaru Ansel. Ah, Naya menjadi teringat pada saat Ansel berperan sebagai pangeran dan Naya mengharapkan dirinya jatuh cinta pada pangeran seperti dia. Namun ketika harapan itu terwujud, dia kembali teringat pada hal menyakitkan yang dia lihat di apartemen Ansel. Naya memang sangat jauh berbeda dari Cleo Lisa. Benar kata Intan, Naya tidak ada apa apanya dibandingkan dengan kekasih masa lalu Ansel itu. Apa aku masih pantas disebut pacarnya? Sedangkan yang selalu mas Ansel cium adalah Lisa, lawan mainnya dalam sinetron tapi juga mantan kekasihnya. Tanpa terasa, di kedua matanya kembali terdapat genangan ketika semua kisahnya dengan Ansel terulang. “Naya. Sini, Nak. Temenin Dinda, biar ibu yang masak buat kalian,” ucap Bu Rena lembut. Dengan cepat dia menyeka buliran bening yang telah siap untuk jatuh itu sebelum terlihat oleh Bu Rena. Sudah tidak boleh lagi. Yang kemaren sudah cukup untuk rasa sakit karena Mas Ansel. Hari ini, tidak boleh lagi. Hatinya menguatkan dirinya sendiri. Naya berjalan mendekati Dinda lalu duduk menggantikan posisi Bu Rena di samping Dinda. Sementara Dinda bersama dengan Naya, Bu Rena bergegas ke dapur dan membuat masakan yang menjadi favorit Naya sejak dulu, semur daging sapi dengan kecap yang banyak. ***** Sedang di sofa apartemennya, Ansel tampak tak bersemangat melakukan apapun. Pikirannya mendadak teringat pada teman-teman band-nya. Naya yang tengah marah sekarang, membuat pikirannya kacau dan kisah kelam masa lalunya terulang terus menerus dalam pikirannya. Kemarahan Naya membuat Ansel teringat kembali kemarahan teman-teman band-nya. Ansel memandangi pigura foto yang di sana terdapat wajah teman-temannya dan juga dirinya yang sedang tertawa bahagia. Entah sudah yang ke berapa kalinya aku ingat masa bahagia sama kalian? Ansel kembali merasakan kehilangan semangat, dia tak punya alasan apapun lagi untuk membuat dirinya menjadi sukses dan semakin terkenal. Naya yang biasanya adalah penyemangat nya setelah kehilangan teman-temannya, kini telah tak ada di sisinya. Tidak! Ini hanya salah paham. Hatinya menyadarkan, bahwa kemarahan Naya hanyalah kesalah pahaman yang akan bisa membaik jika diluruskan dan dijelaskan. Sebab itulah, dia hendak menemui Naya dan akan menjelaskan semuanya. Semoga Naya bisa memaafkannya dan semangat itu kembali terasa dalam dadanya. Masih banyak pembuktian yang harus Ansel lakukan untuk mimpi mimpinya. Namun sebelum itu, Ansel mengirim pesan pada Lisa. Meminta wanita seksi yang merupakan mantan kekasihnya itu untuk tidak lagi menemuinya dengan alasan apapun, kecuali hanya di lokasi syuting. Di luar itu, Ansel meminta wanita itu untuk tidak lagi mengganggu hidupnya. Sial! Sepenting apa sih, cewek udik itu buat kamu? Lisa meremas handphonenya dengan tangan bergetar saat membaca pesan dari Ansel. Emosinya terlihat berapi-api dari tatapan matanya yang tajam. Lisa bersumpah akan membuat Ansel menyesal memilih wanita udik itu. Selesai mengirim pesan pada Lisa, Ansel pergi ke rumah Naya. Dia melajukan mobilnya membelah keramaian kota yang mulai padat karena sekarang jam pulang kerja. Ah, sial! Ansel kena macet. Dia terjebak di tengah jalanan yang masih jauh dari tempat kediaman Naya hingga senja yang sejak tadi menggantung di ufuk barat mulai berganti malam yang benar-benar telah datang, membuat lelaki tampan itu mengurungkan niatnya sebab malam benar benar telah larut. Rasanya, tak etis bila dia bertamu larut malam. Kemacetan memang selalu menjadi kendala urusan dan kepentingannya. Ansel memutar balik mobilnya ketika dilihatnya jam sudah mengarah ke angka setengah sebelas. Ansel tahu, wanitanya adalah perempuan seperti apa. Jadi dia akan menemui Naya besok. Sedang, di rumah Naya, wanita itu dengan Dinda juga Bu Rena mulai menikmati makan malam yang merupakan hasil masakan Bu Rena. Naya tak begitu menikmati, tapi dia memaksakan mulutnya untuk mengunyah dan menelan masakan yang sudah susah-susah Bu Rena masak untuk dia. “Gimana, Nay? Enak?” tanya Bu Rena sengaja memancing anak gadisnya untuk bicara. Naya tersenyum sembari mengangguk. Makanan di piringnya mulai bersisa seperempat. Sedangkan milik Dinda dan Bu Rena sudah tinggal suapan terakhir. “Habis ini Dinda langsung ke kamar, ya.” Bu Rena membelai rambut sebahu milik Dinda dengan lembut. Dinda mengangguk menyuapkan suapan terakhir ke mulutnya, lalu kemudian menenggak segelas air dan lalu masuk ke kamarnya. Kini, tinggallah Naya dengan Bu Rena. Hening menguasai beberapa saat. Tapi kemudian Bu Rena kembali memulai pembicaraan untuk membuat anak gadisnya bicara. “Nay, dalam cinta itu tak hanya ada rasa bahagia saja, ada banyak macam-macam rasa di dalamnya. Ketika kamu siap jatuh cinta, maka kamu juga harus siap patah hati,” ucap Bu Rena lembut. Dia berpindah ke tempat duduk Dinda dan mengusap rambut anak gadisnya. Naya hanya diam, tak menanggapi meski, tapi diam-diam dia mendengar setiap kata yang Bu Rena ucapkan. Benar, patah hati. Naya tahu sekarang, nama penyakit yang dideritanya belakangan ini adalah patah hati. Dan rasanya sungguh tak enak, seperti ada yang menghimpit dadanya sampai terasa sesak. Ada yang berdenyut disertai rasa sakit di dalam dadanya. Ternyata patah hati namanya. Aku pikir aku hanya akan terus bahagia ketika bersama dengan mas pangeran. “Aku mau bacain dongeng buat Dinda.” Naya bangkit dengan wajahnya masih tampak sayu. Kenapa kamu nggak mau cerita ke ibu, Nay? Naya berlalu, sedang Bu Rena menatap punggung Naya dengan hatinya yang juga terasa diiris karena sikap Naya yang belum terbuka padanya. Naya bukan tak mau cerita, dia hanya tak ingin membuat ibunya khawatir. Dalam hatinya, dia berjanji akan menceritakannya suatu saat. Sekarang, ada hal yang lebih penting untuk dia selesaikan lebih dulu. Perasaan Bian. Ya, sahabat kecilnya itu tak bisa menunggu lebih lama. Naya teramat menyayanginya seperti layaknya seorang kakak. Dan Naya menganggapnya begitu. Setelah selesai dengan dongeng Cinderella untuk Dinda seperti biasa, Naya bergegas ke rumah Bian. Jarak rumah Bian yang teramat dekat, membuat Naya cepat sampai dan seperti biasa, Naya langsung masuk sebab mereka memang sudah sangat dekat. Tak hanya dengan Bian, dengan ibu dan bapak Bian juga Naya sangat akrab. Naya merasa punya bapak dan ibu lagi selain Bu Rena dan Pak Leo. "Naya, ada apa?" Bian tampak bersemangat melihat kedatangan sahabatnya, sebab dia pikir setelah dia menyatakan perasaannya Naya akan menjauhinya lantaran marah padanya. Tapi ternyata tidak! Buktinya Naya datang ke rumahnya sekarang. "Bi, aku kesini cuma mau bilang kalo aku ..." Naya mendadak kehilangan kata katanya. Apa Bian nggak bakalan marah, ya? "Duduk dulu, Nay," ajak Bian membawa Naya ke ruang tamu yang langsung mengarah ke taman samping rumahnya. "Aku ambilin minum, ya. Udah lama banget lho elo nggak kesini," tutur Bian mencoba mencairkan suasana yang terlihat mulai kaku. Hal inilah yang dia takutkan setiap kali akan mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Dia tak ingin terasa ada jarak yang membentengi antara dia dan Naya. "Eh, nggak usah, Bi. Aku cuma sebentar kok, kamu mending duduk lagi deh," pinta Naya yang segera dituruti oleh Bian. "Aku kesini cuma mau minta maaf. Aku nggak bisa bales perasaan kamu sebab aku ... aku sudah anggap kamu kayak abang aku sendiri, Bi. Aku gak bisa rusak jalinan erat diantara kita hanya karena perasaan yang bisa bisa bakal hancurin itu semua. Maafin aku, Bi." Naya berucap dengan mata berkaca-kaca. Dia takut Bian tersinggung dan pada akhirnya jalinan erat itu akan hancur. Sama saja bohong jika hal itu sampai terjadi. Tapi Bian justru tersenyum. Tak ada goresan luka atau apapun itu dalam sorot matanya. "Ini baru Naya yang gua kenal," ucapnya sembari terus tersenyum. Naya turut tersenyum. Hatinya merasa lega sebab telah bisa menyelesaikan satu masalahnya. Dia bisa tidur dengan sedikit nyenyak malam ini. ***** Pagi pagi sekali, Ansel sudah ada di jalan menuju gang rumah Naya, dia akan menemui Naya secepatnya agar hatinya bisa berhenti menuntutnya yang sejak dua malam terakhir membuat dia susah tidur. Tapi di jalan kecil di Gang rumah Naya, Ansel bertemu Bian dengan seragam futsalnya. Rupanya, Bian adalah wujud Naya versi cewek. Untuk urusan olahraga memang lelaki itu bisa dikatakan sangat rajin. Hanya saja otaknya tak seencer otak Naya saat di sekolah. Lelaki yang merupakan sahabat Naya sejak kecil itu menarik kerah baju Ansel dengan tatapan mata berapi-api. “Kalo Lo Cuma mau main main sama Naya, mending mulai sekarang elo jauh jauh dari dia!” Bian benar benar emosi karena artis cowok yang sok ganteng itu masih berani datang ke rumah Naya setelah membuat sahabatnya sakit hati dan menangis hampir dua hari. “Gue nggak akan pernah jauhin apapun hal berharga yang gua punya!” Ansel mencengkeram tangan Bian lalu menariknya dengan kasar untuk melepaskan kerah baju yang dikenakannya. “Gue bukan pecundang kayak Lo, gue datang ke sini karena gue tahu apa yang hati gue mau.” Kalimat Ansel telak membuat Bian merasa bahwa dirinya jauh lebih buruk dari Ansel. Bahkan dia menyatakan perasaannya dan meminta Naya menjadi pacarnya ketika gadis itu masih status pacar Ansel. Ansel berlalu setelah dengan kasar menepis tangan Bian. Pintu rumah Naya dia ketuk berulang kali sebab tak kunjung ada jawaban dari dalam. Ansel memutuskan menghubungi Naya tapi nomer gadis itu belum juga diaktifkan dari saat melihat Lisa mencium pipi Ansel di apartemennya. Ah, sial! Belum diaktifin. “Apa nggak ada orang, ya?” Ansel duduk di emperan rumah Naya. Menunggu gadis itu atau siapapun penghuni rumah ini membukakan pintu untuknya. Gue bakal tungguin Lo, Ver. Tak berapa lama, Pak Leo datang menepuk pundak Ansel yang sedang melamun, entah apa yang dilamunkan lelaki yang merupakan aktor terkenal itu. Pak Leo mengajak Ansel masuk dengan tak lupa mengajak foto dan meminta tanda tangan lelaki itu. Nggak nyangka ada artis terkenal datang ke rumah. Bisa-lah buat nambah rame restoran. Hatinya terkekeh membayangkan Ansel setiap hari membantunya mendatangkan banyak pengunjung. Ah, bayangin apa sih, aku? "Ayo masuk masuk," ajaknya membuka pintu mempersilahkan Ansel masuk. Lelaki yang wajahnya sedikit kusut itu menurut masuk dan duduk di sofa yang semalam diduduki Naya dengan Dinda. Entah kemana dua orang itu sekarang? Tapi Pak Leo memanggil Naya sebab tak seperti biasanya, anaknya Naya tidak ada di rumah di hari Minggu seperti ini. Pak Leo berpikir, mungkin artis papan atas yang sekarang datang ke rumahnya sedang ingin diajari rumus sekolahan untuk kepentingan syuting. Dia tak menanyakannya lebih jelas. Sebab setaunya, anak gadisnya yang telah menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas itu belum memiliki pacar. "Nay, ada artis yang ganteng itu loh di depan. Dia nyariin kamu," ucap Pak Leo sembari mengetuk pintu kamar Naya. Tapi tak ada sahutan dari dalam. Pak Leo memutar handle pintu kamar Naya, ternyata di dalam kosong. Pak Leo mengecek ke kamar Dinda, pun kamarnya kosong. Padahal saat tadi Bu Rena dan Pak Leo akan berangkat ke kedai makan mereka, kedua anak mereka sedang bermain di ruang tengah tempat Ansel duduk sekarang. Kemana anak-anaknya itu? Pak Leo menemui Ansel. Memberitahukan bahwa kedua putrinya sedang tidak ada di rumah. Dan dia tidak tahu kemana mereka pergi sebab tadi dia berangkat pagi bersama istrinya, keduanya masih ada dan sedang bermain. Pak Leo kembali ke rumah karena dompet dan handphone-nya ketinggalan. Dan anak-anaknya sudah tidak ada. Mendengar penuturan Pak Leo, Ansel pun pamit. Tak mungkin jika dia menunggu Naya kembali di rumah gadisnya, sedangkan dia sendiri tak tahu kemana Naya pergi dan kapan gadis itu akan kembali? Pak Leo mengantar Ansel ke depan. Namun sesampainya di depan rumah, Pak Leo melihat Dinda berjalan masuk tapi kemudian berlari keluar lagi. "Kak, ada Pangeran!" teriaknya pada kakaknya yang sedang berjalan menyusul di belakangnya. Naya sedikit tak percaya pada apa yang dikatakan adiknya, sebab rasanya itu adalah hal mustahil jika mas pangerannya tiba-tiba datang ke rumahnya. Jika memang dia ingin Naya kembali, seharusnya sudah dari dua hari yang lalu lelaki itu menyusulnya. Tapi rupanya apa yang dikatakan Dinda benar, dia melihat wajah tampan itu sedang berdiri di teras rumahnya sedang mengobrol dengan Pak Leo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN