BAB 15

2053 Kata
Naya masih saja mengurung diri di kamar. Dia belum juga mau keluar, rasanya dia hanya ingin tidur dan tidak melakukan apa-apa. Bu Rena mulai khawatir, dia mengetuk pintu kamar Naya berulang kali. Tapi rupanya gadis remaja yang sedang patah hati itu belum juga merespon panggilan sang ibu. “Nay, apapun masalah kamu, ibu siap dengerin semuanya. Buka pintunya, Sayang,” bujuk Bu Rena dengan sambil mengetuk pintu kamar anaknya. Dia sudah kehabisan akal untuk merayu putrinya yang sedang mengunci diri di kamarnya. “Bapakmu sudah berangkat dari pagi tadi, tapi ibu nggak bisa pergi ninggalin kamu dengan keadaan kayak gini. Buka pintunya, Nay.” Bu Rena mulai frustasi. Dari semalam dia bolak balik dari kamarnya ke kamar Naya hanya untuk mengecek apakah Naya membuka pintu kamarnya atau tidak. Tapi bahkan sampai hari mulai semakin terik, Naya masih saja berdiam di kamarnya. Apa dia dibebaskan dari rasa lapar dan dahaga? Memang penyakit hati yang belum juga Naya tahu namanya itu membuat dirinya merasa tak mengenali dirinya. Hilang sudah semangat yang biasanya selalu memecut hati dan pikirannya untuk terus sekolah dan belajar. Menyebut belajar, Naya hari ini bolos. Tak masuk sekolah bahkan tanpa keterangan apapun. Dan Naya sendiri, tak peduli. Yang dia pedulikan saat ini adalah, dia ingin membuat hatinya tenang tidak lagi terasa perih di dalamnya. Sedang di tempat dia bersekolah, tepatnya di SMA Negeri Harapan, Pelajaran berlangsung seperti biasanya. Hanya saja suasana kelas mendadak tegang sebab Bu Ondi tak henti mengomel karena tak ada satupun yang bisa menjawab soal-soal yang dia berikan. Memang Naya adalah malaikat di kelas sebelas. Dia adalah Dewi penyelamat yang sekarang dirindukan oleh teman-temannya karena tanpanya, mereka semua mendapat hukuman sekelas oleh Bu Ondi. Nay ... Elu kemana, sih? Kenapa tumben banget ga masuk? Semuanya serentak memikirkan Naya. Tak terkecuali Bian dan Intan. Keduanya saling berbicara lewat isyarat mata karena di depan kelas, terdapat mata elang Bu Ondi yang siap menelan siapapun yang tidak menyelesaikan soal yang merupakan hukuman untuk semuanya. Kriiiing ... Bel berbunyi seolah adalah irama penyelamat bagi semua siswa siswi kelas sebelas. Tapi rupanya itu belum berakhir, sebab Bu Ondi akan membuat kerja kelompok untuk semua siswa siswinya. Bu Ondi menugaskan setiap kelompok untuk membuat rangkuman terkait semua rumus yang sudah pernah dijelaskan olehnya. Dia membagi kelompok menjadi lima bagian dengan setiap kelompok terdiri dari delapan siswa dan siswi. “Bi ... Sini deh.” Intan melambaikan tangan, ketika tengah duduk di kantin memikirkan Naya, sahabatnya yang tidak masuk sekolah. Intan memanggil Bian yang baru datang ke sana. Bian pun mendekat. Meski sebenarnya ada hal lain yang ingin dikerjakannya sekarang. Lelaki itu ingin sekali bolos dan menemui sahabat kecilnya yang tak datang ke sekolah. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Naya. “Ada apa, Ntan?” Bian mengambil tempat berhadap-hadapan dengan Intan yang sedang mengaduk es teh manis tapi tidak dia minum sama sekali. “Elo tau nggak, Naya kemana?” tanya Intan setibanya Bian di hadapannya. Lelaki itu hanya menggeleng. Belum hilang sifat cuek dan diamnya pada Intan. Ya hanya dengan Naya lelaki itu bebas berkata kata. Dengan Intan l, dia seperti tak punya selera untuk bicara. Please deh, Bi. Kali ini aja elu anggap gua Naya. Ngomong ma elu kek ngomong ma mainan. Kalo ga ngangguk, geleng. “Kok bisa nggak tau, sih? Kan elo tetanggaan sama dia?” tanya Intan lagi. Dia sebenarnya sedikit kesal pada Bian. Karena lelaki itu tidak bicara terus terang dan hanya menjawab dengan gelengan kepala. Intan nggak suka. Bian menggeleng lagi. Intan tak bisa lagi menahan diri. “Elo bisa nggak sih, jawab gua pakek mulut? Jangan Cuma geleng-geleng doang.” Bian melihat wajah kesal Intan. Pertama kalinya, gadis itu terlihat cantik dengan mimik wajah seperti itu, eh. Kenapa baru hari ini Bian melihatnya? Ya, karena selama ini Intan hanya selalu mengoceh dan heboh membicarakan idola remaja dan orang tua, Ansel. Teringat nama itu, Bian merasa bahwa alasan Naya tidak masuk dan tak ada kabar seperti ini adalah karena laki laki itu. Awas aja! Aku akan membuat kamu menyesal membuat Naya kehilangan semangat seperti yang biasa menjadi identitas diri Naya. Dengan perasaan yang tak menentu, Bian bertahan hingga kelas benar benar selesai. Dia tak bisa pulang lebih awal sebab pasti akan membuat Naya marah dan mengomelinya. Bian nggak suka ketika Naya marah padanya. Dia hanya ingin Naya selalu tersenyum dan memberinya semangat serta pujian. Ah, Nay. Elo kenapa nggak masuk, sih? Bian mempercepat langkahnya untuk segera sampai ke parkiran. Dia ingin segera ke rumah Naya dan menemui gadis yang dia idam idamkan menjadi kekasihnya. “Bi, Tunggu!” Suara Intan terdengar ketika dia akan menaiki motor CBR150R kesayangannya. Bian menoleh, dan benar Intan sedang berlari ke arahnya. Ada apa lagi, sih? Bian tak ingin membuang-buang waktu. Dia ingin segera melihat Naya-nya dan mengetahui penyebab gadis itu tak masuk hari ini. “Hosh hosh hosh ... Gua ikut, hosh hosh ...” Intan ingin menumpang untuk ke rumah Naya. Baru lari dengan jarak yang hanya beberapa meter, Intan sudah ngos-ngosan. Sepertinya memang dia hanya ahli dalam hal bicara. Hanya mulutnya saja yang kuat bekerja walau seharian sekalipun. Untuk kaki dan yang lainnya, dia rupanya amat lemah dan tak bisa diandalkan. Baiklah, kembali pada Naya. Rupanya gadis itu mulai membuka pintu kamarnya dan pergi ke dapur untuk mengambil air. Entah, karena dia lupa atau sengaja tak dikunci lagi, tapi pintu kamarnya dibiarkan terbuka. Dia menenggak air yang baru diambilnya hingga tak bersisa setetes pun. Tapi kemudian, setelah air yang dia tenggak habis tak ada sisa, gadis itu kembali masuk ke balik selimut. Menyembunyikan wajah dan tubuhnya di dalamnya. Rupanya tempat ternyaman untuk Naya saat ini adalah berada dalam balutan lembut selimut tebal yang biasa dia pakai. Naya tidak merasa lapar sama sekali. Hanya tenggorokannya terasa kering sebab hampir semalaman dia menghabiskan banyak sekali stok air mata. Jangan jangan habis minum, air yang masuk jadi air mata lagi. Naya tak mau menangis lagi. Matanya sudah bengkak seperti habis dikeroyok ratusan fans Ansel yang tak terima dengan semua yang dia ucapkan pada idola mereka. Ah, kenapa Naya malah menyesali ucapannya sendiri? Belum selesai semua ingatannya tentang kalimat kalimat yang dia ucapkan pada Ansel kemarin, sebuah ketukan dengan terlihat sosoknya di ambang pintu, menghentikan otaknya yang sejak tadi memutar ulang kalimat yang Naya ucapkan ketika akan pergi dari apartemen Ansel. “Nay. Ada Bian sama Intan di luar. Mereka nanyain kamu kenapa nggak masuk?” Bu Rena hari ini tidak ke resto lagi. Dia menghawatirkan keadaan Naya sejak semalam. Dan siang ini, dia sedikit lega karena melihat gadisnya keluar walau hanya mengambil segelas air. Ingin rasanya Bu Rena menghampiri Naya dan mengajaknya bicara. Tapi hatinya menahannya untuk tidak melakukannya sekarang. Dipikirnya, Naya butuh waktu untuk beradaptasi dengan keadaan yang membuat dia memilih menyendiri sejak kemarin. Semoga kau cepat bangkit, Nak. Bu Rena menunggu jawaban dari sosok di balik selimut itu. Tapi ternyata tak ada sahutan apapun dari sana, hingga Bu Rena memutuskan menemui Bian dan Intan yang sejak tadi menunggu di ruang tengah depan TV. “Maaf ya, Bi, Intan.” Bu Rena duduk berhadapan dengan kedua sahabat anaknya sebelum akhirnya dia melanjutkan kalimatnya. “Naya dari kemarin memang mogok semuanya. Mogok makan, mogok ngomong. Dan sekarang, dia mogok buat ketemu orang lain,” ucap Bu Rena dengan mata berkaca-kaca menatap satu persatu pada Intan dan Bian. “Boleh Intan sama Bian bujuk Naya, Tante? Siapa tau aja, abis ngobrol sama kita, dia mau cerita,” tawar Intan agak sungkan. Sebab ini kali pertamanya dia bertatap muka dan bicara dengan ibu Naya. Bu Rena tentu saja mengangguk. Dia sebenarnya sudah akan meminta tolong mereka untuk mengajak ngobrol anaknya itu, tapi dia urungkan sebab Intan telah lebih dulu menawarinya. Bian dan Intan bangkit bersamaan. Mereka memasuki kamar Naya yang tak bergitu luas tapi amat rapi dan bersih. “Hai, Nay. Ini gue Intan. Gue Dateng sama Bian, nih.” Intan duduk di sisi ranjang Naya sembari mengusap tubuh Naya yang tertutup selimut tebal di sana. Naya tak menjawab, lagi lagi dia hanya diam. Sebenarnya Naya ingin menyuruh mereka pulang karena sekarang Naya hanya ingin sendiri. Tapi rasanya tak tega jika hal itu dilakukannya. Hingga kemudian Naya menjawab dengan suara lirih. ”Aku kecapekan doang, kok.” Naya membohongi dirinya sendiri bahwa sekarang dalam hatinya seperti ada belati yang terselip membuat perih di dalamnya. “Nay. Elo kalo ada masalah. Lo cerita sama kita, kita pasti bantuin kok,” ucap Intan seraya menepuk pundak Naya yang menyembul di balik selimut. Sepertinya, gadis yang sedang berlindung di balik selimut itu, posisi tubuhnya sedang miring ke kanan. Tak ada jawaban dari sana. Hanya isakan lirih tapi terdengar ke telinga Bian dan Intan sebab suasana kamar yang sepi. Ya, Intan dan Bian sama sama terdiam sehingga isakan dari selimut yang ditimbulkan oleh tangis Naya di dalamnya terdengar cukup jelas. Intan menoleh pada Bian. Mengisyaratkan pada lelaki itu agar kali ini dia yang bicara. Sementara Intan sebelum dia memberi kesempatan Bian berbicara pada Naya, sahabat Naya yang terkenal bawel dan heboh itu berpamitan. Pamit keluar meski tak mendapat respon dari orang yang diajak bicara. “Gue pamit ya, Nay. Pokoknya, kalo elo udah siap cerita, gue selalu ada buat jadi pendengar dan tempat mengeluh buat elo. Ceper pulih ya, Nay.” Intan pun keluar dengan sebelum dia memutuskan menutup pintu, dia menoleh pada Naya. Berharap sahabatnya itu bangun dan keluar dari selimut yang menutupi tubuh serta wajahnya. Sekarang, tinggal Bian dengan perasaan yang tak bisa dipahami oleh si pemilik rasa itu. Bian muak dengan sifat pecundangnya sendiri. Coba saja dia bisa menyatakan perasaannya lebih dulu dari si artis sok ganteng itu, sudah pasti Naya tak akan seperti ini. Sebab Bian tak akan membiarkan itu terjadi pada Naya-nya. Elo kenapa sih, Nay? Bian duduk menggantikan tempat Intan yang tadi. Dia mulai mengajak Naya bicara. “Nay, elo sakit? Apanya yang sakit?” tanya Bian sama polosnya. Tak ada sahutan dari Naya. Dia masih terdengar terisak dari balik selimut. “Elo boleh marah. Elo boleh kecewa, tapi inget orang orang di sekeliling Lo. Mereka khawatir sama Lo, Nay. Elo ngga boleh kelamaan kayak gini.” “Apa sih yang bikin elo begini? Aktor yang nggak ada kharisma itu, ya? Gua bakal samperin dia, kalo perlu gua bilang ke semua orang kalo artis yang mereka idola idolakan nggak sebaik yang mereka pikirkan.” “Nay. Kalo dia udah nyakitin elo, buat apa Lo nangisin dia? Ga guna. Di sini masih ada gue yang bakal selalu ada buat elo. Gua sayang sama elo, Nay. Gua benci liat elo kayak gini. Gue gak bisa liat elo kayak begini.” Suara Bian terdengar serak. Ada emosi tapi juga terdapat rintihan rasa yang pada akhirnya tumpah hari ini. Bian tersadar pada apa yang sudah diucapkannya. Sudah basah, sekalian menyelam aja, itulah kalimat yang pas untuk yang sudah Bian ucapkan barusan. “Kalo elo Cuma sakit sama Si Ansel, gue siap gantiin dia buat ngegantiin semua air mata Lo yang udah tumpah karena dia. Gue sayang banget sama elo, Nay.” Sekali lagi rasa itu dia utarakan dengan sungguh sungguh. Ada butiran bening di telaga kecil milik Bian. Naya masih belum bergerak. Bian menarik selimut yang menutupi tubuh Naya. Lalu Bian dengan seluruh kekuatan yang dia punya. Dia tarik tubuh Naya agar duduk dan menatapnya. “Gue nggak suka elo nangis karena orang modelan Ansel. Orang kayak dia nggak pantas elo tangisi. Di sini ada gue. Gue nggak akan buat elo nangis kayak gini. Terima gue buat jadi pacar yang bisa lindungin elo,” ucap Bian menatap netra cokelat milik Naya yang bengkak kebanyakan menangis Naya tak menjawab, hanya tangisan itu lagi yang menjadi bahasanya kali ini. Membuat keyakinan Bian bertambah berkali kali lipat bahwa penyebab Naya seperti ini adalah Si artis yang sok ganteng itu. Oke. Gue bakal buat perhitungan sama dia! Bian bangkit, meninggalkan sesosok tubuh yang mulai merasa bersalah atas kekacauan hari ini. Ya, kekacauan yang dia buat sebab menangisi Ansel hampir dua hari dua malam. Naya menatap punggung sahabat yang barusaja menyatakan perasaannya. Kenapa, Bi? Apa karena elo kasian liat keadaan gue sekarang? Naya mulai bisa menata sedikit demi sedikit perasaannya. Pernyataan cinta dari sahabatnya membuat dia berpikir bahwa dia harus terlihat bahagia walau apapun yang terjadi. Naya tak bisa terus terusan berada di zona terendah dan terpuruk. Naya mulai bangkit, masuk ke kamar mandinya lalu membasuh mukanya. Dia tersenyum kecut ketika melihat pantulan dirinya dalam cermin di depannya. Aku bukan Naya yang lemah. Hatinya menguatkan. Sedang di ruang tengah tampaklah Bian dengan Intan yang berjalan menuju teras dengan diikuti oleh Bu Rena. Keduanya pamit dengan praduga masing-masing. Tapi meski pikiran keduanya berbeda, satu harapan mereka sama, semoga Naya cepat bangkit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN